smartthings

smartthingsSamsung Electronics mengakuisisi SmartThings yang memungkinkan pengguna ponsel Samsung terhubung dengan perangkat apapun yang ada di rumahnya. SmartThings merupakan perusahaan yang fokus mengembangkan aplikasi pada perangkat lunak (software) dan peralatan rumah tangga sehingga bisa saling terhubung.

Kedua perusahaan tidak mengumumkan harga akuisisi. Namun sumber TechCrunch melaporkan harga akuisisi mencapai US$ 200 juta (sekitar Rp 2,34 triliun). “Dari awal tujuan kami membuat platform agar setiap manusia bisa menggunakan perangkat ponsel dan menjadikan rumahnya sebagai rumah pintar,” kata pendiri dan CEO SmartThings Alex Hawkinson seperti dikutip Forbes.

Menurut dia, hal ini akan membantu perusahaannya semakin membesar. Ia melihat ada kesempatan membawa visi SmartThings ke lebih banyak ratusan juta pelanggan.

Perusahaan ini didirikan 2012 dan hanya menargetkan puluhan ribu rumah menerapkan rumah pintar. Ia menargetkan instalasi perangkat rumah pintar sekitar 20 persen setiap bulan.

Nantinya, SmartThings akan beroperasi sebagai perusahaan independen meski markasnya akan diboyong dari Washington DC ke Samsung Open Innovation Center di Palo Alto. Open Innovation Center bertindak sebagai perusahaan investasi dan akselerasi startup bagi perusahaan-perusahaan Amerika Serikat yang tertarik bekerja sama dengan vendor Korea Selatan ini.

“Kami ingin orang-orang memahami betapa pentingnya masyarakat ingin independen mengendalikan rumah mereka hanya dengan perangkat ponselnya. SmartThings tetap akan bekerja sama dengan komunitas pengembang dan mitra bisnis. Kita akan mencari cara bermitra dengan mereka,” kata Executive Vice President Samsung David Eun.

David menganggap, meski Samsung sudah mengakuisisi SmartThings, namun kerja sama lebih lanjut belum akan ditentukan. Namun ia merasa tidak akan kesulitan bekerja sama dengan SmartThings dan menghubungkan dengan perangkat ponsel, tablet, televisi atau perangkat apapun besutan Samsung.

Kini, Samsung akan dapat menyinkronkan perangkatnya dengan peralatan rumah tangga yang sudah diubah oleh SmartThings setiap hari. “Samsung adalah perusahaan elektronik terbesar di dunia. Bayangkan apa yang bisa kita lakukan untuk menciptakan pengalaman yang kaya bagi konsumen,” kata Hawkinson.

Menurut dia, akuisisi Samsung ini akan memungkinkan distribusi perangkatnya lebih luas. “Semakin banyak konsumen yang kita miliki, semakin banyak pengembang bersemangat,” katanya.

SmartThings kini fokus mengembangkan aplikasi pintar yang memungkinkan berbagai perangkat bisa sinkron dengan perangkat lain. Saham Apple masih naik 0,28 persen atas akuisisi ini. Apple sebelumnya sudah mengakuisisi HomeKit, perusahaan yang mirip SmartThings.

Saham Google juga masih naik 0,04 persen karena sebelumnya sudah mengakuisisi Nest awal tahun ini senilai US$ 3,2 miliar. Google masih merahasiakan akuisisi tersebut, meski Nest juga mirip dengan SmartThings.

David Eun menegaskan akuisisi ini tidak ada hubungannya dengan Apple maupun Google. Samsung telah berpikir akuisisi ini sejak lama namun baru direalisasikan kini,” katanya.

By Didik Purwanto

Copywriter | Ghost Writer | ex Business Journalist | Farmer

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *