Robot Selamatkan Ekonomi Jepang

asimo

Badan Statistik Jepang mencatat, sekitar 26 persen dari 127,12 juta jiwa masyarakat Jepang kini berusia 65 tahun atau lebih. Pemerintah kini menggalakkan usia produktif demi menyokong perekonomiannya.

Lembaga sosial Sawakami Fund memerkirakan jumlah masyarakat Jepang menurun menjadi 95 juta orang pada 2050. Jepang juga akan kehilangan empat dari 10 pekerja pada 2060. Hal ini bisa menurunkan 0,9 persen potensi pertumbuhan ekonomi.

Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe kini fokus meningkatkan partisipasi perempuan demi mendongkrak perekonomian. Di sisi lain, Jepang menekan peningkatan tenaga kerja asing dan hanya membuka jumlah pekerja asing mencapai kurang dua persen dari populasi.

Analis Atsuto Sawakami mengatakan, pemerintah diperkirakan menggenjot tenaga kerja berupa robot untuk mengantisipasi jumlah pekerja yang kurang meski masyarakat Jepang gila kerja.

“Kini orang jompo memiliki uang. Jika subsidi pemerintah tidak cukup, mereka masih bisa membiayai hidupnya sendiri. Itu sebabnya permintaan robot akan semakin besar. Jika Anda berkesempatan mendapatkan orang-orang berpendidikan tinggi (robot) secara gratis, mengapa tidak?” kata Sawakami.

Sejak berdiri 24 Agustus 1999 hingga akhir Januari 2015, Sawakami Fund memiliki kenaikan keuntungan 106 persen, termasuk dividen yang diinvestasikan kembali.

Jepang kini sedang menggalakkan produksi robot untuk membantu kinerja manusia, termasuk demi produktivitas pabrik seiring jumlah kerja yang semakin terbatas. Honda Motor Co mulai mengembangkan Asimo dan Paro sebagai robot terapi.

Cyberdyne Inc juga mengembangkan robot yang memiliki gerakan mirip manusia. Fanuc Corp juga meningkatkan teknologi otomatisasi pembuatan robot.

“Begitu banyak perusahaan di Jepang sedang mengembangkan robot demi meningkatkan produktivitas, seperti otomatisasi pabrik. Kami ingin menjemput mereka sekarang,” kata Kepala investasi Sawakami Asset Management Takahiro Kusakari.

Di sisi lain, surat kabar Yomiuri pada April 2014 telah merilis hasil jajak pendapat yang menunjukkan, masyarakat Jepang menentang menerima lebih banyak orang dari luar negeri. Masyarakat yang sudah pensiun atau di atas 60 tahun cenderung menyukai investasi saham atau di luar Jepang demi mendongkrak perekonomiannya.

Sumber: Bloomberg