Courtesy: DigitalTrends
Courtesy: DigitalTrends

Setengah dari 42 analis yang disurvei Reuters memerkirakan laba Samsung Electronics Co Ltd pada kuartal III-2014 turun 45 persen menjadi 5,6 triliun won (US$ 5,28 miliar atau sekitar Rp 62,8 triliun). Nilai tersebut terendah sejak kuartal IV-2011. Padahal Samsung pernah mencapai rekor laba 10,2 triliun won tahun lalu.

Analis tersebut juga memerkirakan pendapatan Samsung pada periode sama turun 28 persen dipicu penjualan ponsel yang tidak melampaui target. Saham Samsung langsung menyentuh level terendah sejak 25 Juli 2012.

Namun bisnis semikonduktor Samsung diperkirakan masih membaik. Hal ini dibuktikan dari perkiraan keuntungan yang diperoleh Samsung pertama kalinya sejak tiga tahun terakhir. “Yang diharapkan Samsung saat ini adalah pasar pulih terhadap penjualan ponselnya,” kata Manajer dana Korea Investment Trust Management Baik Jae-yer.

Ia menilai, laba dan pendapatan Samsung mulai tergerus karena pesaing seperti Lenovo Group Ltd dan Xiaomi Inc yang terus meluncurkan ponsel murah namun dengan spesifikasi mumpuni. Otomatis marjin Samsung semakin rendah karena vendor asal Korea Selatan ini rajin beriklan besar-besaran. Belum lagi jumlah pekerjanya yang sudah melampaui jumlah pekerja Apple, Google, dan Microsoft meski ketiganya digabung.

Namun analis memerkirakan nasib Samsung belum seperti Nokia Oyj yang harus menjual bisnis ponselnya ke Microsoft. Samsung dinilai masih memiliki rekam jejak yang cepat untuk memerbaiki kesalahannya. “Kami tidak melihat ini persaingan antara pasar ponsel antara Apple melawan Samsung, tapi Apple melawan Android,” kata Analis IBK Securities Lee Seung-woo.

Ia menganggap Samsung merupakan pemain besar di ponsel dengan sistem operasi Android besutan Google, dibanding pemain lainnya. “Samsung masih dianggap mengambil keuntungan terbanyak dari Android dibanding pesaingnya. Tapi sekang hanya sedikit perbedaan antara Samsung dan pesaingnya (yang sama-sama memakai platform Android),” katanya.

Presiden Samsung DJ Lee memerkirakan pemulihan cepat pada divisi perangkat bergerak dengan terus meluncurkan ponsel terbaiknya ke pasar. Analis memerkirakan penjualan ponsel terbaru, terutama Galaxy Note 4 lebih kuat dibanding pendahulunya.

Tapi analis juga menyebut Samsung kurang meluncurkan produk ponsel cerdas terbaiknya dengan biaya yang lebih murah. Apalagi pesaing sudah memilih cara pemasaran lebih efisien namun dengan untung lebih tinggi. Juru bicara Samsung menolak berkomentar terkait persediaan jumlah ponsel yang tidak laku.

Di sisi lain, Apple terus menyerbu pasar dengan mulai menjual iPhone 6 dan iPhone 6 Plus. Otoritas China juga sudah menyetujui penjualan iPhone baru pada ketiga operator BUMN China dengan jumlah pelanggan sekitar 1,2 miliar pengguna. “Kami berharap ini menjadi awal persaingan antarvendor secara lebih sehat,” kata Lee.

Sumber: Reuters