Tetap Cuan Sambil Rebahan di Tengah Pandemi 2
Coffee Money

Tetap Cuan Sambil Rebahan Di Tengah Pandemi

Tetap cuan sambil rebahan menjadi idaman semua orang. Apalagi di saat pandemi COVID-19 seperti sekarang. Kita dituntut untuk tetap berpenghasilan dalam mencukupi kebutuhan harian. Yuk kita intip, bisnis dan hal apa saja yang berpeluang moncer di tengah pandemi ini.

Bagi sebagian besar orang, kondisi COVID-19 justru menyengsarakan. Ada yang kena pemutusan hubungan kerja (PHK). Ada juga yang dipangkas gajinya. Atau bahkan dirumahkan tanpa gaji sama sekali.

Hadapi Hidup Dengan Bersyukur

Hingga saat ini, kita masih diberikan kesempatan memiliki waktu, kesehatan, dan uang. Praktisi dan inspirator investasi Ryan Filbert bilang, Anda tidak akan bisa dikatakan sejahtera jika tidak memiliki semua dari tiga hal tersebut.

Kadang kita punya waktu dan kesehatan, tapi tidak memiliki uang. Bisa jadi kita punya waktu dan uang, tapi kita diberikan beban sakit. Begitu juga kita saat diberikan uang melimpah dan kesehatan yang berkah, tapi tidak memiliki waktu untuk menikmati hidup.

Tetap Cuan Sambil Rebahan di Tengah Pandemi

“Salah satu dari tiga hal ini tidak ada, Anda bisa dibilang tidak sejahtera,” ujar Ryan dalam webinar yang aku ikuti beberapa waktu lalu.

Oleh karena itu, Ryan menyarankan tetap bersyukur dalam hidup. Apalagi dalam situasi kondisi pandemi COVID-19 seperti ini. Bukan untuk meratapi, tapi justru menjadi pelecut agar tetap produktif dalam hidup.

Jaga Kesehatan Dompet

Perencana keuangan Prita Ghozie bilang biaya hidup itu murah. Namun biaya pamer itu yang mahal. Dalam kondisi pandemi kini, menjaga kesehatan dompet menjadi hal penting.

Prita menyarankan untuk mengalokasikan gaji dengan metode paling sederhana. Sekitar 50 persen untuk kebutuhan hidup, 30 persen untuk tabungan (termasuk investasi), dan sisanya untuk hiburan. Bagaimana pun, dengan kondisi sulit seperti ini, dana hiburan tetap harus dialokasikan agar kita diberikan kewarasan.

Untuk porsi tabungan, sisihkan masing-masing 10 persen untuk tabungan, investasi, dan dana darurat. Susah memang, apalagi di kondisi seperti ini. Namun jangan mengeluh dulu. Ceritanya belum berakhir sampai di sini.

Di saat kondisi susah ini, kita tidak akan tahu pandemi akan berakhir cepat atau lambat. Kita juga tidak tahu, apakah kita terus diberikan kesehatan atau malah sebaliknya.

Sehat ini, bukan cuma urusan tubuh. Tapi juga urusan dompet. Balik lagi seperti yang diomongkan Ryan Filbert tadi. Jaga kesehatan dompet ini juga berkaitan dengan waktu dan kesehatan kita.

Meski ada yang bilang, sejahtera itu kaya raya, banyak harta, bisa beli apa saja. “Namun kita jangan sampai lupa. Tidak ada yang menjamin kita sehat terus. Kita tidak bisa bilang, investasi nanti saja lah kalau sudah tua. Iya kalau diberi hidup sampai tua. Kalau tidak? Jadi itu perlu dipersiapkan sejak sekarang,” kata Prita.

Perencanaan Keuangan di Masa Pandemi

Aku baru saja membaca buku Make It Happen dari Prita Ghozie. Untuk mengukur kesejahteraan, kita perlu mengecek kondisi keuangan. Seperti mengecek kepemilikan pinjaman, khususnya jenis cicilan hingga sisa cicilannya.

Perlu diingat juga, jangan sampai kondisi cicilan malah melebihi penghasilan. Prita menyarankan batas cicilan hanya 30 persen dari gaji. Lebih dari itu? Mati saja kau. Prita bilang, jika kita tidak bisa membeli barang atau jasa secara langsung, jangan coba-coba untuk mencicil barang atau jasa tersebut. Jika kalian tak mampu membeli lunas, berarti kalian belum dianggap mampu. Begitu katanya.

Buku Make It Happen dari Prita Ghozie
Buku Make It Happen dari Prita Ghozie. Foto: Didik Purwanto

Perlu juga menyisihkan dana darurat. Idealnya, sekitar 12 kali biaya hidup bulanan. Misalnya biaya hidup bulanan kita sekitar Rp 5 juta. Jadi kita perlu menyisihkan dana Rp 60 juta dalam setahun ke depan. Artinya, amit-amit kalau kita kena PHK atau dirumahkan, masih ada dana darurat tersebut.

“Kalau belum bisa penuh 12 bulan, bisa 4 bulan saja sudah bagus. Baru kalau sudah mengalokasikan dana darurat, segera alokasikan untuk investasi. Ingat ya, alokasikan. Bukan menyisakan,” kata Prita yang selalu ku ingat.

Yang perlu lagi, cek penghasilan kita. Usahakan cari penghasilan lain agar kita tidak terpaku pada satu sumber. “Bila belum punya, segera lah mencari,” ujar Prita.

Tetap Laris Saat Krisis

Ryan Filbert bilang, kondisi pandemi COVID-19 juga menguntungkan bagi sebagian orang. Ingat, pebisnis itu selalu bermain di celah. Mereka mampu melihat peluang apa saja yang muncul di lingkungan sekitarnya.

Ryan menceritakan, industri mainan menjadi salah satu sektor yang lagi naik daun selama pembatasan sosial berskala besar (PSBB). Bagaimana tidak, keluarga dipaksa untuk tinggal di rumah (work from home). Anak yang tidak bisa keluar rumah untuk bermain perlu mainan untuk menghindari kebosanan.

Kalau tidak punya modal untuk jual beli mainan, kita bisa menjalani bisnis dropship. Alias kita menjadi perantara dari produsen untuk dijual kembali dengan margin tertentu. Tetap cuan sambil rebahan, kan?

“Jadi ini bad news yang tidak selalu bad news. Tapi bisa menjadi good news, kalau tahu celahnya,” ujar Ryan.

Bisnis Mainan Anak

Aku pun juga tak mau menyia-nyiakan hal itu. Di kantor, aku jadi tukang kredit dadakan. Berbekal kartu kredit salah satu bank dan menyisihkan beberapa pendapatan, aku melayani jasa kredit dengan cicilan murah. Hahahaha.

Ternyata banyak juga peminatnya, mulai dari office boy hingga bos ku yang malas membuka platform e-commerce. Jadi aku melayani pembelian ponsel, peralatan rumah tangga, pulsa, tagihan listrik, hingga dana lunak berbunga jinak. Wkwkwkw. Lumayan lah bisa cuan buat dana hiburan di akhir pekan.

Maksimalkan Teknologi di Tengah Pandemi

Teknologi kini makin memudahkan pengguna. Pepatah bilang, siapa yang menguasai teknologi, dialah yang menguasai dunia. Itulah pepatah yang terus ku ingat hingga sekarang.

Di tengah harga ponsel dan paket internet yang kian murah, semua informasi bisa kita dapat dengan mudah. Asal rajin mengikuti informasi yang lagi tren saat ini, cuan pun bisa dengan mudah dicari.

Salah satu caranya, aku mengikuti akun-akun media sosial yang memberikan informasi tentang perencanaan keuangan, investasi atau ide-ide bisnis terkini.

Aku juga sedikit-sedikit mulai investasi di pasar modal. Menurut Head of Jakarta Representative Indonesia Stock Exchange Marco Poetra Kawet, baru 1,2 juta dari 268 juta masyarakat Indonesia yang berinvestasi di pasar modal.

“Ini peluang besar. Investor asing saja banyak yang melirik investasi di Indonesia. Kenapa kita malah sebaliknya?” kata Marco.

Justru dengan pandemi ini, banyak investor asing keluar sehingga investor lokal mendominasi. “Saat pulih nanti, asing pasti masuk lagi. Di situlah kita bisa taking profit,” ujarnya.

Jika tak mau menjadi pedagang (trader), kita bisa menjadi investor. Salah satu cuannya melalui dividen. Ini bagi hasil seperti sisa hasil usaha (SHU) di koperasi dulu. Namun akan disesuaikan dengan jumlah lot yang kita miliki sebagai pemegang saham suatu emiten.

Alhamdulillah, aku sudah menikmati dividen dari 15 emiten yang aku pegang. Mulai dari Adaro Energi hingga BCA. Belum lagi kalau harga saham lagi melonjak. Marginnya bisa lebih dari 20 persen setahun. Ingat, uang bekerja untuk kita. Enak juga tetap cuan sambil rebahan.

Blogger Jadi Profesi Baru

Di sela kesibukanku tadi, aku juga punya profesi baru menulis untuk melepas kepenatan. Topik yang aku pilih berupa teknologi dan keuangan. Dua hal ini memang menjadi fokusku selama ini.

Sebenarnya ada juga punya blog tentang traveling. Namun dengan kondisi saat ini, semua lagi tiarap. Terpaksa aku hentikan dan lebih fokus blog utamaku.

Kini, blog juga menjadi salah satu sumber penghasilanku. Memang belum begitu menghasilkan melebihi gajiku. Tapi saat terus kurawat, nanti hasilnya pasti akan hebat.

Langkah awalnya, kalian perlu cek domain untuk memilih nama web blog personal atau bisnis (e-commerce). Sekalian juga pilih hosting murah di tempat yang sama agar kalian tidak kerepotan saat mengurusnya.

Carilah perusahaan yang mampu menyediakan layanan 24 jam 7 hari seminggu. Saat ada kendala, petugas bisa siap siaga melayani kita. Terutama saat web atau blog kita bermasalah. Kan berabe kalau blog kita tidak bisa diakses. Bagaimana pun cuan kita diperoleh dari traffic dan kualitas tulisan kita.

Seperti kata Buya Hamka. Menulis dan biarkan tulisanmu mengikuti takdirnya. Bersyukur tulisanku bisa membawaku melanglang buana, meski belum ke seluruh dunia. Aku baru menang tulisan Newmont, Nescafe, KAI Commuter Indonesia, Danareksa, AIA, dan Wisata Thailand.

Wisata Thailand
Penulis dan blogger di Bangkok. Foto: Wisata Thailand
Menang Lomba AIA dan AAJI
Menang Lomba AIA dan AAJI bersama Kompasiana.

Aku juga lagi belajar tentang editing video. Saat ini platform YouTube lagi banyak membagikan cuan bagi kreator konten. Saat diberikan bocoran penghasilan dari teman, aku pun tergiur. Hanya dengan 200 ribuan pelanggan, cuannya bisa Rp 20 juta sebulan. Wah, kalah deh gaji gue.

Gaji dari YouTube
Gaji dari YouTube.

 

Jadi ingat buku Robert T Kiyosaki berjudul The Cashflow Quadrant. Kita bisa bertindak sebagai E (karyawan), SE (kita memiliki pekerjaan), B (pemilik bisnis), dan I (investor).  Lalu, di manakah posisi kalian? Sudah bisakah kalian rebahan sambil menerima cuan?

Tetap Cuan Sambil Rebahan di Tengah Pandemi 2
Tetap Cuan Sambil Rebahan di Tengah Pandemi. Foto: The New York Times

Anda mungkin juga suka...