open dumping sampah
Reportase

Jalan Terjal Mengurai Sampah Nasional

Masalah sampah tiap tahun terus bertambah. Baik soal jenis, pengelolaan, tempat pembuangan, hingga jumlah. Apalagi setiap tahun, jumlah manusia di dunia terus berubah. Tak terkecuali di Indonesia yang terdiri atas beragam wilayah.

Jumlah Sampah di Indonesia

Berdasarkan Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) RI, jumlah timbunan sampah di Indonesia sepanjang 2021 mencapai 29,8 juta ton. Dari jumlah tersebut, sekitar 17,54 persen merupakan sampah plastik. Miris sekali.

Yang lebih mencengangkan, sumber sampah tersebut berasal dari rumah tangga. Jumlahnya sekitar 40,88 persen. Adapun sumber sampah lainnya pada tahun lalu sekitar 18,08 persen dari perniagaan, sekitar 17,34 persen dari pasar, perkantoran 8,17 persen, fasilitas publik 6,32 persen, dan kawasan 5,8 persen.

Yang patut disyukuri, jumlah sampah di Indonesia diklaim terus menurun. KLHK mencatat, jumlah sampah di Indonesia pada 2020 mencapai 67,8 juta ton. Artinya, sudah ada penurunan 56 persen.

tumpukan sampah plastik di tempat pembuangan akhir.

Padahal pada periode 2020, jumlah penduduk Indonesia sekitar 270 juta jiwa. Artinya, setiap penduduk memproduksi sekitar 0,68 kilogram sampah per hari.

Namun saat mengacu data terbaru SIPSN, jumlah timbulan sampah pada 2019 mencapai 29,173 juta ton. Pada 2020 naik menjadi 32,28 juta ton. Pada 2021 mencapai 30,89 juta ton. Artinya, sudah ada penurunan meski tidak banyak.

Pemerintah mengklaim, masalah sampah, terutama sampah plastik menjadi prioritas pengurangan jumlah. Perlu dukungan dari berbagai pihak masyarakat untuk menyelesaikan masalah ini.

Prioritaskan Tata Kelola Sampah

Lonjakan produksi sampah nasional tentu menimbulkan masalah baru. Apalagi kalau bukan pencemaran lingkungan, khususnya saat tiba di tempat pembuangan akhir (TPA).

Salah satu kasus besar yang sempat terjadi yakni ledakan gas meta di gunungan sampah TPA Cireundeu, Leuwigajah, Cimahi, Jawa Barat pada 21 Januari 2015.

Ledakan ini memicu kasus longsor di Kampung Cilimus dan Kampung Pojok, Cimahi. Saat itu ledakan gas metana menewaskan 157 warga. Bahkan tak sedikit mereka berprofesi sebagai pemulung.

Kasus tersebut harus menjadi perhatian. Terutama TPA-TPA yang memiliki produksi besar sampah. Terutama di TPA Bantargebang yang menjadi TPA paling besar di Tanah Air. TPA tersebut menampung 8.000 ton produksi sampah dari masyarakat DKI Jakarta setiap hari.

Open dumping sampah.

Pemerintah sebenarnya telah memiliki tata kelola sampah. Misalnya dengan open dumping serta sanitary landfill. Open dumping berarti sampah dibuang begitu saja dalam sebuah TPA tanpa perlakuan apa pun. Tak ada penutupan dengan tanah sehingga dinilai sangat mengganggu lingkungan.

Istilah sanitary landfill berarti sistem pengelolaan atau pemusnahan sampah dengan membuang dan menumpuk sampah di lokasi cekung, memadatkan, dan kemudian menimbun dengan tanah. Klaim pemerintah, dua cara tadi mengontribusikan 69 persen pengelolaan sampah Tanah Air.

Apakah pengelolaan sampah itu tepat? Pemerintah sih mengklaim belum optimal. Lantas bagaimana caranya?

Target Pengurangan Sampah Plastik Nasional

Pemerintah juga mengklaim telah memiliki target pengurangan sampah plastik hingga 70 persen pada 2025. Ambisinya, Indonesia ingin bebas sampah plastik, terutama di lautan pada tahun 2040. Semoga Indonesia bebas sampah saat perayaan 100 tahun Indonesia merdeka pada 2045 ya.

Tentu pencapaian itu tak akan terlaksana tanpa pelibatan masyarakat. Seketat apa pun aturan, saat tak ada penindakan ya akan tetap menjadi imbauan. Itulah pentingnya kolaborasi antara pemerintah dan swasta, sekaligus masyarakat lokal untuk membantu mempercepat penanganan sampah nasional.

Merek sampah plastik terbanyak di Indonesia

Salah satu caranya dengan edukasi masyarakat terkait lingkungan. Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia KLHK Ade Palguna mengatakan, pemerintah akan mengajak lebih banyak perusahaan swasta untuk terlibat dalam penanganan sampah di Indonesia. “Sehingga mereka juga bertanggung jawab dengan isu sampah yang mereka dan masyarakat hasilkan,” kata Ade.

Pengelolaan Sampah Nasional Ketinggalan Zaman

Kepala Sub Direktorat Barang dan Kemasan, Direktorat Pengelolaan Sampah KLHK Ujang Solihin Sidik mengatakan, kapasitas pengelolaan sampah di 514 kabupaten/kota di Indonesia rata-rata di bawah 50 persen, kecuali di kota besar yang sudah mencapai 70-80 persen.

Pola masyarakat dalam membuang sampah juga sudah ketinggalan zaman. Alias sampah dikumpulkan, angkut, dan buang di TPA.

solusi sampah di Indonesia

Padahal cara itu harus segera ditinggalkan dan harus segera menerapkan konsep ekonomi sirkular. Cara ini memanfaatkan nilai ekonomi sampah secara maksimal dengan menerapkan reduce, reuse, dan recycle (3R) atau daur ulang sampah dan metode bank sampah.

Meski, Kementerian LHK mengklaim daya serap daur ulang sampah di Indonesia hanya sekitar 11 persen. Nilai itu bahkan lebih buruk jika dibandingkan dengan Kolombia yang sudah mencapai 20 persen. Namun jangan dibandingkan dengan pencapaian dengan Korea Selatan yang sudah mencapai 50 persen.

Kendati demikian pemerintah mengklaim, metode ini telah berjalan lima tahun terakhir. Cara pengelolaan sampah ini terbukti manjur untuk menekan produksi sampah nasional.

Partisipasi Swasta Mengurai Sampah Nasional

Kolaborasi menjadi kunci penanganan masalah nasional. Tak terkecuali masalah sampah. Perusahaan swasta mengalokasikan dana sosial berkelanjutannya untuk mengembangkan desa-desa yang memiliki nilai sesuai visi perusahaan.

Kampung Berseri Astra

Salah satu perusahaan swasta yang aktif mengkampanyekan dan mendukung penanganan masalah nasional yakni PT Astra Internasional Tbk (ASII) beserta anak usahanya.

Melalui program Satu Indonesia, perusahaan yang berusia lebih dari 65 tahun ini meluncurkan Kampung Berseri Astra (KBA) sejak 2013. Tahun ini, KBA telah tercipta di 167 titik di seluruh Indonesia.

Komitmen Astra itu seiring dengan program pemerintah, yakni membangun desa sekaligus mengajak partisipasi warga dalam menuntaskan masalah sosial hingga ekonomi di sekitarnya.

Kegiatan Kampung Berseri Astra di Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu. Dok: Kumparan

Pelibatan penduduk dalam pengembangan kampung bertujuan agar program yang diluncurkan benar-benar menjadi program yang dapat menjawab kebutuhan masyarakat setempat. Caranya dengan mengajak warga untuk terlibat meningkatkan kualitas kehidupan, baik dalam pendidikan, kesehatan, lingkungan hingga standar kesejahteraan.

Hingga 2020, Astra telah menciptakan 87 titik KBA di 34 provinsi. KBA ini menitikberatkan pada program kesehatan, pendidikan, lingkungan, dan kewirausahaan.

Baca juga:

Asuransi Kesehatan Astra Life

Desa Sejahtera Astra

Salah satu perwujudan Kampung Berseri Astra (KBA) dengan menciptakan program Desa Sejahtera Astra (DSA). Yang menarik, program yang dimulai sejak 2018 ini akan memberikan dukungan desa yang bersih, sehat, cerdas, dan produktif.

Caranya, Desa Sejahtera Astra akan mendorong kegiatan peningkatan ekonomi berbasis masyarakat dengan mengoptimalkan potensi lokal. Utamanya, yang memberikan nilai tambah ekonomi bagi masyarakat desa.

Hingga tahun 2021, Astra. tak terkecuali Astra Financial Service telah mengembangkan 755 DSA yang tersebar di 34 provinsi melalui dana tanggung jawab sosial perusahaan (corporate social responsibility/CSR).

Sebanyak 400 dari 755 DSA berstatus gugus desa pertanian. Status ini berarti desa tersebut menghasilkan berbagai produk seperti padi, sorgum, jagung, hortikultura, dan lainnya.

DSA gugus pertanian ini berdampak meningkatkan 31,2 persen pendapatan warga, membuka 4.008 lapangan kerja baru, dan 81,6 persen produk terserap pasar.

Mencontoh Pengelolaan Sampah di Pulau Pramuka

Salah satu Desa Sejahtera Astra yang sukses menerapkan pelibatan ekonomi masyarakat yakni DKI Jakarta. Warga menyetorkan sampah plastik ke sebuah tempat. Kemudian sampah plastik akan dikeringkan dan dicacah menggunakan mesin pencacah sampah plastik. Nantinya, cacahan sampah plastik tersebut dijual oleh Rumah Hijau (tempat penyetoran sampah di Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu) kepada penadah di Muara Angke, Jakarta Utara.

Untuk mengolah sampah plastik lain seperti kantong plastik, bungkus mi instan hingga sedotan, Rumah Hijau menerapkan dua metode. Pertama, mendaur ulang sampah plastik menjadi berbagai macam kerajinan tangan. Mulai dari bunga buatan, gantungan kunci, hingga tas tangan.

Desa Sejahtera Astra di Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu

Rumah Hijau melibatkan ibu-ibu untuk mengolah sampah plastik menjadi hal berguna tersebut. Untuk memacu semangat dan memberi nilai ekonomi warga, Rumah Hijau mendirikan bank sampah. Sampah yang disetorkan warga akan ditimbang dan ditukar dengan uang.

Untuk botol plastik dihargai Rp 4.000 per kilogram. Gelas plastik dihargai Rp 6.000 per kilogram.

Uang ini akan masuk tabungan dan hanya bisa diambil untuk membeli beras, biaya keperluan sekolah atau berobat. Intinya, tabungan bank sampah ini harus benar-benar untuk memenuhi kebutuhan pokok warga.

Kedua, membuat bata ramah lingkungan atau yang dikenal dengan istilah ecobrick. Dengan metode ini, botol plastik diisi dengan berbagai macam sampah plastik yang telah dipotong kecil hingga padat. Ecobrick kemudian direkatkan dan dibentuk menjadi berbagai peralatan rumah tangga, seperti kursi, meja, hingga hiasan dinding.

Rumah Hijau memberlakukan dua jenis botol, ukuran 600 ml dan 1,5 liter yang dapat diolah menjadi ecobrick. Setiap ecobrick akan dihargai mulai Rp 2.000 yang akan disetor dan diverifikasi oleh petugas bank sampah. Ecobrick akan disimpan di Rumah Hijau. Tak menutup kemungkinan, saat ada pesanan, ecobrick juga dijual ke luar pulau.

Ibu Mahariah, pencetus Pulauku Nol Sampah di Kampung Berseri Astra Desa Sejahtera Astra
Ibu Mahariah, pencetus Pulauku Nol Sampah

Pencetus Pulauku Nol Sampah, Mahariah mengatakan, upaya tersebut akan mendorong Pulau Pramuka menjadi nol sampah, terutama sampah plastik. Imbasnya, sampah plastik tak lagi mencemari lingkungan pulau wisata ini. Sehingga warga dapat hidup lebih nyaman.

Namun perjuangan Mahariah tak gampang. Sederet jalan terjal perjuangan demi menekan jumlah sampah di Pulau Pramuka. Pada 2009 saat banjir bandang melanda DKI Jakarta. Sebagian besar tanaman bakau di Pulau Pramuka mati akibat gempuran sampah plastik kiriman.

Imbas tanaman bakau hilang, terjadi abrasi pantai, terumbu karang mati, hingga biota laut kehilangan nutrisi. Nelayan kesulitan mencari ikan. Pariwisata daerah kehilangan minat wisatawan. Akhirnya, kesejahteraan warga Pulau Pramuka menjadi taruhan.

Mahariah yang seorang guru, mengajarkan masyarakat untuk memilah sampah, meski ditolak warga. Mahariah bahkan dituding ingin mendapat bayaran atas aksinya.

Pada 2015, ia mendirikan Rumah Hijau dengan hanya melibatkan 9 keluarga saja. Kegiatannya tentu saja aksi peduli lingkungan sekitar. Akhirnya pada 2017, Presiden Joko Widodo memberikan penghargaan Kalpataru Tingkat Nasional kepada Mahariah karena pengabdiannya dalam melestarikan lingkungan hidup.

Melalui program “Pulauku Cantik Tanpa Kantong Plastik”, Mahariah terus berjuang untuk melestarikan lingkungan Pulau Pramuka. Ternyata sejak 2015, Astra Group telah melirik perjuangan Mahariah.

Sejak pertama kali Rumah Hijau didirikan, Astra memang sudah hadir mendukung kami.

mahariah, pendiri rumah hijau pulau pramuka,
penerima anugerah kalpataru tingkat nasional tahun 2017

Astra Group memberikan dukungan alat pengolahan sampah organik, alat pembuat kompos dari sampah (komposter) di setiap rumah warga, pemanfaatan biodigister (mengubah sampah organik menjadi energi alternatif yang ramah lingkungan seperti biogas), serta edukasi tanaman hidroponik di pekarangan rumah.

Tak hanya itu, Astra juga memberikan pelatihan produk pangan olahan. Salah satunya keripik sukun dan jepa (penganan khas daerah kepulauan yang terbuat dari buah alkesah/sawo mentega).

Semangat Mahariah dalam menjaga kelestarian lingkungan serta menjaga kampungnya tetap berseri, patut dijadikan contoh. Itulah sebab Astra memberikan dukungan penuh agar semangat Mahariah dapat menyebar ke setiap penjuru wilayah. Tak hanya menjadikan wilayahnya bebas sampah, tapi juga memberikan inspirasi bagi siapa saja untuk menjaga lingkungannya lebih hijau.

Bank Sampah Perum Telaga Murni Bekasi

Sebelum ada pembinaan dari Astra Group, masyarakat RW 05 Telaga Murni sebenarnya telah memiliki bank sampah. Awalnya bank sampah masih menumpang di sekretariat RW. Namun setelah ada dana swadaya dan bantuan dari Astra, bank sampah secara permanen telah tercipta di sana. Terdapat juga bak motor untuk menjemput sampah di tiap rumah warga.

PT Yutaka Manufacturing Indonesia (YMI), perusahaan patungan antara Yutaka Giken Co Ltd Japan dan PT Astra Honda Motor, menjadi perusahaan yang membina sekaligus mendukung manajemen bank sampah di Perum Telaga Murni, menjadi lebih rapi.

Bank sampah di Perum Telaga Murni Bekasi

Semula tabungan sampah belum tercatat khusus. Kini memiliki tabungan bank sampah yang lebih baik dan tercatat rapi.

Astra juga mendorong kegiatan bersih kampung antar RT di lingkungan RW 05 Telaga Murni. Hadiah bukanlah yang utama. Namun gotong rotong warga menjadikan lomba ini semakin menarik. Lingkungan bisa enak dipandang. Zero Waste bukan sebatas mimpi.

Saat lomba kebersihan antardesa di Kabupaten Bekasi, terbukti wilayah RW 05 Perum Telaga Murni meraih Juara 1 Lomba K7 Antar Kampung Sehat Tingkat Kabupaten Bekasi pada 2016. Selain itu, RW 05 menjadi tolak ukur penilaian Adipura Tingkat Kabupaten Bekasi.

Awalnya banyak warga yang pesimis. Berkat Astra, kampung kami bisa seperti sekarang ini. Semoga virus kebaikan ini bisa menular ke kampung lain. Minimal ke kampung sebelah.

Ketua RW 05 Perum Telaga Murni KBA Telaga Murni, Pak Rodian

Penanganan Sampah Bukan Hanya Urusan Pemerintah

Upaya untuk menekan jumlah sampah sudah semestinya sama besarnya dengan upaya menghadapi penyebaran virus corona. Namun tentu harus ada kesamaan visi dan niat dari seluruh pemangku kepentingan.

Harapannya, timbunan sampah tidak semakin meninggi dan menjadi beban bagi anak cucu di kemudian hari.

Melalui program Satu Indonesia dengan kegiatan Kampung Berseri Astra dan Desa Sejahtera Astra, pengelolaan sampah bisa terlaksana sempurna. Saat program ini diadopsi di setiap desa, bukan tak mungkin nol sampah tercipta.

Buku Kampung Berseri Astra Desa Sejahtera Astra

Imbasnya, target Indonesia bebas sampah plastik bisa segera terwujud. Apalagi berkat bantuan dari perusahaan Astra Group. Terima kasih Sumbangsih Astra untuk Kesejahteraan Desa.

Melalui program Kampung Berseri Astra dan Desa Sejahtera Astra, Astra ingin mengobarkan semangat warga dan memupuk asa demi terwujudnya lingkungan yang bersih sekaligus menjadi inspirasi dunia.

Astra International, Daihatsu, Toyota, Honda, Kampung Sawah, Lengkong Kulon, Pandeglang, Stunting, Ekonomi, Kampung Berseri Astra
Wajah ceria anak-anak Kampung Sawah, Desa Lengkong Kulon di Tangerang, Sabtu (15/12/2018). Mereka berbahagia mendapatkan pembinaan dari Astra International. Foto: Didik Purwanto

Anda mungkin juga suka...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *