Punya teman yang nyebelin banget dan rasanya pengen ngebunuh dia nggak? Soalnya, mereka tuh nggak cuman bikin kalian malu tapi bikin kesel sampe kita rasanya pengen bunuh diri akibat dipermalukan? Serem sih kalo punya temen sadis kayak gitu. Review If Wishes Could Kill ngasih gambaran ada sebuah aplikasi yang dibuat di ponsel. Isinya, kalian bisa memohon untuk mengabulkan permintaan. Anehnya, permohonan permintaan itu nggak cuman hal positif, tapi juga negatif. Apaan tuh? Permohonan untuk membunuh seseorang. Dan orang yang disebut itu akan bunuh diri dengan cara yang sadis, menggorok leher.
By the way, buat kalian yang nggak suka alias takut darah, mending nggak nonton. Atau tutup muka deh pas adegan menggorok leher. Hehe. Sadis sih. Sang sutradara yakni Park Youn-seo berhasil ngebikin adegan sadis itu kayak nyata. Jadi kayak nonton temen bunuh diri di depan kita. Oh ya, Park Youn-seo itu juga yang menjadi second unit director Kingdom Season 2 dan co-director Moving. Keren-keren banget tuh drama Korea arahannya.
Meski sadis, review If Wishes Could Kill ngasih pelajaran penting banget kok buat kehidupan. Penasaran? Simak aja sinopsis dan review If Wishes Could Kill ini.

Berlatar di SMA Seorin, drama ini mengisahkan tentang munculnya sebuah aplikasi misterius bernama “GIRIGO”. Aplikasi ini memiliki kemampuan luar biasa: ia bisa mengabulkan permintaan apa pun yang diunggah penggunanya dalam bentuk video.
Awalnya, sekelompok siswa (Yoo Se-ah dan teman-temannya) menganggap aplikasi ini sebagai jalan pintas untuk mendapatkan keinginan mereka tanpa usaha. Namun, mereka segera menyadari bahwa setiap permintaan yang dikabulkan memiliki “tagihan” yang mengerikan, yakni nyawa.
Ringkasan
Review If Wishes Could Kill
Review If Wishes Could Kill ini mengikuti perjuangan lima siswa utama untuk mengungkap asal-usul aplikasi yang ternyata berakar dari dendam masa lalu dan kekuatan supranatural, sebelum kutukan tersebut menghabisi mereka semua.
Drama Korea ini merupakan perpaduan cerdas antara drama remaja, tech horror, dan misteri okultisme. Ia memadukan tradisi folklor Korea dengan kecemasan teknologi modern, membuat penonton terus menebak-nebak hingga akhir.
App Girigo memiliki logika seperti chain letter. Aplikasi ini punya hitungan mundur selama 24 jam. Saat hitungan habis, anak yang mendapat permohonan tersebut langsung mengakhiri hidupnya sendiri memakai alat terdekat di tubuhnya. Bisa pakai tangan untuk menusuk mata atau pakai cutter untuk menggorok lehernya. Otomatis, langsung meninggoy deh.
Namun, kematian seorang pembuat keinginan akan berhenti jika ada orang lain yang ikut membuat keinginan. Dengan begitu, kutukan terus berantai dari satu korban ke korban lain, jika tidak diputus.
Nama Pemain If Wishes Could Kill
- Jeon So-young sebagai Yoo Se-ah — atlet lari timnas sekolah, protagonis utama yang pemberani dan loyal
- Kang Mi-na sebagai Lim Na-ri — sahabat cantik Se-ah (dikenal dari Welcome to Samdal-ri, Cafe Minamdang)
- Baek Sun-ho sebagai Kim Geon-woo — pacar Se-ah yang tampan namun mudah goyah
- Hyun Woo-seok sebagai Kang Ha-joon — si ahli strategi dalam kelompok, pintar matematika, jago ngoprek aplikasi (dikenal dari 404 Still Remain)
- Lee Hyo-je sebagai Choi Hyeong-wook — si badut kelas yang wibu (sebutan untuk orang non-Jepang yang terobsesi secara berlebihan terhadap budaya populer Jepang, seperti anime, manga, dan cosplay). Keinginannya pertama kali terkabul lewat app Girigo (dikenal dari Concrete Utopia)
Sinopsis If Wishes Could Kill
Kelima tokoh di atas jadi pemain utama yang memainkan peran masing-masing. Mereka tuh sohiban sejak kecil. Pas SMA, Se-ah suka sama Geon-woo. Begitu juga sebaliknya.
Masalahnya, Na-ri juga suka sama Geon-woo. Nah, Ha-joon malah suka sama Se-ah. Kayak pacaran segiempat, tapi ada yang bertepuk sebelah jari, hehe. Sebelah tangan lah.
Karena iri, Na-ri tuh suka sebel dengan Se-ah. Buat memuluskan rencananya, Na-ri mendapatkan pranala (link) sebuah aplikasi bernama Girigo lewat server Discord. Tapi dia nggak langsung mencoba. Malah Hyeong-wook yang mencoba aplikasi tersebut. Keinginannya cuman satu, biar jago matematika. Bagus dong? Dan dia berhasil mendapatkan nilai sempurna bersama Ha-joon.
Temen sekelasnya kan bingung. Anak yang wibu banget, jarang belajar, kok bisa nilai sempurna matematika? Se-ah yang akhirnya mengetahui gelagat aneh Hyeong-wook. Apalagi Se-ah nggak bisa hadir saat perayaan ultahnya. Mana ada suara Se-ah dari telepon yang berisi umpatan kalo Hyeong-wook tuh ga pantes didatengin pas ultah. Udah gendut, wibu, dan aneh. Suara ini kayak halusinasi atau kesurupan setelah memohon permintaan di aplikasi Girigo.
Hyeong-wook kesal. Males-malesan di kelas. Tiba-tiba dia berdiri dan membawa cutter. Langsung menyerang Se-ah sampai dia terdesak ke pintu dan pintu pecah. Ending-nya, cutter yang mengarah ke Se-ah malah berubah ke leher Hyeong-wook sendiri. Se-ah langsung kaget karena Hyeong-wook nekat gorok lehernya sendiri. Darah muncrat sampe ke wajah dan baju Se-ah.
Di episode selanjutnya, Geon-woo juga ingin mengakhiri hidupnya dengan mengarahkan jari ke mata sampai berdarah. Geon-woo sempat hampir koma dan dilarikan ke rumah sakit.
Se-ah yang tidak ingin nyawa pacar hilang, memohon permintaan ke aplikasi Girigo. Dia meminta untuk Geon-woo sembuh. Keinginan terkabul dan nyawa Geon-woo selamat. Namun ganti Se-ah yang ingin mengakhiri hidup. Beruntung, nyawanya selamat gara-gara diselamatkan oleh kakak dari Ha-joon. Dia tuh seorang dukun yang hidup di pedalaman hutan.
Mulai episode 6, mulai terkuak deh asal-usul kutukan ini. Cerita langsung flashback awal mula kasus ini terjadi. Jadi, ada tragedi yang terjadi di sekolah mereka beberapa tahun sebelumnya. Aksi itu melibatkan seorang siswi bernama Kim Si-won, putri seorang dukun perempuan (mudang) lokal yang merasa malu dengan pekerjaan ibunya.
Akankah kelima remaja yang sobatan ikrib ini selamat atau malah tewas bersama? Kayaknya kalian wajib nonton deh di Netflix. Atau pakai aplikasi Moviebox yang bisa diunduh di App Store dan Play Store.

Rating pengguna review If Wishes Could Kill di AsianWiki mencapai 92/100 dari hampir 100 voter — angka yang cukup tinggi untuk drama horor remaja perdana Netflix Korea.
Jadwal Penayangan
Drama Korea If Wishes Could Kill tayang perdana di aplikasi streaming Netflix mulai 24 April 2026. Drama tersebut langsung tayang 8 episode yang dirilis sekaligus. Setiap episode berdurasi sekitar 40 menit. Jadi bisa langsung gaspol buat nonton ga sampe setengah harian. Hehe.
Pelajaran yang Bisa Dipetik
1. Bahaya Ambisi Instan: Drama ini mengingatkan bahwa tidak ada keberhasilan yang benar-benar “gratis” atau instan. Mengambil jalan pintas sering kali membawa konsekuensi yang jauh lebih berat dari apa yang didapatkan.
2. Tanggung Jawab di Era Digital: Penggunaan aplikasi “GIRIGO” menjadi metafora tentang bagaimana teknologi bisa menjadi destruktif jika didorong oleh kebencian atau ego tanpa memikirkan dampak jangka panjang.
3. Kekuatan Empati: Banyak kutukan dalam drama ini bermula dari perundungan (bullying) dan pengabaian. Pelajaran pentingnya adalah bagaimana tindakan kita terhadap orang lain bisa memicu rantai rasa sakit yang sulit diputus.
Tradisi Kutukan dan Perdukunan di Korea Modern
Mungkin terdengar kontradiktif bagi negara yang sangat maju secara teknologi, namun jawabannya adalah: Ya, tradisi perdukunan (Shamanisme atau Musok) masih sangat eksis dan berpengaruh di Korea Selatan hingga sekarang.
• Dukun Modern (Mudang): Di Korea Selatan, dukun atau Mudang bukan hanya sosok di film horor. Banyak masyarakat modern, termasuk pebisnis dan politisi, masih mendatangi dukun untuk berkonsultasi mengenai keberuntungan, waktu yang tepat untuk pindah rumah, hingga prospek karier.
• Eksistensi di Dunia Politik & Bisnis: Seperti yang terlihat dalam laporan berita (bahkan hingga tahun 2025-2026), isu keterlibatan dukun dalam lingkaran politik sering menjadi perbincangan hangat di Korea Selatan.
• Tren Pop-Culture: Belakangan ini, citra dukun di Korea mengalami pergeseran menjadi lebih “keren” atau hip. Munculnya acara reality show kompetisi dukun (seperti Battle of the Fates) dan film blockbuster seperti Exhuma menunjukkan bahwa masyarakat Korea tetap merasa dekat dengan akar tradisi mistis mereka.
• Kutukan: Meski praktik mengutuk orang secara harfiah mungkin tidak dilakukan secara terbuka, kepercayaan akan “han” (dendam yang tak terselesaikan) dan pengaruh roh leluhur tetap menjadi bagian dari psikologi sosial masyarakat Korea.
Secara singkat, bagi masyarakat Korea, teknologi canggih dan kepercayaan pada dunia roh bisa berdampingan tanpa harus saling meniadakan.
