nasabah-mencoba-layanan-perbankan-syariah
Coffee Money

Perbankan Syariah Harus Berubah

Perbankan syariah harus berubah sesuai tuntutan zaman. Bahkan generasi milenial dan Gen Z di seluruh dunia pun sudah mulai layanan perbankan syariah tersebut.

Namun yang menjadi masalah, layanan perbankan syariah belum memahami kecenderungan konsumen. Terutama yang menyasar generasi milenial hingga Gen Z.

Akses Perbankan Syariah Masih Susah

Berdasarkan laporan riset dari penyedia platform cloud-banking, Mambu, mayoritas pelanggan muda potensial untuk keuangan syariah akan mengadopsi perbankan syariah jika akses dipermudah.

Survei tersebut membidik 2.000 konsumen muslim milenial dan Gen Z di seluruh dunia. Hasilnya, mereka mulai meminati layanan perbankan syariah.

Dari laporan tersebut, sekitar 53 persen responden mengaku akan memilih perbankan syariah jika perbankan syariah meniadakan hambatan-hambatan yang ada saat ini.

Hal ini penting karena generasi milenial dan Gen Z sangat membutuhkan layanan perbankan yang beretika. Apalagi saat ini dunia di tengah pandemi COVID-19. Nasabah cenderung lebih mempertimbangkan aspek jangka panjang dan kepedulian sosial.

Dari riset Mambu tersebut, sekitar 74 persen responden berharap agar bank berinvestasi sesuai aturan agama. Selain itu, sekitar 75 persen berharap bank berinvestasi demi membawa kemaslahatan bagi dunia.

Yang agak menyeramkan, responden yang terdiri atas generasi milenial dan Gen Z ini berharap agar perbankan syariah tidak memberikan pinjaman kepada perusahaan rokok serta bandar-bandar judi resmi.

Nasabah Muda Inginkan Perubahan

Chief Customer Officer Mambu Elliot Limb bilang, konsumen muda menghendaki perubahan keuangan. Tidak terkecuali dalam pasar perbankan syariah.

Elliot juga bilang, tren perbankan syariah mencerminkan perluasan kebutuhan praktik perbankan yang beretika.

“Penduduk muslim yang sekitar 1,9 miliat merasa kurang terlayani dengan baik. Perbankan syariah dan perbankan konvensional jelas sama-sama berpeluang besar dalam memberikan solusi yang memenuhi kebutuhan konsumen modern,” kata Elliot.

Arab Business people

Di Indonesia, peluang mengembangkan pasar perbankan syariah masih besar. Apalagi sekitar 87 persen penduduk Indonesia beragama Islam.

Animo masyarakat Indonesia, kata Elliot, juga besar kepada perbankan digital. Terlebih tingkat kepemilikan ponsel dan penetrasi internet juga sangat cepat di Indonesia.

Hal inilah yang memacu perkembangan pesar penggunaan teknologi keuangan baru. Misalnya, pasar dompet elektronik (e-wallet). Di Indonesia, pangsa pasar e-wallet diproyeksikan mencapai US$ 25 miliar pada tahun 2025.

Perbankan Online Menjadi Penentu

Laporan riset Mambu mencatat, sekitar 78 persen responden berharap ketersediaan opsi perbankan online sebagai faktor penentu. Di era serba daring ini, mereka juga berharap dapat berinvestasi tanpa bertemu langsung.

Lebih tegas lagi, sekitar 74 persen responden mengharapkan akses mudah layanan perbankan syariah melalui aplikasi seluler. Jadi, nasabah bisa mengakses layanan perbankan secara bebas, dari mana saja dan kapan saja. 

“Ini dikatakan oleh sekitar 80 persen responden. Hasil serupa juga ditemukan di seluruh dunia,” kata Elliot.

Perombakan Digital Perbankan Indonesia

Managing Director APAC Mambu Myles Bertrand mengatakan, laporan tersebut sangat relevan bagi Indonesia. Hal ini terkait pangsa pasar generasi muda yang melek digital, baik produk dan layanan perbankan sangat besar.

“Perbankan syariah seharusnya sudah lama menjalani perombakan digital di kawasan ini,” kata Myles.

Menurut dia, hasil survei ini menemukan korelasi positif antara pemenuhan kebutuhan dan ekspektasi konsumen milenial muda dan Gen Z dengan laju perubahan dalam industri keuangan syariah di seluruh kawasan Asia Pasifik.

Country General Manager Mambu Indonesia Husni Fuad mengatakan, generasi muda muslim Indonesia sangat kritis terhadap perilaku beretika pada bank mereka. 

Mereka juga menyoroti tuntutan atas perbankan dan lembaga keuangan agar menyediakan layanan perbankan online atau berbasis aplikasi. Hal tersebut sudah tidak bisa ditawar-tawar.

Jadi Motivasi Perbankan Syariah

Dari riset Mambu, sekitar 57 persen responden yang saat ini belum menggunakan perbankan syariah mengaku siap menggunakannya jika akses lebih mudah. Angka ini mestinya menjadi motivasi bagi perbankan syariah dan bank-bank di Indonesia untuk menyediakan produk dan layanan digital sesuai syariah sebagai prioritas.

Terlebih lagi, pasar keuangan Indonesia saat ini masih kalah bersaing dengan industri layanan keuangan konvensional. Sejak November 2020, penetrasi perbankan syariah masih di bawah 10 persen dari total perbankan.

islamic banking sharia islam economy finance money management transaction concept

Penggunaan teknologi digital dan cloud-native berpotensi menjadi kunci mempercepat penyerapan layanan keuangan Indonesia, tak terkecuali menggenjot layanan perbankan syariah di negeri ini.

Anda mungkin juga suka...

1 Komentar

  1. wah sangat bermanfaat, terimakasih infonya ya kak 😀

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *