Utang

UtangInvestor asing dinilai masih mengkhawatirkan pelemahan rupiah akibat ketidakpastian pemilihan umum (pemilu) presiden pada Juli mendatang, meski Bank Indonesia (BI) akan memertahankan rupiah agar tidak menembus level Rp 12 ribu per dolar AS.

“Ketidakpastian politik akan memicu volatilitas rupiah. Kemungkinan akan membuat investor berhati-hati pada Indonesia,” kata Kepala ekonom BCA David Sumual kepada Bloomberg.

Ia mengatakan, pembuat kebijakan dinilai akan melemahkan rupiah untuk membuat ekspor lebih kompetitif. Selama ini Indonesia mengalami defisit karena impor lebih banyak dibanding ekspor.

Analis ING Groep NV Tim Condon menilai investor juga mendapatkan keuntungan dari pelemahan rupiah. “Investor bisa membeli dolar AS,” kata Condon.

Ia menilai data perdagangan yang buruk tidak menjamin depresiasi rupiah lebih tajam. Ia memerkirakan rupiah masih akan menguat ke Rp 10.800 per dolar AS hingga akhir tahun. Sekitar 21 analis dalam survei Bloomberg melaporkan rupiah akan naik ke level Rp 11.639 per dolar AS hingga akhir tahun, turun dari perkiraan semula di Rp 11.450 per dolar AS pada 29 April.

Tergantung Jokowi

Rupiah menguat 7,1 persen pada kuartal I-2014, namun hingga saat ini rupiah malah merosot 3,3 persen. Rupiah dinilai berkinerja terburuk di antara 31 mata uang utama.

Rupiah berbalik melemah setelah partai peserta pemilu terfragmentasi mendukung Joko Widodo dan Prabowo Subianto. Pelemahan rupiah juga dipicu prediksi Bank Indonesia (BI) tentang pelebaran defisit neraca perdagangan dan pembayaran.

“Jokowi dipandang sebagai pembaharu yang ramah bisnis. Tapi ia juga berpeluang gagal menyapu bersih kemenangan pemilu,” kata ahli strategi mata uang di ANZ Banking Group Ltd di Singapura Khoon Goh.

Goh memprediksi rupiah terdepresiasi ke Rp 12 ribu per dolar AS pada akhir tahun. Morgan Stanley juga memerkirakan rupiah melemah hingga Rp 12.200 per dolar AS.

Masih Menguat

Tiga hari terakhir, rupiah masih menguat satu persen. Namun level ini masih terendah dalam empat bulan terakhir. Rupiah melemah 21 persen tahun lalu, sebelum mencapai titik terendah sejak lima tahun terakhir di level Rp 12.285 per dolar AS pada 7 Januari lalu.

Namun perbaikan itu diperkirakan tidak berlangsung lama jika pemerintah tidak segera memerbaiki neraca perdagangan domestik. “Defisit perdagangan pada April 2014 memberi perhatian besar bagi pemerintah. Ini bisa melebar dari perkiraan sebelumnya,” kata Kepala Riset Treasury BNI Nurul Eti Nurbaitu.

Analis BNP Paribas berbasis di Singapura Yii Hui Wong menilai pelemahan rupiah juga dipicu pembengkakan anggaran subsidi bahan bakar minyak (BBM) dan kenaikan listrik. Anggaran subsidi BBM mencapai 15 persen dari belanja pemerintah tahun ini. “Investor asing makin berhati-hati sekarang,” katanya.

Sumber: Bloomberg

By Didik Purwanto

Copywriter | Ghost Writer | ex Business Journalist | Farmer

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *