Biaya Berobat Gangguan Pernafasan Meningkat : Efek Bencana Krakatau, Karhutla Hingga Wabah Super Flu

Dampak letusan anak Gunung Krakatau, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan hingga wabah Super Flu baru terasa akhir-akhir ini. Biaya berobat gangguan pernafasan meningkat. Hal ini seiring banyak pasien memeriksakan gejala gangguan pernafasannya akibat bencana dan wabah tersebut.
Ringkasan
Gangguan Kesehatan Pada Paru
Dari semua wabah yang terjadi di Indonesia akhir-akhir ini, banyak pasien mengeluhkan batuk, iritasi hidung dan tenggorokan hingga sesak nafas. Dan apa yang terjadi akhir-akhir ini di banyak rumah sakit di Indonesia? Banyak pasien memeriksakan paru-parunya.
Ketika Gunung Anak Krakatau kembali erupsi pada awal September 2026, abu vulkaniknya menyebar ke sejumlah wilayah, termasuk Banten, Lampung, dan sebagian Jabodetabek. Pemerintah pun mengingatkan masyarakat untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan dan menggunakan pelindung pernapasan ketika harus keluar.
Kementerian Kesehatan menyebut ada tiga hal yang perlu diperhatikan dari paparan abu vulkanik: pernapasan, mata, dan kulit. Untuk saluran pernapasan, masyarakat diminta menggunakan masker ketika harus beraktivitas di luar rumah.
Di Banten, Dinas Kesehatan bahkan menyiagakan fasilitas kesehatan untuk mengantisipasi gangguan kesehatan akibat abu vulkanik. Abu tersebut dapat mengiritasi hidung dan tenggorokan, memicu batuk dan sesak napas, serta memperburuk kondisi seperti asma dan PPOK (Penyakit Paru Obstruktif Kronis), peradangan paru-paru jangka panjang yang menyebabkan hambatan aliran udara dari paru.
Di Kalimantan, kebakaran hutan dan lahan juga sempat memicu kualitas udara memburuk dan kabut asap menyelimuti sejumlah wilayah. Kementerian Kesehatan mencatat karhutla pada 2026 berdampak di tujuh provinsi, termasuk Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Timur.
Hingga 27 Agustus, lebih dari 10,67 juta penduduk terdampak dan kasus Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) juga dilaporkan meningkat di beberapa daerah, termasuk Kalimantan Tengah.

Biaya Berobat Gangguan Pernafasan
Nah, di sinilah cerita tentang bencana alam bertemu dengan sesuatu yang jauh lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari: biaya berobat gangguan pernafasan.
Sebab ketika udara tercemar dan wabah Super Flu, yang berisiko bukan cuma kesehatan. Dalam kondisi tertentu, dompet juga bisa ikut terdampak.
Memang, tidak semua orang yang terpapar abu vulkanik akan mengalami gangguan kesehatan serius. Tetapi peristiwa seperti erupsi hingga asap Karhutla mengingatkan kita bahwa ada banyak faktor di luar kendali yang dapat memengaruhi kesehatan pernapasan.
Hari ini abu vulkanik. Di tempat lain mungkin polusi udara. Besok bisa saja infeksi saluran pernapasan.
Kita tidak pernah tahu persis kapan tubuh akan meminta biaya lebih besar untuk dirawat.
Dan ketika perawatan itu sampai membutuhkan rumah sakit, persoalannya tidak berhenti pada diagnosis.
Ada pemeriksaan.
Ada obat.
Ada tindakan medis.
Ada biaya kamar.
Dan bisa saja ada penghasilan yang ikut hilang karena pasien atau anggota keluarganya harus berhenti bekerja sementara.
Data internal klaim medis Prudential Indonesia menunjukkan rata-rata biaya perawatan gangguan pernapasan untuk kelas rumah sakit dan jenis tindakan yang sama meningkat 106,3 persen, dari sekitar Rp49,9 juta pada 2023 menjadi Rp103 juta pada 2025.
Tarif kamar rawat inap VIP dalam data yang sama juga meningkat 57%, dari sekitar Rp1,5 juta menjadi Rp2,35 juta per hari.
Angka biaya berobat gangguan pernafasan Rp103 juta tentu bukan berarti setiap pasien gangguan pernapasan akan menghabiskan uang sebanyak itu.
Ini merupakan rata-rata berdasarkan data internal klaim Prudential Indonesia untuk kelas rumah sakit dan jenis tindakan yang sama.
Tetapi angkanya memberi satu bahan renungan:
Kalau biaya berobat gangguan pernafasan membesar, apakah kondisi keuangan keluarga kita ikut siap?
Persiapan Finansial Sebelum Wabah Menyerang
Ketika ada erupsi, karhutla hingga wabah Super Flu, kita tahu apa yang harus dilakukan. Pakai masker. Tutup jendela. Kurangi aktivitas di luar. Bersihkan rumah. Ikuti informasi resmi. Semua itu penting.
Tetapi ada persiapan lain yang jarang dibicarakan: persiapan finansial ketika risiko kesehatan benar-benar terjadi.
Sebab pencegahan tidak selalu membuat seseorang terbebas dari penyakit. Kita bisa menggunakan masker dan tetap sakit. Bisa menjaga pola hidup dan tetap membutuhkan perawatan. Bisa rajin berolahraga dan suatu hari tetap masuk rumah sakit.
Bukan karena kita salah menjaga kesehatan. Memang ada risiko yang tidak bisa dikendalikan sepenuhnya.
ISPA, Flu, Polusi, dan Risiko yang Datang Bergantian
Gangguan pernapasan juga bukan cuma soal abu vulkanik.
Kementerian Kesehatan mencatat ISPA sebagai salah satu penyakit yang banyak dilaporkan di Indonesia. Dalam data yang digunakan dalam materi ini, kasus ISPA sepanjang Januari hingga awal Agustus 2026 telah mencapai lebih dari 10,6 juta kasus.
Belakangan, perhatian publik juga tertuju pada meningkatnya deteksi influenza, termasuk influenza A(H3N2) subclade K yang populer disebut “super flu”.
Namun istilah tersebut perlu ditempatkan secara proporsional. Kemenkes menyebut subclade K bukan jenis virus influenza baru dan aktivitas influenza di Indonesia masih dikategorikan rendah berdasarkan data hingga 19 September 2026.
Jadi, tidak perlu membuat kepanikan baru.
Tetapi ada pelajaran yang sama dari berbagai peristiwa tersebut:
Kesehatan pernapasan bisa dipengaruhi banyak hal. Sementara biaya ketika membutuhkan perawatan tidak selalu bisa ditebak.
Ketika Dana Darurat Harus Berhadapan dengan Biaya Medis
Di sinilah perencanaan keuangan mulai menjadi penting. Misalnya keluarga memiliki dana darurat.
Bagus.
Tetapi dana tersebut bukan hanya untuk kesehatan.
BACA JUGA:
Cara Menghitung Dana Darurat yang Ideal
Cara Mempersiapkan Dana Darurat Secara Tepat
Ada kebutuhan mendadak lain yang mungkin muncul: kehilangan pekerjaan, kendaraan rusak, kebutuhan anak, atau pengeluaran rumah tangga yang tidak direncanakan.
Kalau seluruh dana darurat harus digunakan untuk biaya medis, keluarga mungkin kehilangan bantalan untuk menghadapi risiko berikutnya.
Karena itu, dana darurat dan proteksi kesehatan sebenarnya tidak harus dipertentangkan.
Keduanya bisa memiliki fungsi berbeda.
Dana darurat memberi fleksibilitas.
Proteksi kesehatan, sesuai manfaat dan ketentuan polis, dapat membantu menghadapi risiko biaya medis tertentu.
Jangan Membeli Proteksi Hanya Karena Takut
Tapi jangan juga terjebak di sisi sebaliknya.
Melihat erupsi gunung, berita penyakit, atau angka biaya rumah sakit yang naik kemudian langsung membeli produk perlindungan. Itu bukan otomatis keputusan yang tepat.
Justru karena sedang membicarakan uang, kepala harus tetap dingin.

Cek dulu perlindungan yang sudah dimiliki.
Bagaimana dengan BPJS?
Apakah ada fasilitas kesehatan dari kantor?
Apakah sudah memiliki asuransi?
Apa saja manfaatnya?
Apa batasnya?
Apa pengecualiannya?
Berapa premi yang harus dibayar?
Dan yang paling penting:
sanggupkah premi tersebut dibayar terus dalam jangka panjang?
Sebab proteksi kesehatan seharusnya membantu menjaga ketahanan finansial, bukan malah menjadi beban baru.
Biaya Berobat Gangguan Pernafasan Capai Rp 103 Juta?
Angka biaya perawatan yang meningkat lebih dari dua kali lipat memang terdengar besar.
Tetapi angka seperti ini sebaiknya tidak digunakan untuk menakut-nakuti orang agar membeli asuransi.
Lebih sehat kalau angka tersebut digunakan sebagai bahan untuk bertanya:
“Kalau terjadi sesuatu pada saya atau keluarga, berapa biaya yang sanggup kami tanggung sendiri?”
Jawabannya akan berbeda untuk setiap keluarga.
Ada yang punya tabungan besar.
Ada yang mengandalkan BPJS.
Ada yang mendapat fasilitas kesehatan dari perusahaan.
Ada yang memiliki proteksi tambahan.
Ada pula yang belum punya persiapan sama sekali.
Tidak ada satu angka yang cocok untuk semuanya.
Yang penting adalah mengetahui posisi kita sendiri.
Risiko Kesehatan Saat Wabah dan Bencana Menyerang
Ini mungkin pelajaran paling menarik dari erupsi Anak Krakatau. Risiko kesehatan tidak selalu datang dalam bentuk yang dramatis. Kadang datang sebagai abu yang beterbangan. Kadang polusi yang kita hirup setiap hari. Kadang virus yang menyebar dari orang ke orang.
Kadang penyakit yang tiba-tiba muncul tanpa pernah kita rencanakan. Kita memang tidak bisa mengendalikan semuanya. Tetapi kita masih bisa mengendalikan persiapannya.
Menjaga kesehatan. Mengikuti informasi ketika ada bencana. Mengurangi paparan risiko. Menyiapkan dana darurat.
Dan mengecek apakah perlindungan kesehatan yang kita miliki sudah sesuai kebutuhan.
Jadi, Haruskah Punya Proteksi Kesehatan?
Tidak ada jawaban yang sama untuk semua keluarga.
Yang lebih penting adalah memahami risiko dan kemampuan sendiri.
Kalau besok harus menjalani perawatan dengan biaya besar, apa yang pertama kali akan digunakan?
Tabungan?
Dana darurat?
BPJS?
Fasilitas kantor?

Atau harus mencari pinjaman?
Pertanyaan itu mungkin terdengar tidak menyenangkan.
Tetapi justru karena tidak menyenangkan, pertanyaan tersebut sebaiknya dijawab ketika kita masih sehat.
Bukan ketika sudah berada di ruang rawat inap.
FAQ
Apakah abu vulkanik dapat menyebabkan gangguan pernapasan?
Ya. Pemerintah mengingatkan bahwa paparan abu vulkanik dapat berdampak pada saluran pernapasan. Dinas Kesehatan Banten menyebut paparan abu dapat menyebabkan iritasi hidung dan tenggorokan, batuk, sesak napas, serta memperburuk asma dan PPOK.
Apakah “super flu” berkaitan dengan gangguan pernapasan?
Influenza merupakan infeksi saluran pernapasan. Namun istilah “super flu” yang ramai digunakan saat ini merujuk pada influenza A(H3N2) subclade K, bukan virus influenza baru. Kemenkes masih mengkategorikan aktivitas influenza di Indonesia sebagai rendah berdasarkan data hingga 19 September 2026.
Berapa kenaikan biaya berobat gangguan pernapasan?
Menurut data internal klaim Prudential Indonesia dalam materi sumber, rata-rata biaya berobat gangguan pernapasan untuk kelas rumah sakit dan jenis tindakan yang sama meningkat 106,3%, dari sekitar Rp49,9 juta pada 2023 menjadi Rp103 juta pada 2025.
Apakah semua pasien membutuhkan biaya Rp103 juta?
Tidak. Angka tersebut merupakan rata-rata berdasarkan data internal klaim perusahaan untuk kelas rumah sakit dan jenis tindakan yang sama. Biaya aktual dapat berbeda berdasarkan kondisi pasien, diagnosis, tindakan, fasilitas kesehatan, lama perawatan, dan faktor lainnya.
Apa yang perlu dilakukan untuk menghadapi risiko biaya kesehatan?
Mulai dengan mengecek dana darurat dan perlindungan yang sudah dimiliki, termasuk BPJS Kesehatan atau fasilitas kesehatan dari tempat kerja. Jika masih ada risiko yang belum terlindungi, barulah pertimbangkan opsi perlindungan tambahan yang sesuai kebutuhan dan kemampuan finansial.

Jangan Menunggu Tagihan Rumah Sakit untuk Mulai Menghitung
Abu Anak Krakatau pada akhirnya akan mengendap.
Rumah dibersihkan.
Udara kembali membaik.
Berita tentang erupsi pun perlahan bergeser dari halaman depan.
Tetapi pelajaran soal kesehatan dan keuangan seharusnya tidak ikut hilang bersama abu.
Sebab gunung bisa berhenti meletus.
Musim flu bisa berganti.
Polusi bisa naik-turun.
Tetapi risiko kesehatan akan selalu menjadi bagian dari kehidupan.
Kita tidak perlu hidup dalam ketakutan.
Cukup hidup dengan persiapan yang masuk akal.
Karena yang paling mahal dari sebuah penyakit kadang bukan hanya biaya mengobatinya, tetapi ketidaksiapan ketika tagihan itu datang.
Ketika Gunung Anak Krakatau erupsi pada awal September 2026, abu vulkaniknya menyebar ke Banten, Lampung, dan sebagian Jabodetabek bahkan ke Cianjur juga.
Sampai sekolah juga diliburkan alias daring
Walaupun hanya murid nya karena gurunya mah tetap ke sekolah
Jadi walaupun Pemerintah mengingatkan masyarakat untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan dan menggunakan pelindung pernapasan ketika harus keluar tetap saja gak bisa dihindarkan itu debu asap dan polusi yang diakibatkannya
Akhirnya paksu juga kena saluran pernafasannya. Belum diperiksa sih, kemungkinan bisa ke ahli dalam secara dia juga ada gangguan paru-paru itu sebelumnya.
Apalagi biaya berobat skarang agak ribet terkait desil
Jadi makin kacau ini pikiran
Tapi semoga saja semuanya baik baik saja ya. Aamiin…
akhir-akhir ini pemberitaan mulai naik lagi mengenai gangguan pernafasan.
Aku tadi aja dikasih tau sama ibu-ibu waktu di warung, anak-anak sekolah diharuskan memakai masker ke sekolah, di kotaku Jember sini beberapa minggu lalu memang sempet rame pemberitaan soal influenza yang type A kalau ga salah, pokoknya yang sebutan baru itu.
mencegah memang lebih baik di awal, buat jaga-jaga terhadap diri sendiri juga, karena diluaran sana pastinya kita akan berhubungan dengan banyak orang, debu atau cuaca
Akhir Agustus dan awal September kemarin di lingkungan saya pun banyak juga yang tumbang sakit dan mayoritas berawal dari flu kemudian menjalar ke gejala lainnya seperti sakit kepala, demam, bahkan sesak nafas. Anggota keluarga kami pun ada yang harus diopname dan beberapa siswa di pesantren yang keluarga kami kelola hampir setengahnya sakit.
Kalau dihitung secara biaya memang lumayan besar pengeluaran untuk pengobatan ini, terutama di awal September kemarin yang berelasi dengan banyaknya bencana alam seperti erupsinya Gunung Anak Krakatau. Beruntung kalau kami kemarin oleh dokternya diberi gratis saat membawa para siswa berobat ketika tahu bahwa mereka siswa yang mondok di pesantren, tapi kalau harus berbayar, pasti kalkulasinya cukup tinggi memang.
Itu kenapa saya setuju bahwa mempersiapkan segala sesuatu yang bersifat darurat itu mesti, termasuk dana darurat tentunya atau cara-cara lain sesuai preferensi masing-masing seperti halnya alternatif dengan BPJS atau asuransi lainnya
Benar sekali apalagi sekarang juga sedang wabah influenza yaa..gangguan pernafasan ini bisa bebarengan karena karena bencana yang sedang kita hadapi sekarang memang akibat kemarau panjang, erupsi yang berhubungan dengan saluran pernafasan kita…
Sudah sewajarnya kita selalu menyediakan dana darurat termasuk untuk biaya pengobatan ini, langkah awal memang BPJS namun jika kita memiliki dana lebih dan menginginkan perawatan yang lebih baik maka tidak ada salahnya kita mengambil asuransi kesehatan lainnya seperti di Prudential ini
Sebagai penduduk kalimantan memang berasa banget nih kabut asap bikin anak-anak pada sakit dan kayaknya rumah sakit penuh sama kasus ISPA. Makanya memang penting sih kita mempersiapkan dana terkait kesehatan ini entah dalam bentuk asuransi atau tabungan khusus. BPJS sendiri juga sebenarnya sangat membantu untuk beberapa kasus penyakit cuma memang harus sabar ya melewati prosesnya yang panjang
Namanya musibah maupun bencana alam memang tidak ada yang bisa menduga. Namun, hal itu sudah menjadi dari takdir Allah. Meskipun demikian, tidak bisa berhenti dan menyerah pada takdir, tetap dibutuhkan upaya selanjutnya, terutama terkait dengan kesehatan. Apalagi ini adalah abu vulkanik yang bisa menyerang organ pernapasan. Tulisan ini sangat membantu sebagai panduan dalam menangani dampak dari bencana tersebut.
Kondisi saat ini memang lagi kurang kondusif karena flu yang sedang bertebaran. Sehingga perlu jaga diri dan bila ada yang terinfeksi bisa lekas dilakukan penanganan agar tidak memperparah keadaan. Yuk, jaga diri, keluarga dan sekitar
Setuju mas. Proteksi kesehatan ini akupun ambil serius . beruntung kami ada beberapa asuransi kesehatan dari kantor suami dan juga asuransi pribadi. BPJS ada, tapi sudahlah, anggab aja subsidi silang untuk yang lain. Aku ga sanggub daftarnya yg lama banget . Makanya tetep lebih suka pakai asuransi kesehatan pribadi kalau sakit.
Cuma sebisa mungkin, tetep aja jaga pola hidup dan kesehatan . Sekali sakit mahal. Kalau ga ada asuransi, memang kacau urusan finansial hanya untuk bayar biaya rumah sakit . Sekarang ini selain prepare asuransi pribadi, aku pastikan juga anak2 dan suami rutin minum vitamin supaya imun tubuh lebih kuat.
Dipikir2 , punya asuransi kesehatan yang bagus, itu investasi juga. Setidaknya kalau terjadi apa-apa, kita ga pusing mikirin harus jual aset atau pakai tabungan, karena sudah tercover semua
Erupsi gunung, kebakaran hutan ini, tidak hanya menganggu pernafasan, tapi juga sebenarnya mata. Dan pastinya secara ga langsung menganggu aktivitas juga. Dan kalau pernafasan sudah terganggu, duh bahaya sekali. karena paling sadar biayanya mahal. makanya dalam hidup ini harus sedia payung sebelum hujan. asuransi kesehatan wajib ada. dan memang betul, jangan tiba masa, tiba akal. Baru membeli premi saat sudah sakit. wajib persiapan jauh-jauh hari.
akhir-akhir ini cuaca sama kondisi udara rasanya lagi kurang bersahabat banget. Keluar rumah sedikit aja tenggorokan langsung gatal, belum lagi kalau denger berita soal biaya rumah sakit yang makin melambung tinggi. Bikin kepala cenat-cenut sendiri mikirinnya.
Makanya, penting banget buat mulai ngecek lagi tabungan atau fasilitas kesehatan yang dipunya sekarang. Jangan sampai pas badan lagi drop, kita malah pusing mikirin biaya rumah sakit yang angkanya bikin kaget. Lebih baik repot sedikit ngitung dari sekarang daripada kelabakan di kemudian hari, ya kan?
Abu Krakatau memang bikin repot sampai banyak orang mengalami penyakit ISPA saya pun terpaksa harus pakai masker lagi demi keselamatan dan memang harus diperhatikan pembiayaan apabila masuk rumah sakit tidak ada penyakit ini Itulah kenapa kita harus punya proteksi kesehatan
Sampai hari ini pun tempat kami di Kalsel masih bersahabat dengan asap, dan memang dampaknya luas. Bukan hanya ISPA, tapi karena jarak pandang terbatas jadi rawan kecelakaan juga. Pengeluaran sudah pasti mengalami pembengkakan karena harus stok masker, obat, apalagi untuk orang yang memang sebelumnya sudah memiliki permasalahan dengan saluran pernapasan seperti asma. Pada kondisi sperti ini harus ekstra persiapannya, bude di sebelah rumah sampai siap tabung oksigen sendiri jaga-jaga kalau di fasyankes kurang. Semoga ujian segera berlalu, karhutla teratasi, gunun berapi kembali istirahat dengan nyenyak dan turun hujan. Semoga kita juga semakin aware dengan dana untuk alokasi khusu untuk kesehatan, baik BPJS maupun asuransi lainnya, bukan berharap sakit tapio supaya tidak gelagapoan saat kondisi mengalami perubahan tidak terduga.
Duh paling sedih bolak-balik mendengar penyakit ISPA meningkat, apalagi di Kalimantan sana, sampai bayi pun terkena lho.
Zaman sekarang memang yang paling wajib kita syukuri adalah nikmat sehat ya, karena sakit tu mahal di negara astaghfirullah hiks.
Kemarin pas abu vulkanik kami juga nggak keluar2 sama sekali, pas terpaksa belanja keluar ya makai masker, soalnya abu vulkanik kan debunya mengandung bahan kaca, serem aja kalau masuk ke paru2.
Bener mas, nggak cuma karena abu vulkanik, polusi udara pun semakin masif. Rumahku sini juga tu karena masih deket pabrik2 dan ada truk lewat jadi sering berdebu, sampai2 kemarin pas ada abu vulkanik tu ada guyonan orang sini bingung membedakan mana abu vulkanik sama abu truk hehe :P
Makanya nih kalau keluar2 aku juga selalu maskeran.
Untuk asuransi kesehatan menurutku penting sekali yaa. Amit2 Ya Allah kalau kena 103 jutaan gitu T.T
Semoga Allah angkat musibah di negeri ini yaa..
Sedih mendengarnya akibat kebakaran, dampaknya menjadi sangat luas…
Termasuk ke kesehatan warga sekitar untuk jangka panjang.
Melalui artikel yang ka Didik tulis, berrassaa adeemm bangeett.. kayak senyuman Jeno.
Ketika ngobrolin asuransi ini memang kudu dipertimbangkan secara matang. Karena ga ingin ke depannya menjadi useless karena ga baca secara detil dan mengambil manfaat yang didapat.
Dengan teliti, memilih asuransi kesehatan yang mantap untuk investasi kesehatan jangka panjang.
Waktu abu vulkanik kemarin mata rasanya gatal terus. Sempat batuk juga. Sampai rasanya dada sesak. Sebelumnya juga batuk yang super duper gatal.
Setelah saya, anak sulung baru beberapa hari kemarin sakit juga. Mirip gejalanya sama super flu itu.
Nah di saat begini asuransi terasa sekali manfaatnya. Berobat nggak perlu mengganggu tabungan maupun dana darurat. Apalagi kemarin si sulung berobat biayanya hampir menyentuh satu juta rupiah. Kaget banget. Untung ditanggung asuransi.
Memang “sedia payung sebelum hujan” itu penting ya.
Ini di Bandung memang mulai penuh juga RSnya. Biaya berobat gangguan pernapasan bisa lumayan juga ya. Apalagi kalau sampai perlu pemeriksaan atau perawatan lebih lanjut, pasti kerasa banget di kantong. Jadi memang penting juga ya punya persiapan buat kondisi kayak gini
Kalimat penutup nya sangat realistis dan relevan banget. Kadang, yang bikin panik dan takut saat kita jatuh sakit nggak ada dana darurat dan asuransi kesehatan. Sehingga beneran bikin bingung harus gimana, pinjam uang pun tak semudah itu. Jadi, memang lebih bijaksana kita selalu berpikir jauh kedepan dan bersiap dengan segala kemungkinan yang paling buruk. Mengingat situasi alam sekarang pun makin menantang, terutama karhutla yang belum juga usai. ISPA pasti tak dapat terhindarkan lagi.
permasalahan karhutla terutama yang ada di kalimantan dan sumatra sudah menjadi isu global yang jangan sekali-kali disepelekan. salah satu dampak yang terasa adalah gangguan pernafasan, terlebih pada paru-paru. cukup miris dengan kasus ini karena sepertinya pemerintah dianggap kurang responsif terhadap adanya kasus yang sampai merenggut nyawa masyarakatnya.