microsoft black 6

microsoft_black_6Microsoft terkendala masalah pembajakan perangkat lunak (software) di China. Hal itu menyebabkan pendapatan dari penjualan komputer pribadi (PC) di Negeri Tirai Bambu mengalami penurunan.

Padahal, penjualan PC di China lebih banyak dibanding penjualan di Amerika Serikat atau Belanda yang hanya memiliki penduduk sekitar satu persen dari total penduduk China.

Berdasarkan data lembaga anti pembajakan software (Business Software Alliance/BSA), negara berkembang mengontribusikan sekitar 56 persen penjualan PC. Namun sekitar 73 persen penjualan tersebut menggunakan software bajakan.

Analis berbasis di India Sameer Singh mengatakan, pendapatan Microsoft mencapai US$ 77,8 miliar tahun lalu. China, Brasil, dan Rusia masing-masing mengontribusikan lebih dari US$ 1 miliar penjualan software. Sebagai perbandingan, Apple Inc menghasilkan US$ 27 miliar pendapatan dari pasar China, yang mencakup Hong Kong dan Taiwan pada periode yang sama.

Sameer menilai Microsoft kehilangan banyak pendapatan di jantung bisnisnya. “Windows dan Office masih sangat banyak dicari,” katanya seperti dikutip Reuters.

Hingga kuartal I-2014, Microsoft mencatat sekitar 56 persen pendapatan dari global. Sekitar 78 persen laba usaha berasal dari Windows dan Office. Microsoft menilai tidak hanya kehilangan pendapatan dari software bajakan, namun juga kehilangan akses ke pelanggan yang mungkin membeli produk Microsoft lain yang masih menjalankan Windows dan Office.

Kepala Humas Microsoft Asia Andrew Pickup mengatakan, pada sebagian besar pasar Windows dan Office masih menyumbang lebih dari setengah ke pendapatannya. Masih banyak produk Microsoft lain seperi Exchange dan Windows server.

“Ekosistem Microsoft jelas saling berhubungan. Jadi masuk akal bila proporsi pendapatan akan sama di pasar negara berkembang,” kata analis Jackdaw Research di AS Jan Dawson.

Keuntungan Kecil

Analis Gartner Bryan Wang mengatakan, sistem operasi merupakan salah satu bagian paling mahal dari mesin. Pengecer sudah tahu bila pelanggan terlalu sensitif terhadap harga, apalagi terkait software. Inilah yang menyebabkan pengguna lebih suka menggunakan software bajakan karena lebih murah.

Bila vendor harus menyertakan penjualan PC langsung dengan software, hal ini akan menyebabkan harga PC melambung. “Mengirimkan PC yang sudah ter-install software sangat sulit. Marjin penjualan PC seperti Lenovo Group Ltd saja hanya satu digit,” kata Bryan.

Manajer riset IDC Handoko Adi mengatakan, sekitar 60 persen penjualan PC dilempar ke negara berkembang di Asia. Namun PC tersebut tanpa disertakan software asli atau malah cenderung bodong. Pengguna bebas memilih software seperti Windows atau Linux. “Sekitar 25 persen penjualan PC dikirimkan ke negara maju seperti Jepang dan Australia,” katanya.

Microsoft mulai melobi Lenovo sejak 2004 untuk berhenti mengirimkan PC bodong. Tapi perusahaan China membantah marjin keuntungan penjualan PC terlalu tipis. Dua tahun kemudian, hanya beberarapa hari sebelum Presiden China Hu Jintao mengunjungi Bill Gates, China mengumumkan sebuah peraturan baru yang akan mengapalkan penjualan PC lengkap dengan software, termasuk sistem operasinya. BSA menyebut tingkat pembajakan di China sedikit menurun dari 92 persen pada 2004 menjadi 79 persen pada 2009.

Lenovo mencapai kesepakatan dengan Microsoft Juni lalu yang memastikan penjualan PC Lenovo yang dijual di China harus sudah menjalankan software Windows asli.

 

By Didik Purwanto

Copywriter | Ghost Writer | ex Business Journalist | Farmer

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *