blackberry-passportBlackBerry baru saja merilis ponsel cerdas (smartphone) Passport. Di tengah pangsa pasarnya di bawah satu persen, BlackBerry mencoba bangkit dan kembali meningkatkan pangsa pasarnya. Bisakah?

CEO BlackBerry John Chen masih optimistis ponsel yang diproduksinya masih akan diminati pasar meski hanya menyasar kalangan lebih serius atau menengah atas. “Saat kita merestrukturisasi perusahaan dan mencoba bangkit dari masalah keuangan, pelanggan dan pasar hanya akan merespon jika kita berinovasi lagi,” kata Chen.

Passport menjadi perangkat pertama bagi BlackBerry yang diperkenalkan global sejak Chen menjabat bos BlackBerry November lalu. Passport diarahkan ke segmen profesional dan dianggap bisa memerbaiki kondisi keuangan BlackBerry yang saat ini terpuruk. “Saya sudah memberitahu kami akan untung pada 2016. Tapi jika saya bisa menumbuhkan bisnis lebih cepat, saya akan mendorongnya untung lebih cepat,” katanya.

Passport hanya memiliki bentang layar 4,5 inci dibanding iPhone yang baru saja merilis dengan bentang layar 5,5 inci. Ke depan, BlackBerry juga akan merilis ponsel BlackBerry klasik yang masih memertahankan papan ketik (keyboard) akhir tahun.

Analis Citigroup Ehud Gelblum mengatakan, BlackBerry menghadapi pergeseran dunia bisnis dengan lebih banyak pekerja menggunakan perangkat mereka sendiri dibanding disediakan perusahaan. Ini berarti perusahaan tidak perlu mencoba membeli perangkat baru di masa mendatang. “Konsep ini yang menjadi titik balik. Passport menjadi langkah awal dan nanti akan disusul perangkat berikutnya,” katanya.

COO BlackBerry Marty Beard mengatakan, pengguna Passport menyasar profesional yang lebih berpendidikan, baik pekerja lepas maupun pekerja kantoran, terutama di industri yang sensitif seperti kesehatan dan keuangan. “Segala sesuatu yang kita lakukan di perusahaan tersebut mengarah ke segmen ini. Semua kegiatan pemasaran, aktivitas penjualan, dan kemitraan akan difokuskan,” kata Beard.

Jual Program

Kepala Pemasaran Produk BlackBerry Jeff Gadway mengatakan, perusahaan juga meluncurkan BlackBerry Blend, sebuah program yang memungkinkan karyawan mengakses dokumen kerja dari rumah tanpa menggunakan aplikasi pihak ketiga seperti Dropbox atau Google Drive. Aplikasi ini juga akan tersedia di Apple App Store, Windows Store, dan Google Play.

Ponsel mulai dijual Rabu (24/9) di Kanada, Prancis, Jerman, Inggris, dan Amerika Serikat dan akan tersedia di lebih 30 negara akhir 2014. Passport juga akan tersedia di Amazon.com.

Ponsel akan dijual berbeda-beda di tiap negara. Misalnya di Kanada sekitar US$ 631 (sekitar Rp 7,5 juta), Prancis dan Jerman US$ 834 (sekitar Rp 9,9 juta), dan Inggris US$ 867 (sekitar Rp 10,3 juta).

CEO BlackBerry John Chen mengharapkan penjualan Passport bisa mendongkrak pendapatan atau setidaknya bisa impas hingga akhir tahun dan bisa mencapai keuntungan untuk kas tahun fiskal yang berakhir awal 2016. Analis memerkirakan hingga 31 Agustus 2014, BlackBerry merugi bersih US$ 120, 2 juta (Rp 1,43 triliun) dengan pendapatan US$ 948,5 juta (Rp 11,2 triliun).

“Jika Passport tidak laku, kami tidak akan berhenti menyelamatkan BlackBerry. Ini akan memicu perputaran sedikit lebih sulit, tapi itu tidak akan menghentikan perubahan. Kami akan melakukannya dengan baik,” kata Chen.

Saat menjadi bos, Chen sempat membatalkan beberapa perangkat yang sedang dikembangkan. Namun Chen menganggap Passport lebih inovatif dan bentuknya unik. Chen juga bekerja sama dengan pemanufaktur Foxconn Technology Group yang juga memproduksi iPhone dari Apple. BlackBerry juga tampak fokus menjual perangkat dengan keamanan tinggi. Terkait layanan pesan instan, BlackBerry Messenger juga disediakan gratis di perangkat iPhone maupun Android dan Windows.

“Menggratiskan layanan BlackBerry Messenger menjadi bagian paling penting perubahan bisnis perusahaan,” katanya.

Analis Citigroup Ehud Gelblum memerkirakan jumlah ponsel yang ditawarkan BlackBerry per kuartal hanya sekitar 1-1,5 juta unit, turun dibanding tiga juta unit pada 2010. “Kami percaya keberhasilan bisnis perangkat akan tergantung pada penggemar BlackBerry di seluruh dunia,” katanya.

IDC menyebut, BlackBerry hanya mengirim 1,5 juta ponsel hingga semester I-2014. Pangsa pasarnya hanya 0,5 persen dibanding total pengiriman ponsel global. Padahal iPhone mampu menjual 10 juta unit iPhone 6 dan iPhone 6 Plus hanya tiga hari sejak rilis pada 19 September.

Saham BlackBerry kini telah naik 63 persen sejak Chen diangkat menjadi bos BlackBerry. Nilai kapitalisasi pasarnya mencapai US$ 5,6 miliar (sekitar Rp 66,6 triliun). Namun jumlah itu anjlok dari US$ 83 miliar (sekitar Rp 987,7 triliun) pada 2008.

Selepas peluncuran Passport, saham BlackBerry naik 2,9 persen menjadi US$ 10,87. Hingga perdagangan sesi pertama Jumat (26/9), sahamnya masih berada di level US$ 10,22 per saham. Akankah BlackBerry bisa bangkit lagi?

Sumber: Bloomberg