properti-expo

Warga negara China menjadi pembeli asing terbesar untuk properti di Amerika Serikat tahun lalu. Mereka mencari aset yang aman selain investasi aset biasa.

Studi dari Asia Society dan Rosen Consulting Group menyatakan, lonjakan pembelian perumahan dan realestate komersial tahun lalu merupakan yang terbesar sejak lima tahun terakhir mencapai lebih dari US$ 110 miliar.

Penjualan properti di AS hanya melemah tipis pada 2006 dan krisis ekonomi 2008. Meski China mengalami pelambanan ekonomi, investasi properti China di AS kemungkinan dua kali lipat menjadi US$ 218 miliar, khususnya melonjak di semester II-2016.

“Apa yang mendorong China berbeda dan patut diperhatikan adalah kombinasi dari volume investasi yang tinggi dan partisipasi yang luas di semua kategori realestate,” kata studi tersebut.

Laporan tersebut juga menyatakan, total pembelian properti secara jumlah berdasarkan data publik dan industri realestate masih sangat kecil. Namun mereka membeli properti bukan atas nama perusahaannya dan mereka tidak akan membocorkan sumber dana mereka.

Terkait penawaran, kelompok asuransi Amnbang pernah akan membeli Waldorf Astoria Hotel di New York tahun lalu. Namun investor tersebut gagal akuisisi karena kelompok Starwood mampu membeli lebih mahal.

Pada 2010-2015, pembeli properti dari China menempatkan lebih dari US$ 17 miliar ke realestate komersial di AS. Setengahnya dihabiskan tahun lalu.

Namun dalam periode yang sama setidaknya US$ 93 miliar masuk ke industri properti di AS. Sejak setahun terakhir hingga Maret 2015, pembelian rumah di AS mencapai US$ 28,5 miliar.

Secara geografis, pembeli China terkonsentrasi di pasar paling mahal, yakni New York, Los Angeles, San Francisco, dan Seattle. Namun Chicago, Miami, dan Las Vegas juga menarik pembeli.

Pembeli dari China bahkan berani membayar properti di AS lebih mahal dibandingkan penduduk lokal atau investor dari negara lain dengan rata-rata membayar US$ 832 ribu (sekitar Rp 11 miliar) per rumah dibandingkan investor lain US$ 499.600 (Rp 6,64 miliar).

Motivasi mereka membeli properti yakni ingin membeli rumah kedua dan ada juga yang membeli karena pindah ke AS karena mendapatkan visa investor. Beberapa dari mereka membeli properti dengan niat disewakan dan dijual kembali.

Sebagian besar uang untuk membeli properti di AS merupakan kekayaan pribadi, bukan perusahaan. “Keakraban memanfaatkan realestate sebagai alat pendongkrak kemakmuran atau investasi dinilai lebih penting di China dan mencerminkan kenyamanan membeli rumah kedua di AS dari individu dan keluarga China,” kata studi tersebut.

Sejak tahun lalu, ada juga motivasi untuk mendapatkan investasi dari luar China di tengah kekhawatiran pelambanan pelemahan nilai tukar yuan. Pemerintah China mendevaluasi mata uangnya sedikit lebih rendah dari dolar AS Agustus lalu.

Studi ini menyatakan, AS mengharapkan perusahaan China lebih banyak investasi realestate komersial. Bulan lalu, konglomerat China HNA mengumumkan akan membeli kelompok Hotel Carlson yang memiliki 1.400 unit hotel. Kelompok tersebut yang memiliki jaringan Hotel Radisson di seluruh dunia.

“Anbang bukan satu-satunya perushaaan yang melihat aset-aset ini. Entitas China lainnya awalnya tertarik mengakuisisi Starwood tahun lalu sebelum Marriott mencapai kesepakatan awal, termasuk Jin Jiang Hotel Group yang telah mengakuisisi jaringan hotel Eropa tahun lalu,” kata laporan studi tersebut.

Sumber: AFP