Apa hukumnya melakukan pembunuhan berantai tapi dengan dalih menyelamatkan nyawa seseorang? Pembunuh tersebut menghabisi nyawa korban mulai dari menghabiskan darah hingga memutilasinya hingga beberapa potongan. Review sinopsis Drama Korea Bloody Flower akan menjawab pertanyaan awal di atas.
Ringkasan
Sinopsis Drama Korea Bloody Flower
Bloody Flower adalah serial thriller kriminal psikologis Korea Selatan yang tayang perdana 4 Februari 2026. Serial ini disiarkan di Disney+ (termasuk Disney+ Hotstar) dan juga didistribusikan secara global lewat platform seperti Viu, Kocowa, OnDemandKorea, dan U-NEXT di berbagai wilayah.
Drama ini bukan dokumenter atau kisah nyata, melainkan adaptasi dari novel fiksi berjudul The Flower of Death karya Lee Dong-geon. Artinya cerita, tokoh, dan peristiwa yang digambarkan adalah buatannya pengarang untuk tujuan drama/misteri, bukan kejadian nyata yang direkam sebagai fakta sejarah atau kriminal.
Cerita Bloody Flower berfokus pada Lee Woo-gyeom (Ryeoun), seorang mahasiswa kedokteran yang ditangkap polisi setelah tuduhan penculikan dan kemudian terungkap terlibat dalam kematian 17 orang melalui percobaan medis ilegal.
Dalam 2 episode yang baru tayang, cerita masih bermula tentang praktik ilegal Woo-gyeom dalam menghabisi nyawa korban. Tentu dengan dalih memberikan ‘obat’ bagi korban tersebut.

Masalahnya, korban ini tidak selalu memiliki penyakit tertentu. Ada juga korban yang ternyata dulu pernah menabrak Woo-gyeom hingga koma selama tiga tahun. Anehnya, Woo-gyeom malah memutilasi korban tersebut hingga menjadi beberapa potongan tubuh. Mana diperlihatkan lagi tangan hingga kaki yang terpotong. Dan bagian kepala dibungkus plastik dan dimasukkan ke freezer. Begitu juga dengan organ-organ dalamnya. Aneh? Iya lah.
Otomatis, dia tidak bisa menamatkan kuliah kedokterannya dong. Lantas, Woo-gyeom mencoba ‘melukai’ tubuhnya sendiri demi sebuah penelitian mencari obat bagi luka bekas komanya. Dan anehnya, berhasil. Dia bisa sembuh total dan menjadi manusia normal.
Cerita berlanjut saat dia tertangkap basah oleh polisi sedang ‘menguras darah’ korban hingga habis. Woo-gyeom harus masuk penyelidikan di penjara.
Muncul Cha Yi-yeon (Keum Sae-rok) sebagai jaksa penuntut yang menyelidiki kasus tersebut. Dia ini tuh anak bungsu konglomerat yang ingin mandiri dalam bekerja. Padahal kalo mau minta kerjaan, dia tinggal minta ke bokapnya dan bisa masuk ke tim legal perusahaan bokapnya. Tapi Yi-yeon ini tidak mau dan memilih menjadi jaksa. Idealis, anak Gen Y gitu loh. Hehe.
Konflik makin seru karena muncul Park Han-joon (Sung Dong-il) sebagai pengacara independen. Kebetulan, dia punya anak dengan kelainan penyakit yang belum bisa disembuhkan oleh dokter. Padahal, istrinya seorang dokter. Tapi juga belum berhasil menemukan obatnya.
Salah satunya cara mengobati penyakit aneh putrinya ini dengan menyerahkan ke Woo-gyeom. Masalahnya, apakah mau menyerahkan anak semata wayang ke seorang pembunuh meski berdalih bisa mengobati penyakit langka dan aneh yang tidak bisa disembuhkan dunia kedokteran?
Review Sinopsis Drama Korea Bloody Flower
Yang membedakan cerita Review Sinopsis Drama Korea Bloody Flower dari drama kriminal biasa adalah premis moralnya: Woo-gyeom mengklaim bahwa tindakannya (termasuk pembunuhan) didorong oleh keyakinan bahwa ia telah menemukan metode untuk menyembuhkan penyakit yang tidak terselesaikan oleh ilmu modern.
Selain itu, Woo-gyeom berniat membagikan “obat” itu demi umat manusia jika ia tidak dijatuhi hukuman mati.
Konflik utama Review Sinopsis Drama Korea Bloody Flower berkisar pada pertanyaan moral dan hukum—apakah seorang pembunuh bisa disebut penyelamat jika tindakannya menghasilkan potensi penyembuhan jutaan orang?
Masalah juga muncul saat saksi yang pernah mendapatkan ‘pengobatan’ Woo-gyeom ternyata menolak untuk bersaksi di pengadilan. Ini tentu saja akan memberatkan tuntutan jaksa yang menginginkan Woo-gyeom harus mendapatkan hukuman setimpal. Misal penjara seumur hidup atau hukum mati.
Di sisi lain, ia mendapatkan bantuan hukum dari pengacara independen Park Han-joon. Firma hukum Han-joon sudah mengingatkan agar dia tidak membela Woo-gyeom. Di mana-mana pembunuh berantai tidak akan bisa selamat dari hukum. So, ngapain dibela?
Tapi, Han-joon sebenarnya ingin mendapatkan pengobatan dari Woo-gyeom karena beberapa pasien sudah sembuh akibat ‘penelitian ilegal’ tersebut. Masalahnya nanti, apakah sang putri tunggal Han-joon mau diuji coba agar bisa sembuh? Sekaligus menyelamatkan tuntutan dan dakwaan dari jaksa yang ngotot memenjarakan dan menghukum Woo-gyeom.
Penayangan & Jadwal Rilis Bloody Flower
Platform penayangan Review Sinopsis Drama Korea Bloody Flower yakni:
Disney+ sebagai jaringan utama sejak 4 Februari 2026.
Di beberapa wilayah juga tersedia di Viu, Kocowa, OnDemandKorea, U-Next sesuai hak siar internasional.
Jadwal dan Format Rilis
Total 8 episode — dua episode baru dirilis setiap Rabu selama empat minggu berturut-turut:
• Episode 1–2: 4 Februari 2026
• Episode 3–4: 11 Februari 2026
• Episode 5–6: 18 Februari 2026
• Episode 7–8: 25 Februari 2026
Daftar Pemain Utama Bloody Flower
Berikut beberapa pemeran utama Bloody Flower:
Ryeoun sebagai Lee Woo-gyeom — sosok pembunuh berantai dengan kemampuan medis luar biasa. Akting dia sangat kontras dengan menjadi sosok antagonis di Bloody Flower. Beda banget saat menjadi cowok manis dan bisu di Twinkling Watermelon atau menjadi cowok tangguh di Weak Hero Class 2.
Sung Dong-il sebagai Park Han-joon — pengacara dengan agenda pribadi. Seorang ayah yang peduli dengan penyakit aneh putrinya. Dan menjadi seorang pengacara yang dipecat firma hukumnya karena membela klien seorang pembunuh berantai.

Keum Sae-rok sebagai Cha Yi-yeon — jaksa yang berjuang menegakkan hukum. Meski dia berlatar belakang anak konglomerat, dia bertekad membangun kariernya sendiri, alih-alih minta kerjaan ke ayahnya.
Pemeran pendukung lain termasuk Shin Seung-hwan, Jung So-ri, dan Ko Kyu-pil dalam peran investigatif dan naratif tambahan.
Pesan & Konflik Moral di Drama Korea Bloody Flower
Review Sinopsis Drama Korea Bloody Flower ingin menggugah pemikiran tentang beberapa tema besar:
Etika Medis vs Hukum
Review Sinopsis Drama Korea Bloody Flower memaksa penonton mempertanyakan batas antara manfaat ilmiah dan biaya nyawa manusia. Apakah tujuan mulia dapat membenarkan langkah kejam?
Hukum vs Kemanusiaan
Review Sinopsis Drama Korea Bloody Flower memperlihatkan konflik antara penegakan hukum yang tegas (hukuman atas pembunuhan) dan kebutuhan kemanusiaan (harapan hidup melalui “penemuan medis”)
Moralitas Individu
Dengan karakter yang kuat dan latar belakang konflik emosional, penonton diajak menyelami pertanyaan seperti: Apakah kita bisa benar-benar mengetahui apa yang benar saat hidup dan mati dipertaruhkan? Karena bagi Woo-gyem, kehidupan dan kematian tidak ada bedanya.
Apakah Pembunuhan Dapat Dibela atas Nama “Pengobatan”?
Dalam konteks realitas hukum di dunia nyata, pembunuhan tetap tindak pidana serius dan tidak bisa dibenarkan hanya karena motif “untuk tujuan pengobatan”, meskipun ada niat baik:
Prinsip Hukum Kriminal Umum
Pembunuhan atau eksperimen medis tanpa izin adalah kejahatan serius di sebagian besar yurisdiksi dunia, termasuk Korea Selatan dan Indonesia.
Bahkan motif “penyelamatan banyak nyawa” bukan pembelaan hukum yang sah kecuali dalam konteks tertentu (misal membela diri secara langsung).
Etika Medis Global
Organisasi medis internasional (misal World Medical Association) tegas melarang eksperimen medis tanpa persetujuan yang sah dan aturan protokol etik.
Etika profesi medis modern mensyaratkan informed consent, standar keselamatan, dan pengawasan ketat — belum pernah diakui bahwa eksperimen manusia tanpa persetujuan membenarkan pembunuhan.

Hukum di Indonesia (contoh)
Di Indonesia, pembunuhan dan percobaan medis tanpa izin merupakan pelanggaran hukum pidana dan bisa diancam pidana penjara di bawah KUHP serta aturan etika profesi medis.
Pembunuhan: diatur dalam Bab tentang Tindak Pidana Pembunuhan (misal Pasal 338 KUHP).
Eksperimen medis ilegal bisa dikualifikasi sebagai pelanggaran hukum kesehatan dan pidana.
Singkatnya, di kehidupan nyata seorang individu tidak dapat melepaskan diri dari tanggung jawab pidana hanya dengan alasan “untuk pengobatan”, bahkan jika motivasinya terkesan mulia.
Prediksi Akhir Drama Korea Bloody Flower
Meski baru dua episode main, kita main prediksi ending Drama Korea Bloody Flower—tanpa spoiler resmi, tapi berdasarkan pola drama Korea + logika cerita Bloody Flower.
Lee Woo-gyeom Tidak Akan Benar-Benar “Menang”
Kemungkinan besar, Woo-gyeom tetap dihukum—entah hukuman mati atau penjara seumur hidup.
Drama Korea hampir tidak pernah mengizinkan pembunuh berantai lolos, meskipun motifnya “menyelamatkan manusia”.
Ini penting untuk pesan moral: Tujuan mulia tidak menghapus dosa pembunuhan. Namun, cara dia dihukum tidak hitam-putih.
Penelitiannya Tetap Hidup, Tapi Bukan Atas Namanya
Ini pola klasik tapi kuat:
• Formula / metode pengobatan Woo-gyeom diakui memiliki potensi
• Negara atau lembaga medis mengambil alih risetnya
• Penemuan itu disempurnakan secara legal & etis
Ironinya:
Dunia mungkin terselamatkan oleh temuannya, tapi namanya akan dihapus dari sejarah medis. Ini hukuman sosial yang jauh lebih pahit dari kematian.
Pengacara Park Han-joon Kehilangan Segalanya
Prediksi pahit tapi realistis:
• Putrinya tidak sembuh sepenuhnya ATAU sembuh tapi masih ‘cacat’ kayak sebelumnya
• Han-joon kehilangan lisensi, reputasi, atau bahkan dipenjara karena kompromi moralnya
Pesan yang mau ditegaskan:
Mengorbankan hukum demi keluarga
tetaplah pelanggaran hukum. Drama ini tidak ingin memanjakan emosi penonton—dia ingin menampar nurani.
Jaksa Cha Yi-yeon Jadi “Pemenang Moral”, Tapi Terluka
Cha Yi-yeon kemungkinan:
• Menang secara hukum
• Tapi menyimpan konflik batin seumur hidup
Ia tahu:
• Woo-gyeom jahat
Tapi juga tahu: tanpa dia, banyak pasien tak punya harapan. Karena ia sebenarnya tahu, saat pasien sudah mendapatkan pengobatan Woo-gyeom dan sembuh tapi malah berobat lagi ke rumah sakit, maka penyakitnya itu akan tidak bisa disembuhkan lagi
Ending-nya kemungkinan sunyi:
Bukan selebrasi keadilan, tapi keadilan yang dingin dan menyisakan luka.
Scene Penutup yang Sangat “Bloody Flower”
Prediksi Adegan Terakhir
Bunga berdarah (simbol judul)
• Mekar di penjara, rumah sakit, atau makam
• Voice-over tentang hidup, kematian, dan pilihan manusia
Atau:
• Seorang anak kecil pasien tersenyum karena pengobatan baru
• Cut ke Woo-gyeom di balik jeruji / menjelang eksekusi
Pesan terakhirnya kemungkinan besar:
“Kemanusiaan tanpa hukum adalah kekacauan. Hukum tanpa kemanusiaan adalah kehampaan.”
