Resensi buku Reset Indonesia

Beberapa hari terakhir, lini masa viral tentang pembubaran diskusi bedah buku “Reset Indonesia” di beberapa kota, khususnya Madiun, Jawa Timur. Resensi buku “Reset Indonesia” berharap menata kembali Indonesia ini seolah bertentangan dengan apa yang telah dilakukan pemerintah tapi tidak menguntungkan rakyat. Benarkah demikian?

Apalagi ini menyangkut hak dasar rakyat, seperti air, bahan bakar minyak (BBM), listrik, hingga tanah. Jadi ingat air jadi emas baru yang aku tulis 11 tahun lalu. Kini pengusaha ramai-ramai masuk bisnis air, batubara, sawit, hingga lahan properti. Dan orang-orang terkaya di dunia rata-rata memang salah satu bisnis utamanya berasal dari sumber daya alam tersebut.

Resensi Buku “Reset Indonesia”   

Resensi Buku “Reset Indonesia: Membaca Ulang Indonesia” tuh adalah karya kolaboratif yang diprakarsai oleh Gita Wirjawan, seorang tokoh publik dan mantan menteri di Indonesia. Buku ini lahir dari perjalanan panjang tiga ekspedisi jurnalistik selama 15 tahun, yang mengeksplorasi berbagai dimensi negara ini, mulai dari sejarah, ekonomi, pendidikan, keberlanjutan, hingga teknologi.  

Buku ini ditulis oleh mantan jurnalis seperti Farid Gaban, Dandhy Laksono, Yusuf Priambodo, dan Benaya Harobu. Secara keseluruhan, buku ini seperti sebuah “reset” atau pembacaan ulang terhadap Indonesia. Mereka membahas arah baru gerakan dan perjuangan, termasuk isu-isu seperti keadilan sosial, kemajuan ekonomi, dan tantangan keberlanjutan di tengah dinamika global.   

Sebagai resensi singkat: buku ini kuat dalam pendekatan multidisiplin dan menggabungkan perspektif historis dengan analisis kontemporer. Sehingga membuatnya relevan bagi pembaca yang ingin memahami Indonesia lebih dalam. 

Kelebihannya ada pada narasi yang inspiratif dan kolaboratif, tapi mungkin terasa agak abstrak bagi pembaca awam karena kedalaman topiknya. Secara keseluruhan, rating saya 4/5 bintang. Resensi buku “Reset Indonesia”  bagus untuk diskusi intelektual, tapi butuh konteks lebih untuk aksi konkret. 

Review buku Reset Indonesia

Tema Isi Buku Reset Indonesia

Resensi Buku Reset Indonesia ini merupakan sebuah karya non-fiksi yang cukup provokatif karena membedah berbagai persoalan mendasar bangsa dari kacamata kritis namun tetap sastrawi. Buku ini tidak hanya bicara soal politik, tapi juga tentang “mentalitas” masyarakat kita.

Berikut ringkasan berdasarkan pembagian tema besar/bab utama dalam buku tersebut:

Bab 1: Menghadapi Kebuntuan (Titik Nol)

Di bagian awal, penulis memaparkan kondisi Indonesia yang seolah sedang berjalan di tempat. Masalah korupsi yang berulang, birokrasi yang gemuk, dan ketimpangan ekonomi dibahas sebagai sebuah “sistem yang sudah korup” dari akarnya.

Inti: Penulis berargumen bahwa memperbaiki Indonesia tidak cukup dengan “tambal sulam”, melainkan butuh install ulang atau Reset.

Bab 2: Pendidikan dan Mentalitas Terjajah

Bab ini mengkritik sistem pendidikan yang hanya mencetak pekerja, bukan pemikir. Ada pembahasan menarik tentang bagaimana masyarakat masih memiliki mentalitas “inferior” atau merasa rendah diri di hadapan asing, yang berujung pada kebijakan yang seringkali tidak mandiri.

Bab 3: Lingkungan dan Krisis Sumber Daya (Termasuk Isu Air)

Di sini, penulis menyentuh isu ekologi. Ia menyoroti bagaimana alam Indonesia (hutan, tambang, dan air) dieksploitasi habis-habisan oleh segelintir kelompok.

Poin Penting: Penulis menghubungkan antara kerusakan alam dengan hilangnya hak masyarakat atas akses dasar, seperti air bersih. Hal ini menjawab mengapa masyarakat akhirnya harus “membeli” air dari korporasi (air minum dalam kemasan/AMDK) padahal itu adalah hak dasar.

Merek air minum dalam kemasan terfavorit

Bab 4: Politik dan Kekuasaan

Bab ini membedah bagaimana politik di Indonesia seringkali menjadi “panggung sandiwara”. Penulis menyoroti oligarki dan bagaimana keputusan-keputusan besar di tingkat nasional seringkali diambil di balik pintu tertutup, menjauh dari kepentingan rakyat jelata.

Bab 5: Narasi Harapan (Cara Melakukan Reset)

Bagian akhir buku ini tidak hanya berisi keluhan, tapi juga tawaran solusi.

Caranya: Melalui gerakan literasi, penguatan komunitas akar rumput, dan keberanian untuk bersuara jujur. “Reset” dimulai dari kesadaran individu untuk tidak lagi berkompromi dengan ketidakadilan.

Air Jadi Masalah Besar Indonesia

Dalam resensi buku “Reset Indonesia” ini kita mengerucut pada isu tentang hak dasar, terutama akses air bersih. Dalam bab ini, buku tersebut sering menyiratkan bahwa masalah air di Indonesia bukan sekadar masalah teknis (pipa bocor), melainkan masalah ideologis.

Paradoks Kelimpahan: Indonesia adalah negara tropis dengan curah hujan tinggi, tapi kita justru mengalami “kelangkaan air bersih” yang memaksa warga membeli air kemasan.

Privatisasi Terselubung: Buku ini mengkritik bagaimana negara seolah pelan-pelan “lepas tangan”. Ketika layanan air publik (PDAM) tidak kunjung bisa diminum langsung, masyarakat secara otomatis beralih ke swasta. Di sinilah para konglomerat/pengusaha masuk mengisi celah tersebut. Sebagai imbal balik menjadi pendukung saat pemilihan presiden lalu. Jadi, pengusaha tersebut mendukung salah satu paslon. Saat menang, pengusaha mendapatkan hak kelolaan atas ‘hak dasar’ masyarakat, terutama air minum.

Dampak Lingkungan: Resensi buku ‘Reset Indonesia’ juga menyoroti sampah plastik dari industri air minum kemasan ini yang menjadi beban lingkungan luar biasa.

Kekayaan Pengusaha Air Minum Dalam Kemasan (AMDK)

Dalam Resensi buku ‘Reset Indonesia’ menyoroti tentang kesuksesan dan kekayaan pengusaha AMDK yang terus bertambah. Penambahan kekayaan ini seolah menjadi pembenaran terkait aksi korporasi yang mengambil ‘air bersih’ sebagai sumber daya utama. (Jadi ingat kasus ada perusahaan air minum yang mengambil air bersih dalam tanah sebagai bahan utama AMDK, jadi bukan mengambil air mengalir melalui sungai hulu). Sekaligus imbal balik pengusaha besar ini menjadi donatur pemerintah saat pemilihan presiden lalu.

Ini baru tiga besar merek utama ya. Belum lagi pengusaha air minum lain yang kini sudah bersaing ketat di level menengah bawah.

MerekPerusahaanTokoh Kunci/PemilikJumlah Kekayaan
AQUADanone-AQUAKeluarga Tirto Utomo (Pendiri) & DanoneAqua adalah pionir. Kekayaan keluarga pendiri tidak dipublikasi detail secara rutin sekarang karena sudah merger dengan Danone (Prancis). Bukan perusahaan terbuka, jadi tidak wajib untuk memberikan laporan keuangan kepada publik
Le MineraleMayora IndahJogi Hendra AtmaSekitar USD 4,4 Miliar (Data Forbes 2023/2024).
CLEOPT Sariguna Prima
Hermanto TanokoSekitar USD 2,2 Miliar (Data Forbes 2023/2024).

Pendalaman Bab 5: Bagaimana Cara Kita “Mereset”?

Penulis menawarkan langkah-langkah yang bisa diambil oleh masyarakat biasa agar tidak terus-menerus menjadi korban sistem:

Kedaulatan Lokal

Mendorong masyarakat untuk menjaga sumber air lokal (hutan lindung, mata air desa) agar tidak diambil alih oleh pabrik besar.

Literasi Kritis: Masyarakat harus sadar bahwa air keran yang tidak bisa diminum adalah sebuah “kegagalan sistemik”, bukan sesuatu yang normal. Dengan kesadaran ini, warga bisa menuntut perbaikan infrastruktur kepada pemerintah.

Gaya Hidup: Mengurangi ketergantungan pada produk-produk korporasi besar jika memang ada alternatif yang lebih berkeadilan dan ramah lingkungan.

Resensi buku Reset Indonesia

Hubungan Nyata: Buku vs Kondisi Pengusaha Air

Kalau kita hubungkan dengan data kekayaan pengusaha air, resensi buku “Reset Indonesia” seolah menjadi cermin bagi realita tersebut. Kekayaan triliunan rupiah yang didapat oleh para pengusaha AMDK adalah bukti nyata bahwa ada “masalah” dalam penyediaan air publik kita.

Jika pemerintah mampu menyediakan air keran yang bisa langsung diminum (seperti di Singapura atau Jepang), maka bisnis air kemasan tidak akan sebesar sekarang, dan kekayaan tidak akan terpusat hanya pada segelintir orang.

Sebagai penutup resensi ini, ada satu kutipan yang sering relevan dengan semangat buku tersebut:

“Indonesia tidak kekurangan orang pintar atau sumber daya alam, kita hanya kekurangan keberanian untuk memulai kembali segala sesuatunya dari kepentingan rakyat, bukan kepentingan pasar.”

By Didik Purwanto

Copywriter | Ghost Writer | ex Business Journalist | Farmer

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *