Profil

Kaleng Bekas Pembawa Rezeki

1656218_1385518558386040_1332869980_n (2)

Bermula dari keisengan yang kelihatannya sederhana, Taufik dengan ketekunan dan kesungguhan dapat menjadikan kaleng bekas memiliki nilai lebih. Ia mencoba membuat miniatur Vespa dari limbah kaleng bekas minuman ringan (Vespacraft Softdring Recycle).

Ia mendapat ide kreatif itu ketika sedang meminum softdrink.Kebetulan saat itu di jalan melintas rombongan penyuka Vespa yang sedang menggelar perayaan ulang tahun. Idenya langsung muncul yaitu membuat miniatur Vespa dari kaleng minuman bekas.

Sesampai di rumah, ide itu ia obrolkan dengan beberapa teman. Lelaki yang akrab disapa Opick ini menindaklanjuti dengan mengumpulkan kaleng bekas seadanya. Dengan bermodal gunting, Opick coba memotong, mengambil bagian-bagian, merakit, dan merekatkan sehingga jadi sebuah miniatur yang menyerupai Vespa.

1557577_1418928091711753_623997728974953964_n (2)

“Namun saat itu belum sempurna seperti sekarang. Tapi secara konsep sudah dapat. Lalu kita poles hingga seperti yang sekarang ini. Banyak variasinya. Cuma kita lebih pada Vespa,” ujarnya.

Terkait modal, ia justru tidak mengeluarkan modal kecuali hanya membeli lem dan cat. Kaleng bekas bisa ditemukan di jalan atau di tempat sampah atau bekas minumannya sendiri. Kebetulan Opick gemar meminum minuman ringan. “Bahkan dapat dibilang hanya bermodalkan ide dan kesungguhan,” kata lelaki kelahiran 35 tahun silam ini.

Sejak dimulai Agustus 2012, dalam sehari Opick dapat membuat tiga hingga lima miniatur Vespa. Namun tergantung kerumitan detail masing-masing.

1510582_1417144821890080_8570613819629517243_n (2)

Dari karya keisengan itu, ia tidak lantas mematok harga tertentu. Opick coba meminta pendapat beberapa kenalan yang lebih lama menekuni bidang-bidang kreatif. Dari situ akhirnya keluar harga layak yang tidak hanya melihat dari nilai fisik barang.

“Kita tanya sama teman, kira-kira laku berapa karena kan ada unsur seninya yang mereka nilai. Kita tanya ke yang tahu kalau ini bisa bernilai tinggi. Sebab ide itu kan mahal nilainya. Kalau meniru kan tinggal lihat, bikin, jadi deh,” ujarnya.

Dari obrolan teman ditentukan harga layak mulai dari Rp 50 ribu hingga Rp 100 ribu untuk satu miniatur Vespa. Namun saat itu masih belum ada pengemasan biar tampak lebih menarik. “Ini yang sedang kita garap. Coba bikin kemasan yang bagus supaya memiliki nilai tambah lagi,” katanya.

Untuk menjual produknya, ia menitipkan di beberapa toko selain juga memanfaatkan internet dan menjual secara langsung di rumahnya. “Kalau ikut pameran biasanya kita naikkan harganya. Kita sesuaikan dengan pembelinya,” ujarnya.

Dalam sebulan, Opick dapat meraup omzet Rp 2 juta hingga Rp 3 Juta. Dia masih terus berupaya mengembangkan usahanya.

“Kita ingin punya tempat agar bisa lebih mengembangkan lagi. Saya juga ingin bisa melatih anak-anak sekitar sini untuk bisa membuat produk serupa atau lainnya atau yang memanfaatkan bahan bekas. Namun untuk itu modalnya tidak sedikit. Kita coba pelan-pelan dulu,” ujar lelaki yang juga penyuka musang ini.

1924399_1385522801718949_174136030_n (2)

Kecewa Tenaga Outsourcing

Sebelum berwirausaha, Opick pernah bekerja pada sebuah penyedia televisi berlangganan dan marketing bank. Ia kecewa setelah sebelumnya dijanjikan akan diangkat menjadi pegawai tetap, tetapi ternyata dari pihak tenaga alih daya (outsourcing) memutasinya ke divisi lain.

“Saya keberatan jika harus adaptasi lagi dan memulai dari awal. Apalagi dihadapkan pada situasi baru, ruangan baru, saya merasa tidak nyaman. Sempat ada tawaran dari teman untuk kerja lagi, tapi saya pikir masih belum mau ambil. Sementara menganggur, saya usaha ini. Ternyata diseriusi lebih menjanjikan,” ujarnya.

Semangatnya untuk menularkan kreativitas kepada orang lain terus ia pupuk. Ia pernah memberikan pelatihan pada sebuah yayasan untuk membuat miniatur Vespa. Selain itu juga menanamkan pemahaman bahwa segala sesuatu, bahkan sampah, dengan ide-ide kreatif dapat diubah menjadi sesuatu yang bernilai.

10343693_1417145758556653_4276808764865162504_n (2)

Dengan menekuni usaha ini, wawasannya justru bertambah luas. Apalagi dengan lebih sering bertemu orang-orang kreatif lainnya. Ia bisa saling bertukar pikiran dan pengalaman.

“Biasanya orang untuk memulai sesuatu itu susah. Kalau tidak berdasarkan kesenangan, harus  ada insentifnya dulu. Nah itu yang hingga sekarang masih banyak di pikiran orang. Maunya hanya dapat yang enak-enak saja. Itu yang ingin kita ubah,” katanya.

10255982_1418930901711472_4481368899349967823_n (2)

 

Nama Pemilik                    : Taufik (Opickartunz)

Tempat/tanggal lahir      :Jakarta 19 Januari 1979

Pendidikan                         : SMK Yamor Cijantung

Hobi                                       : Basket, Sepak Bola, dan Memancing

Kontak                                  : 085780623459/081286296444

BBM                                      : 214FBF08

FB                                           :MONC’ARTZ MINISCOOT

Alamat                                  : JL Condet Balekambang Gg Almagfiroh RT 05 RW 04 No 64 Jakarta Timur

Anda mungkin juga suka...