140521024758 beatrice zoom

140521024758_beatrice_zoomBerawal dari hobi, Sacharissa Indriani menekuni bisnis kreasi kuku palsu. Tuntutan merawat diri lebih cantik menjadikan semangatnya menekuni bisnis itu hingga mendatangkan fulus besar.

Ia mengawali hobinya sejak sekolah menengah pertama (SMA). Saat itu, wanita kelahiran Jakarta tersebut lebih suka perawatan manicure (fokus ke tangan dan kuku). “Tapi kegemaran saya ke salon hanya untuk manicure lebih sering saat kuliah dan bekerja karena sudah memiliki penghasilan,” kata Sacharissa.

Semakin sering melakukan perawatan kuku, ia berharap bisa menekuni hobinya menjadi sebuah bisnis yang mampu mendatangkan uang. “Saya seperti tidak bekerja bila menekuni hobi. Ini seperti main-main tapi bisa mendatangkan duit,” katanya.

Sejak 2013, ia membulatkan tekad ikut kursus kerajinan tangan khusus kecantikan kuku. Kegiatannya dilakukan selepas kerja atau akhir pekan. Karena berawal dari hobi, ia menjadi semakin ketagihan belajar seni merawat kuku.

“Semua orang yang memiliki tangan pasti punya kuku. Khusus wanita yang ingin tampil modis, bisa menambah aksesori kuku palsu biar semakin gaya. Ini menjadi peluang bisnis yang jarang dilirik,” ujarnya.

Setelah mahir membuat kreasi kuku palsu, ia mencoba membuat kreasi sendiri dan menawarkan ke teman-temannya. Tak disangka hasil kreasinya diminati masyarakat, terutama kaum wanita.

Untuk lebih memperluas pasar, ia juga ikut berpartisipasi dalam bazar yang diselenggarakan pusat perbelanjaan di Ibu Kota. Peminat hasil kreasinya semakin membeludak. “Ternyata hasilnya positif sekali. Dalam tiga hari semua kuku palsu yang saya buat hampir habis,” ujarnya.

Mendapat semangat dari tingginya penjualan saat itu, Sacharissa mencoba meningkatkan produktivitas kuku palsunya. Ia pasarkan hasil produksinya via media sosial. Hasilnya, pelanggan berdatangan dari Jakarta, Surabaya, Medan, dan Singapura.

Agar tidak ketinggalan mode terbaru, ia juga sering mengamati hasil kreasi kuku palsu melalui media atau sering-sering datang ke pusat perbelanjaan untuk mengamati kegemaran orang. “Tantangannya bagaimana kita bisa terus berkreasi membuat desain nail art yang unik dan berbeda agar pelanggan tidak cepat bosan karena ketinggalan zaman,” tuturnya.

Kuku palsu buatannya diklaim memiliki keunggulan khusus karena lebih tahan lama dibanding yang tersedia di salon umum. “Kuku palsu yang ada di salon umum biasanya sekali pakai. Hasil kreasi saya bisa digunakan sampai dua minggu. Selain itu lebih ramah lingkungan,” ujarnya.

Untuk memakai kuku palsu hasil kreasinya cukup mudah. Kuku palsu hasil kreasi bisa direkatkan menggunakan lem cair dan double tape khusus kuku. Jenis kreasi kuku palsu terdiri atas dua macam yaitu 2D print dan 3D print handmade gel polish.“Kuku palsu tetap bisa menempel meski dipakai mandi,” katanya.

Berkat ketekunannya, usaha yang baru ditekuni sekitar setahun ini mampu menghasilkan omzet sekitar Rp 20 juta hingga Rp 50 juta per bulan. “Harapannya bisa lebih tinggi lagi,” katanya.

20140608_180151

Pangkas Waktu Bermain

Menjalankan bisnis meski berawal dari hobi selalu ada rintangannya. Sacharissa mengaku tantangan terberat menjalankan usaha produksi kuku palsu ada di awal. Ia harus meluangkan waktu untuk belajar di saat orang lain sedang beristirahat.

“Kadang rasa malas timbul bahkan iri juga melihat orang lain bisa beristirahat. Tapi saya tidak mau melanggar tekad pergi kursus,” katanya.

Ia mengaku membangun sebuah usaha perlu upaya keras terutama ketekunan dan keberanian. Kedua modal itu dianggap lebih diperlukan sebagai bekal wirausaha dibanding modal berupa materi.

“Kalau bicara modal awal sebetulnya tidak besar, hanya butuh Rp 30 juta. Modal itu untuk membeli berbagai macam peralatan produksi kuku palsu. Tapi tanpa ketekunan dan keberanian bisa jadi peralatan itu hanya menjadi barang usang di gudang,” tuturnya.

Ia mengatakan investasi yang lebih mahal selain mental yaitu pengetahuan. Ia rela mengeluarkan investasi besar dengan mengikuti kursus pembuatan kuku palsu. Agar terus bertahan, ia pun harus meningkatkan kemampuannya berkreasi dengan terus mengikuti mode terbaru. “Jangan melihat orang lain sukses lalu berpikir mengikuti bidang yang sama pasti sukses. Tapi carilah bidang yang kamu sukai lalu pelajari dan tekuni,” tuturnya.

Profil pengusaha:

Nama: Sacharissa Indriani

Tempat dan tanggal lahir: Jakarta, 13 September 1989

Pendidikan: S1 Finance di Central University of Finance and Economics Beijing, China

Profil usaha:

Nama: Vea Nail Art

Berdiri: Juni 2013

Kontak Usaha: Instagram veanailart, www.veanailart.com

By Didik Purwanto

Copywriter | Ghost Writer | ex Business Journalist | Farmer

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *