Tips Menggunakan Media Sosial Era Pandemi
Sayur Socmed

Tips Menggunakan Media Sosial Saat Pandemi COVID-19

Sudah lebih 1,5 tahun pandemi COVID-19 melanda Indonesia. Ketakutan hingga kepanikan masih melanda keluarga kita. Terutama yang terpapar virus corona. 

Meski kasus sudah agak melandai, bukan berarti kita bisa abai. Protokol kesehatan yang selalu digaungkan pemerintah harus selalu dipatuhi. Tak peduli sekarang atau nanti.

Mengikuti perkembangan terkini di media sosial sudah menjadi jawaban pasti. Namun, kita harus hati-hati. Tak semua media punya kredibilitas tinggi. Bijaklah memilih media sosial di saat pandemi COVID-19 agar kehidupanmu tenang dan damai.

Ikuti Akun Resmi Pemerintah

Pada kondisi saat ini, informasi resmi dari pemerintah menjadi prioritas bacaan. Pastikan informasi tersebut valid dan langsung dari akun resmi pemerintah.

Akun resmi pemerintah biasanya dari Presiden, Sekretariat Kabinet, hingga akun kementerian dan pemerintah provinsi atau pemerintah daerah. Hati-hati melihat akun pribadi menteri. Terkadang mereka mencuit hal pribadi, bukan pandangan resmi pemerintah. Di sini kita perlu teliti.

Masing-masing akun tersebut memiliki tim media hubungan masyarakat (humas) yang sudah satu suara dalam menginformasikan sesuatu. Biasanya terarah dari pemerintah pusat hingga ke bawah atau sebaliknya.

Bila mengetahui informasi bohong (hoaks) soal sesuatu, segera laporkan saja ke kementerian terkait. Biasanya, tim media tersebut akan membalas dengan informasi yang benar atau meluruskan yang salah, kalau ada.

Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Johnny G Plate juga meminta platform media sosial lebih aktif mengatasi penyebaran hoaks tentang COVID-19 ini.

Berdasarkan data Kemkominfo, sejak 23 Januari 2020 hingga 18 Juli 2021, terdapat 1.763 isu hoax COVID-19. Data itu tersebar melalui 3.817 unggahan di media sosial.

Sebanyak 3.356 unggahan sudah diturunkan. Sekitar 767 kasus hoaks diajukan ke ranah hukum.

Isu hoaks yang sering dihembuskan oknum antara lain tuduhan rumah sakit “meng-COVID-kan” pasien hingga kabar konspirasi COVID-19.

Selain itu, Kominfo juga menemukan 252 isu hoaks vaksin COVID-19. Isu hoaks ini dimuat di 1.850 unggahan media sosial. Banyak juga ya kasus seperti ini? Apa mereka tidak memikirkan dampak bagi yang membacanya ya? 

Oleh karena itu, jika sangat penting untuk disampaikan, pemerintah biasanya akan menggelar konferensi pers untuk diketahui khalayak.

Jadi, jangan sampai menyebarkan informasi hoaks, terutama saat pandemi seperti ini. Bisa jadi, malah ditangkap polisi seperti pemuda asal Kendari ini. Dia menyebarkan informasi hoaks soal vaksin COVID-19 di media sosial.

So, sudah follow akun resmi pemerintah atau lembaga resmi kan? Biar kalian tidak sesat dan salah jalan dalam mendapatkan informasi yang akurat dan terdepan.

Selalu Ingin Tahu Informasi Terbaru

Buat kalian yang selalu up to date hal kekinian, biasanya selalu memiliki media sosial yang banyak dipakai orang.

Buktinya, 98,5 persen dari 181,9 juta populasi masyarakat Indonesia menghabiskan waktunya berselancar di internet dengan menonton video daring (online) atau streaming. Salah satunya, YouTube. Itu artinya, 179,1 juta orang Indonesia memanfaatkan internet untuk menonton video online.

Data tersebut merupakan penelitian dari Hootsuite dan We Are Social pada Januari 2021. Orang Indonesia yang banyak menghabiskan menonton video online berusia 16-24 tahun. 

Selain YouTube, masyarakat Indonesia juga menggunakan media sosial lain, seperti Facebook, WhatsApp, Instagram, hingga Twitter.

Dari penelitian itu juga diketahui ternyata ada 170 juta pengguna media sosial di Indonesia pada periode yang sama. Jumlah itu meningkat 6,3 persen (sekitar 10 juta pengguna) pada Januari 2020.

Menariknya, jumlah pengguna media sosial aktif di Indonesia sekitar 170 juta orang atau sekitar 61,8 persen dari total populasi pada Januari 2021.

Rata-rata mereka menghabiskan waktu menggunakan media sosial sekitar 3 jam 14 menit per hari. Namun untuk menghabiskan waktu membaca media cetak atau online hanya 1 jam 38 menit. Duh!

Untungnya, 60 persen pengguna ini memakai media sosial untuk bekerja. Semoga bener-bener untuk pekerjaan ya, bukan untuk pamer atau menyebarkan hoaks. Hehehe..

Menurut Dosen Sekolah Vokasi IPB University Willy Bachtiar, media sosial juga cocok untuk mempelajari tanggapan orang lain terhadap suatu hal. Misalnya, seperti buku, film, resep masakan, kesehatan, olahraga, keuangan, teknologi, dan apa pun.

Willy bilang, mengikuti akun-akun yang memberikan dampak positif di media sosial akan membangkitkan minat yang dapat mendukung keinginan untuk belajar hal baru, meningkatkan ikatan sosial dan menciptakan sikap yang lebih baik selama masa pandemi COVID-19.

“Jadikan media sosial sebagai sarana pengembangan diri dengan mencari tahu informasi. Kita dapat membagi ide, gagasan, atau hasil karya juga pandangan terhadap suatu hal.”

Dosen Sekolah Vokasi IPB University Willy Bachtiar

“Dengan media sosial juga kita bisa memperoleh banyak informasi dengan mengikuti forum diskusi online maupun mengikuti akun-akun yang memberi motivasi dan dampak positif bagi diri.”

Kalian sudah follow akun media sosial apa saja yang memberikan dampak positif? Share donk.

Buatlah Konten Secara Bijak

Saat pandemi seperti ini, banyak informasi berseliweran setiap hari. Tak perlu diminta, group WhatsApp keluarga atau teman sudah membagikan aneka informasi. 

Namun, kita harus hati-hati. Semua informasi harus selalu dikroscek sana-sini. 

Di era digital saat ini, orang dengan sangat mudah menyebarkan informasi. Mereka juga tak peduli, apakah informasi yang disebar itu bermanfaat atau malah menjerumuskan nanti.

Dengan kondisi masyarakat kita yang serba panik saat pandemi, alangkah lebih baik membuat konten yang bijaksana. Selalu menyebarkan hal positif untuk mendukung sesama. 

Lebih baik lagi, jangan menyebarkan konten yang cenderung menyudutkan dan provokatif ke warga.

Akibat banyak konten hoaks dan ujaran kebencian, pemerintah sampai membentuk Komite Etika Berinternet. Komite ini bertugas menjaga ruang digital tetap sehat dan bisa dimanfaatkan secara produktif.

Komite ini muncul tidak lama setelah survei Microsoft di Asia Pasifik yang menunjukkan tingkat keberadaan warganet Indonesia berada di peringkat 29 dari 32 negara yang menjadi subjek penelitian di kawasan tersebut. Ini karena konten ujaran kebencian, perundungan siber serta tingkat penyebaran hoaks.

Penyebaran konten negatif hingga penyebaran hoaks yang marak ini akibat literasi digital nasional yang rendah.

Berdasarkan data Kemkominfo, indeks literasi digital nasional pada tahun 2020 tergolong sedang. Sementara penggunaan internet dan media sosial tinggi.

Dalam skala 5, indeks Indonesia di angka 3,47. Artinya, indeks tersebut dalam kategori “sedang menuju baik”. Skor 3 hingga 4 pada indeks literasi digital nasional tergolong sedang. Sementara skor 4 ke atas tergolong baik.

Indeks ini dihitung berdasarkan kemampuan informasi dan literasi data, komunikasi dan kolaborasi, keamanan dan kemampuan teknologi.

Nah, sudahkah kalian berbahasa positif dalam konten kreatif ini dalam menyebarkan konten saat pandemi ini? Yuk mulai dari media sosialmu sekarang.

Kurangi Terlalu Banyak Informasi

Mencari tahu lebih banyak informasi itu baik. Namun lebih banyak informasi masuk malah kadang bikin panik. 

Menurut Dosen Sekolah Vokasi IPB University Willy Bachtiar, rasa kepanikan, ketakutan hingga kecemasan banyak dialami orang, terutama di kondisi saat ini. Padahal kondisi psikologis yang bagus akan membantu imun kita tetap baik.

Salah satu cara agar tidak mengalami masalah imun dengan mengurangi banyak informasi yang diterima atau diakses.

Kita harus mengatur, kapan harus mengakses informasi. Informasi seperti apa yang harus dicari dan diterima. Pastikan informasi yang valid dan krusial.

Kita juga harus membangun empati. Pada situasi saat ini, harus lebih teliti dan selektif dalam membaca sebuah informasi.

Wikipediawan sekaligus Direktur Nara Bahasa Ivan Lanin menambahkan, untuk menjaring massa lebih luas, penggunaan media sosial lebih masif untuk menyebarkan informasi.

Media sosial kini memiliki banyak konten edukasi tetapi tetap menyenangkan. “Selama ini kita berpatokan edukasi harus dilakukan secara menarik. Sekarang dibalik, konten hiburan yang harus diselingi edukasi biar masyarakat tidak bosan dan menjangkau khalayak banyak,” kata Ivan.

“Namun jangan pernah melupakan situs web (untuk mendapatkan informasi).”

Selama ini kita berpatokan edukasi harus dilakukan secara menarik. Sekarang dibalik, konten hiburan yang harus diselingi edukasi.

Wikipediawan sekaligus Direktur Nara Bahasa Ivan Lanin

Direktur Jenderal Informasi dan Komunikasi Publik Kementerian Komunikasi dan Informatika Usman Kansong bilang, penggunaan media sosial kini makin masif. Banyak masyarakat mendapatkan informasi dari media sosial, dibandingkan media konvensional, baik media cetak dan media online (daring).

“Masalahnya, tingkat kepercayaan media sosial lebih rendah dibandingkan media konvensional. Artinya, masyarakat masih percaya media konvensional untuk mendapatkan informasi,” kata Usman.

Peran Indozone.id dalam Mengedukasi Masyarakat

Salah satu orang terkaya di dunia, Warren Buffett pernah bilang, semakin pintar wartawan, semakin baik masyarakatnya.

Artinya, wartawan yang pandai meramu informasi aktual dan kredibel akan memberikan manfaat kepada masyarakat. Apalagi yang disampaikan berupa konten positif dan edukatif.

Nah, di masa pandemi saat ini, memilah informasi yang masuk akan sangat penting bagi kesehatan mental. Jangan sampai banyak informasi masuk, malah bikin kita terus mengeluh.

Ada yang menyalahkan pemerintah. Ada yang menyalahkan kondisi lingkungan. Ada juga yang menyalahkan keluarga karena bantuan tak kunjung tiba saat terpapar virus corona.

Kini, tak perlu mengumpat siapa pun. Yang penting sekarang, saring semua informasi masuk. Jangan percaya media abal-abal yang suka membuat konten membual.

Tampilan website Indozone

Indozone sebagai perusahaan media digital akan memberikanmu ragam konten fenomenal. Selain itu, tak sekadar edukatif, tapi juga informatif.

Berdiri sejak 2019, Indozone memiliki tagline #KamuHarusTahu. Visinya sederhana, tapi luar biasa, menjadi media dengan banyak pelibatan masyarakat, berpengaruh dan selalu dibutuhkan oleh generasi milenial hingga generasi Z.

Sesuai riset Hootsuite dan We Are Social, dua generasi ini memiliki banyak waktu untuk mengonsumsi dan menyebarkan konten.

Meski medianya cenderung masih unyu karena baru, bukan berarti kredibilitasnya menjadi ragu. Indozone ternyata muncul dari akun Instagram @indozone.id pada 2014. Kontennya yang unik mendorong akun ini banyak pengikut.

Konten yang disajikan berupa kanal berita umum, food, soccer, game, travel, musik, beauty, seleb hingga health.

Yang unik, ada kanal Fakta dan Mitos. Konten seperti ini biasanya mudah viral karena menyajikan edukasi namun dengan penyajian ringan.

Misalnya, seperti mengapa malam minggu menjadi malam spesial untuk wakuncar? Mengapa hari Minggu ditetapkan sebagai hari libur di Indonesia? Dan informasi menarik lainnya.

Kanal unik lainnya yakni Videografik. Konten berupa perpaduan video dan teks ini memang marak menarik massa dan digemari warganet. Video berdurasi singkat makin disukai karena tak perlu membaca lama.

Apalagi, masyarakat Indonesia malas membaca tapi cerewet di media sosial. Data itu terungkap dari UNESCO yang menyatakan, literasi masyarakat Indonesia urutan kedua terbawah di dunia. Artinya, hanya 1 orang dari 1.000 orang Indonesia yang rajin membaca.

Di sisi lain, 98,3 persen dari masyarakat berusia 16-64 tahun memiliki gawai beragam tipe. Sekitar 98,2 persen merupakan ponsel cerdas (smartphone) dan 16 persen non-smartphone. Indonesia kini menjadi negara dengan pengguna aktif smartphone terbesar keempat di dunia setelah China, India, dan Amerika Serikat.

Kalau sudah kayak gini, ya pantas saja konten hoaks hingga ujaran kebencian masih marak. Pemerintah dan media harus sering bertindak. 

Tak hanya mengedukasi dengan menyajikan konten positif, tapi juga mendorong masyarakat lebih kreatif dalam bermedia sosial.

Kepala Badan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan E Aminudin Aziz bilang, jarimu adalah pedangmu. Jangan sampai kecepatan jari untuk langsung like dan share melebihi kecepatan otakmu.

Karena pandemi COVID-19 memicu masyarakat lebih banyak bekerja di rumah, pastikan mengakses media Indozone yang bikin hati bungah.

Anda mungkin juga suka...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *