Photo by: telegraph.co.uk
Photo by: telegraph.co.uk

Data Indeks Web Global menunjukkan, jumlah pengguna aktif Twitter di Indonesia turun 10 persen dalam dua tahun terakhir atau sepertiga dari pengguna internet.

Padahal Indonesia bersama Meksiko masih menjadi negara dengan pengguna aktif terbesar dari 34 negara yang dipantai secara global atau mencapai 74 persen dari seluruh pengguna internet.

Blogger Enda Nasution menilai, penurunan pengguna disebabkan perubahan selera masyarakat karena banyak dipenuhi budaya debat politik.

“Kecuali Twitter membuat perubahan atau ada hal baru yang menarik dan tidak ditemukan pada layanan lain. Tapi itu pun tidak mendorong orang langsung memakai Twitter,” kata Enda yang memiliki hampir 200 ribu pengikut di akun Twitternya.

Juru bicara Twitter menolak berkomentar dan mereka tidak melihat kecenderungan penurunan pengguna. Bahkan pengguna muda di Indonesia dan India justru paling bersemangat.

Twitter menyatakan, perusahaan berkembang di Indonesia karena bekerja sama dengan industri penerbangan, bank, dan selebriti sehingga mampu meningkatkan layanan dan konten.

Indonesia juga menjadi salah satu pasar utama, khususnya setelah Twitter mengakuisisi layanan video, Periscope.

Twitter pada Rabu (10/2) telah mengumumkan jumlah pengguna pada kuartal I-2016 dengan tidak ada kenaikan pengguna secara signifikan.

Di antara pengguna, Twitter memiliki pengguna aktif pada rentang usia 16-24 tahun. Indonesia tertinggal dari Spanyol, Meksiko, dan Inggris.

JakPat, sebuah perusahaan survei Indonesia menyatakan, remaja kurang menggunakan layanan Twitter dibandingkan masyarakat berusia di atas 26 tahun. Pengguna kebanyakan beralih menggunakan Facebook atau layanan berbagi foto milik Facebook, Instagram.

Namun fakta menariknya, pengguna Twitter di Indonesia mampu menciptakan tren cuitan, khususnya saat pemilihan presiden pada 2014.

Kepala konsultan media sosial Provetic, Shafiq Pontoh mengatakan, Twitter justru digunakan politisi untuk memobilisasi dukungan. Layanan juga dibanjiri relawan digital dan mengerahkan akun otomatis (bot) untuk menyebarkan kampanye hitam, hoax, prasangka, rasisme, spam, pelecehan, hingga akun anonim. “Twitter menjadi tempat yang paling nyaman bagi mereka,” katanya.

 

Yeremia Mandey, mahasiswa yang memiliki akun Twitter sejak 2010 mengatakan hanya menggunakan layanan untuk berinteraksi dengan teman. “Namun saya menggunakannya untuk mencari berita” katanya.

Di sisi lain, Twitter di Indonesia juga digunakan untuk pengumuman layanan publik. Polda Metro Jaya memberikan informasi layanan terkait kemacetan, kecelakaan, hingga protes.

“Meski memberi informasi, akun yang memiliki lima juta pengikut ini dinilai terlalu pasif bagi orang muda,” kata editor Aulia Masna.

“Orang-orang di media sosial cenderung ingin bersenang-senang dan ingin hiburan. Twitter di Indonesia lebih dikenal sebagai tempat mencari berita, debat dan politik. Jadi cocok bagi orang yang serius, khususnya orang yang lebih tua.”

Managing Partner Regional Agen Pemasaran Media Sosial We Are Social. Simon Kemp mengatakan, Twitter harus lebih fokus pemahaman bagaimana masyarakat Indonesia menggunakan layanannya.

“Orang-orang hanya melihat ini sebagai teknologi dasar. Pemahaman itu mendorong mereka yang menentukan apa yang Anda gunakan dan kapan Anda menggunakannya.”

Sumber: Reuters