Ngarep desanya mendapat cuan karena menjadi tempat pengasingan bangsawan, malah satu desa mendapat beban. Review The King’s Warden menjadi film biografi terepik tahun ini. Bahkan film tersebut sudah ditonton lebih dari 16 juta orang di Korea. Hebatnya lagi, film The King’s Warden menjadi salah satu film terlaris sepanjang masa di Korea. Kok bisa?
Ringkasan
Review The King’s Warden
Gimana rasanya menjadi raja saat masih belia tapi langsung digulingkan, diasingkan bahkan dihabisi oleh pamannya sendiri? Inilah Review The King’s Warden (judul asli: Wanggwa Saneun Namja atau The Man Who Lives with the King) yang baru saja dirilis tahun 2026 ini dan dibintangi oleh Park Ji-hoon.
Kalo udah nonton drama Korea Weak Hero, udah pasti mengenal penyanyi yang sebentar lagi berulang tahun ke-26 pada 29 Mei ini. Apalagi kalian penggemar Wanna One.
Film The King’s Warden sangat viral karena Park Ji-hoon memerankan tokoh sejarah yang sangat tragis. Film ini berlatar tahun 1457 pada masa Dinasti Joseon. Ceritanya fokus pada masa pengasingan Raja Danjong (diperankan oleh Park Ji-hoon), raja muda yang dikudeta oleh pamannya sendiri, Raja Sejo.
Danjong diasingkan ke sebuah desa terpencil bernama Cheongnyeongpo di Yeongwol. Di sana, ia diawasi oleh seorang kepala desa bernama Eom Heung-do (diperankan oleh Yoo Hae-jin).
Awalnya, Heung-do hanya peduli pada uang dan berharap desanya makmur karena menampung “bangsawan”. Namun, ia terkejut saat mengetahui bahwa tawanan yang harus ia “jaga” (warden) adalah sang mantan raja yang masih remaja dan kesepian.
Film ini menggambarkan hubungan emosional yang tumbuh antara si sipir desa yang kasar tapi baik hati dengan raja muda yang kehilangan segalanya.
Apakah The King’s Warden Cerita Nyata?
Ya, Review The King’s Warden ini berdasarkan sejarah asli yang sangat terkenal di Korea.
Raja Danjong adalah raja ke-6 Joseon yang memang naik takhta di usia 12 tahun dan digulingkan oleh pamannya.
Eom Heung-do juga tokoh nyata, seorang pejabat rendah yang setia kepada Danjong hingga akhir hayatnya.
Namun hubungan akrab dan dialog sehari-hari antara mereka di tempat pengasingan adalah hasil imajinasi kreatif sutradara Jang Hang-jun untuk mengisi celah sejarah yang tidak tercatat secara detail.4
Bagaimana Ending Cerita The King’s Warden? (Spoiler!)
Sesuai dengan catatan sejarah, ending film Review The King’s Warden ini sangat menguras air mata (tragis):
Hukuman Mati
Meskipun rakyat dan beberapa pejabat (seperti paman lainnya, Pangeran Geumseong) mencoba melakukan pemberontakan untuk mengembalikan Danjong ke takhta, usaha itu gagal. Raja Sejo akhirnya mengirimkan perintah hukuman mati (minum racun) kepada Danjong.
Kematian Danjong
Park Ji-hoon memberikan performa yang luar biasa saat Danjong menerima takdirnya dengan tenang namun penuh kesedihan di usia yang baru 16 tahun.
Sebenarnya, dia juga mendapatkan titah Rasa Sejo untuk meminum racun. Tapi saat algojo meminta Danjong keluar halaman, dia bergeming, nggak mau keluar kamar. Akhirnya, kepala desa Eom Heung-do diminta membujuk Danjong.
Ternyata pada malam sebelum eksekusi, Danjong memerintahkan kepada kepala desa untuk membunuh Danjong memakai tali. “Lebih baik aku mati di tanganmu (kepala desa) daripada aku mati minum racun (di tangan Raja Sejo),” kata Danjong.
Jadi, Danjong kan ditaruh di sebuah kamar. Lantas dia memberikan tali tersebut untuk ditarik dari luar. Sambil menangis, kepala desa itu menarik sekuat tenaga dan berkata, “Ayo kita pergi ke sungai.”
Danjong saat pengasingan tuh memang senang banget bermain bersama kelapa desa dan masyarakatnya. Bahkan senang bermain di sungai di depan lokasi pengasingan. Jadi, lokasi desa dan tempat pengasingan itu dipisahkan dengan sungai. Untuk menyeberanginya, masyarakat memakai rakit dari bambu.

Dan yang bikin aku nangis di ujung film, jasad mendiang Danjong hanya diantar 4 orang petugas istana. Yang paling bikin aku sesenggukan, jenazahnya dilemparkan ke sungai, tempat yang benar-benar ingin menjadi tempat terakhir Danjong. Masalahnya, Rasa Sejo ultimatum masyarakat. Bagi siapa saja yang mengambil jenazah Danjong, entah diawetkan atau dikebumikan, akan diusir, bahkan dihukum mati, beserta keluarganya. Miris.
Keberanian Eom Heung-do
Setelah Danjong wafat, jenazah Danjong dibiarkan begitu saja karena ancaman hukuman bagi siapa pun yang menyentuhnya. Namun, Eom Heung-do dengan berani mengambil risiko untuk memakamkan jenazah Danjong secara layak.
Penutup
Film The King’s Warden diakhiri dengan Heung-do yang harus melarikan diri dan hidup dalam persembunyian demi kesetiaannya pada sang raja muda.
Mengapa Film The King’s Warden Viral?
Akting Park Ji-hoon
Ia dipuji karena berhasil menunjukkan sisi rapuh sekaligus martabat seorang raja yang terbuang. Dia juga berani melindungi rakyatnya dengan membunuh harimau yang sempat mengganggu masyarakat memakai busur. Padahal dia lagi rapuh alias depresi banget setelah pelengseran dirinya.

Box Office
Di Korea Selatan, film The King’s Warden sudah menembus lebih dari 16 juta penonton. Review The King’s Warden berdurasi 117 menit ini menjadi salah satu film terlaris sepanjang sejarah) karena ceritanya yang menyentuh hati masyarakat.
Film The King’s Warden rilis di Korea sejak 4 Februari 2026 dan di Indonesia tayang di bioskop sejak 8 April lalu. Serta tayang di beragam aplikasi streaming seperti Moviebox mulai 29 April 2026.