iPhone X vs Samsung Galaxy Note 8 4iPhone X versus Samsung Galaxy Note 8. Foto: Android Authority

Lembaga riset International Data Corporation (IDC) menyatakan, Apple melampaui Samsung pada kuartal IV-2017 sebagai produsen ponsel cerdas (smartphone) terbesar di pasar global. Apple mampu menjual 77,3 juta iPhone, turun 1,3 persen (yoy) dengan pangsa pasar 19,2 persen.

iPhone X vs Samsung Galaxy Note 8 4
iPhone X versus Samsung Galaxy Note 8. Foto: Android Authority

 

Samsung Electronics menjual 74,1 juta smartphone dengan pangsa pasar 18,4 persen, disusul Huawei (10,2 persen), Xiaomi (7 persen), dan Oppo (6,8 persen).

“Secara keseluruhan, penjualan smartphone turun 6,3 persen menjadi 403,5 juta perangkat yang dikirim,” kata Manajer Riset IDC Anthony Scarsella.

IDC menyatakan, data menunjukkan konsumen tampak tidak terburu-buru mengganti ponsel mewahnya, seperti yang baru dirilis Samsung dan Apple. “Ponsel flagship terakhir mungkin memicu konsumen menekan tombol jeda di akhir tahun. Perangkat ponsel mewah tersebuut membuktikan tidak terlalu dibutuhkan pengguna ponsel cerdas,” ujarnya.

Analis IDC Jitesh Ubrani mengatakan, saat merek teratas memperluas penawaran, merek di luar lima besar berjuang mempertahankan momentum.

IDC menyatakan, penjualan smartphone sepanjang 2017 turun 0,1 persen menjadi 1,47 miliar unit. Samsung melaporkan penurunan 4,4 persen, tetap menjadi vendor smartphone teratas sepanjang tahun dengan pangsa 21,6 persen, diikuti Apple 14,7 persen.

Huawei membelakangi dengan pangsa 10,4 persen, diikuti Oppo 7,6 persen dan Xiaomi 6,3 persen. Huawei telah berusaha mengembangkan pangsa pasarnya meski gagal menyepakati dengan operator Amerika Serikat (AS) seturut kebijakan AS yang membatasi ekspansi vendor asal China.

Analis Strategy Analytics Linda Sui mengatakan, pangsa pasar yang sama untuk vendor smartphone. Namun, penjualan ponsel pada kuartal IV-2017 turun 9 persen, penurunan terbesar di era smartphone.

“Penyusutan dalam pengiriman smartphone disebabkan pasar China yang jatuh. Permintaan turun 16 persen per tahun karena tingkat penggantian lebih lama, lebih sedikit subsidi operator, dan model ponsel mewah kurang,” katanya.

By Didik Purwanto

Copywriter | Ghost Writer | ex Business Journalist | Farmer

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *