Profil

Rezeki Manis Bisnis Es Krim

IMG-20150129-WA0004 (2)Berbisnis memang tidak gampang. Namun akan menjadi gampang kalau kita tahu ilmunya. Begitulah yang dilakoni Riza Danishwara saat berbisnis es krim.

Pria 25 tahun ini memang memiliki pengetahuan tentang makanan penutup (dessert) saat kuliah di Sekolah Tinggi Pariwisata (STP) Bandung pada 2009. Namun berbekal pengetahuan dari kampus, tentu saja tidak cukup untuk langsung memulai usaha.

“Saya sempat menjual beberapa makanan Jepang seperti ramen dan teh beragam rasa. Saya berpikir produk itu akan laku keras di kalangan mahasiswa,” katanya.

Namun, jenis usahanya tersebut akhirnya tidak dilanjutkan. Ia mulai sadar karena kondisi Jakarta siang hari biasanya cukup terik. Riza yang berjualan di areal kampus Universitas Al-Azhar sering melihat toko pesaing menjual minuman dan laku keras.

“Saya baru sadar letak toko di sekitar sini panas. Pantas minuman lebih laku. Akhirnya, sekalian saja saya buat menu es krim. Ternyata sehari langsung laku 23 liter dan terus melonjak tiap hari,” tuturnya.

Kegilaannya terhadap menu dessert, khususnya es krim memang sudah lama ia tekuni. Setelah belajar di kampus, ia juga sempat bekerja di beberapa hotel bintang lima dan sempat mengikuti kelas khusus es krim.

Mulai Januari 2014, ia nekat fokus usaha es krim. Ia mulai meniru cara hotel menyediakan minuman khusus untuk tamu hotel. “Menurut saya bisnis itu harus berlangsung dari sesuatu yang kita kenal. Kebetulan, saya sering eksperimen dessert waktu kuliah. Pengetahuan itu yang saya manfaatkan,” ujarnya.

Modal awal menjalankan usaha itu sempat mengeluarkan biaya hingga Rp 25 juta. Uang tersebut diperoleh dari tabungan selama bekerja serta tambahan modal dari teman, Mellysa.

Selama 12 bulan penuh telah tercatat pendapatan usaha bisa mencapai Rp 231 juta. Marjin keuntungan bisa sampai 30 persen setelah terpotong ongkos sewa tempat dan operasional harian. “Pendapatan mampu mencukupi biaya hidup sehari-hari, termasuk ongkos rekreasi per tiga bulan sekali,” tuturnya.

Strategi promosi yang dilakukan masih dari mulut ke mulut. Beruntung beberapa pelanggan kerap mengunggah foto produk melalui akun media sosial masing-masing. Dari kegiatan itu, konsumen bukan cuma berasal dari mahasiswa kampus setempat namun termasuk kalangan pekerja di Kebayoran Baru.

“Saya memang sedang merancang website untuk display produk. Dari situ pelanggan partai besar bisa melakukan pemesanan. Nantinya usaha ini tidak tertutup hanya berjualan di toko,” tuturnya.

Soal harga es krim, ia tidak mematok harga tinggi. Harga penjualan es krim hanya Rp 10-20 ribu per cup, tergantung permintaan tambahan taburan (topping) oleh pembeli. “Jual es krim jangan pasang harga aneh. Kalau kemahalan tidak akan laku,” tuturnya.

Ambisi ke depan ia ingin membuka outlet sebanyak mungkin di kota-kota besar, terutama Jabodetabek, Bandung, Yogyakarta, dan Surabaya. Dari situ pendapatan usaha akan meningkat. “Setidaknya tahun ini sudah ada rencana satu outlet baru di Jakarta. Saya harap tahun selanjutnya bisa buka di kota lain,” tuturnya.

IMG-20150125-WA0005 (2)

Lelah Kerja di Kantor

Selepas kuliah, Riza memang sempat bekerja di hotel berbintang. Namun ia merasa tidak menikmati selama bekerja dengan orang lain, meski sesuai dengan ilmu yang didapat saat kuliah.

Ia menganggap tekanan kerap muncul dari berbagai macam faktor seperti kepadatan jam kerja dan tuntutan yang melebihi kapasitas. Bahkan pendapatan terasa tidak seimbang dari segala rintangan itu. “Setelah saya mengenal banyak pengetahuan dessert selama bekerja di hotel, tercetuslah ide usaha itu. Sekaligus mau lepas dari industri perhotelan karena terlalu lelah,” katanya.

Namun pengalamannya mulai berbisnis setahun lalu menjadi cambuk untuk terus bersemangat berwirausaha. Misalnya, saat usaha ramen, teh, katering dan lainnya. Ia sempat kewalahan karena peralatan berbisnis makanan cukup banyak dan butuh modal tinggi.

Menjalankan bisnis makanan melalui outlet juga tidak mudah. Pasalnya, pengetahuan tentang strategi pemasaran sangat minim. Selama ini ia hanya bersentuhan dengan urusan tata boga.

Momen terberat menjalankan bisnis terjadi saat awal usaha. Saat itu belum banyak orang yang mengenal produk buatannya. Sepi pemasukan sempat memicu semangatnya runtuh. “Tapi saya tidak mau menyerah. Saya gencar membuat harga promo ditambah bagi-bagi stiker supaya pelanggan ingat produk kami,” tuturnya.

Ia menilai, sebagai pengusaha harus memiliki semangat kerja keras serta kesadaran berusaha tanpa curang. Mengeruk untung jangka pendek dengan menjual produk tidak berkualitas dan mahal akan berdampak buruk.

Ia menganggap kemauan berinovasi juga sangat penting. Boleh mencontoh produk lain namun tidak 100 persen. Tetap harus ada eksperimen lebih jauh supaya produk memiliki ciri khas. “Pengusaha juga harus bisa mengontrol keuangan antara kas usaha dan kas pribadi. Jangan bercampur, nanti bisa bangkrut,” tuturnya.

IMG-20150125-WA0006 (2)

Nama: Riza Danishwara
TTL:  Jakarta, 2 Desember 1989
Pendidikan: Manajemen Tata Boga (Food Production) D3 Tahun 2009 di STP Bandung
Hobi: Main drum dan masak

Nama usaha: Cool House
Alamat: Jalan Sisingamangaraja, Basement Universitas Al-Azhar Jakarta
Kontak Usaha: 081321509595

Anda mungkin juga suka...