Logo Apple

apple_logo

Perusahaan riset FactSet StreetAccount memerkirakan, Apple pada kuartal IV-2015 menjual 75,5 juta unit iPhone, naik 1,3 persen dibandingkan periode sama tahun sebelumnya. Pertumbuhan tersebut dianggap paling rendah sepanjang sejarah Apple.

Padahal pada kuartal I-2015, penjualan Apple mampu melonjak 46 persen. Pada kuartal I-2016, Apple diperkirakan hanya memeroleh kenaikan penjualan 6,8 persen, pertumbuhan paling lambat sejak 2013.

Namun Apple memerkirakan penurunan penjualan iPhone untuk kuartal I-2016, penurunan pertama kalinya sejak iPhone dirilis 2007.

FacstSet merilis laporan, penjualan iPhone pada kuartal I-2016 hanya 54,6 juta unit dibandingkan 61,2 juta unit pada kuartal I-2015.

China yang selama ini menjadi negara pendongkrak penjualan iPhone justru tertekan seiring pelemahan perekonomian di sana. Masyarakat mengurangi daya beli karena harga iPhone terbaru memang lebih tinggi.

Analis menyatakan, permintaan iPhone 6S dan 6S Plus melemah karena hanya memiliki sedikit perbedaan fitur dibandingkan seri sebelumnya. iPhone baru juga mengalami hambatan penjualan karena persaingan dengan vendor China dan Korea Selatan.

Apple sempat mendongkrak penjualan di Asia dan mengalahkan pemain besar seperti Samsung Electronics. “Namun Apple telah menjadi korban kesuksesannya sendiri karena pelanggan lebih menyukai iPhone seri lama atau menunggu iPhone 7 yang akan dirilis akhir tahun nanti,” kata analis FBR Capital Markets Daniel Ives.

Analis mengatakan, penjualan iPhone akan terdongkrak iPhone 7 yang akan dirilis akhir tahun ini. Fitur yang sengaja disiapkan pada iPhone 7 antara lain antiair, headphone nirkabel, dan menggunakan teknologi layar sentuh untuk tombol home.

Saham Apple turun 1,98 persen menjadi US$ 99,41 per saham dan telah turun hampir 10 persen sejak awal Oktober.

Sumber: Reuters