Chevrolet Tutup Pabrik di Bekasi

General_Motors

General Motors (GM) yang memproduksi Chevrolet di Indonesia berhenti produksi. Produsen mobil ini akan merumahkan 500 karyawan dan mengalihkan produksi mobil ke jenis sport (SUV).

Raksasa automotif Amerika Serikat (AS) ini merupakan perusahaan pertama yang mendirikan pabrik perakitan mobil terbesar di Asia Tenggara delapan dasawarsa lalu. Perusahaan ini ingin menantang dominasi produsen automotif Jepang, seperti Toyota Motor.

Executive Vice President GM, Stefan Jacoby yang mengawasi pasar di luar Amerika, Eropa, dan China mengaku keliru masuk pasar yang telah didominasi produsen automotif Jepang.

GM mencoba merilis mobil yang disukai masyarakat lokal seperti Chevrolet Spin. Strategi tersebut pernah diterapkan di Brasil dan berhasil. Namun bagi masyarakat Indonesia, Spin masih dianggap terlalu mahal, apalagi beberapa komponen masih harus impor.

Spin di Indonesia dijual sekitar US$ 12 ribu (sekitar Rp 153,6 juta) dan harus bersaing dengan Toyota Avanza. Mereka terbebani keuangan karena penjualan masih kalah bersaing dengan produsen Jepang.

Tahun lalu, GM hanya memproduksi seperempat dari total kapasitas tahunan pabrik di Bekasi sekitar 40 ribu kendaraan. GM hanya menjual 8.412 unit tahun lalu dan mengekspor sekitar 3.000 unit.

“Kami tidak bisa meningkatkan produksi Spin seperti yang kami harapkan meski produk kami benar-benar baik,” kata Jacoby.  Rantai pasokan, kata dia, terlalu kompleks.

“Kami memiliki volume yang rendah sehingga kami tidak bisa melokalisasi mobil sesuai keinginan pasar. Dari sudut pandang biaya, kami tidak kompetitif,” Jacoby menuturkan.

lg_gm-logo

GM akan berhenti memproduksi Spin di Indonesia akhir Juni dan menutup pabrik di Bekasi yang memekerjakan sekitar 500 orang. Restrukturisasi akan memicu GM hanya mengoperasikan unit penjualan.

Langkah tersebut seiring reposisi lebih luas dari merek Chevrolet di seluruh Asia Tenggara. GM akan mengoptimalkan dengan perusahaan patungan bersama China SAIC Motor Corp.

Para mitra berencana mendirikan fasilitas manufaktur di dekat Jakarta dan akan memakai merek Wuling. Namun perusahaan patungan tersebut tidak akan mengambil alih pabrik bekas GM di Bekasi.

Strategi ini diambil sebagai strategi global karena termasuk harus mereposisi bisnis di Rusia dan India. Berdasarkan lembaga riset LMC Automotive, penjualan GM kurang dari 11 ribu unit tahun lalu. Pangsa pasarnya di bawah satu persen.

Toyota dan Daihatsu telah menjual 578 ribu kendaraan. Toyota dan produsen automotif Jepang lainnya menguasai 90 persen pasar mobil di Indonesia.

Kepala GM Indonesia Michael Dunne akan meninggalkan jabatannya akhir bulan ini. Dia akan digantikan sementara oleh Pranav Bhatt yang sebelumnya menjadi Kepala Keuangan GM Indonesia. Dunne dan Bhatt tidak bersedia berkomentar atas penutupan pabriknya di Bekasi.

Sumber: Reuters