rumah-coklat-baru-pipiltin

 

Masyarakat selama ini hanya mengenal cokelat sebagai produk impor. Apalagi cokelat banyak diolah oleh perusahaan kue dari asing. Pandangan inilah yang ingin diubah Tissa Aunilla dengan bisnis cokelat murni khas anak negeri.

Hampir sebagian besar penduduk Indonesia masih mengasosiasikan cokelat terbaik berasal dari Eropa seperti Belgia, Prancis, dan Swiss. Padahal cokelat domestik juga banyak ditemui. Itulah sebabnya ia ingin mengenalkan cokelat batangan produksi domestik namun berkualitas dunia.

Menurut riset yang didapat Tissa dari pusat penelitian kopi dan kakao di Jember,  tingkat konsumsi cokelat orang Indonesia sangat rendah dibanding Eropa. Masyarakat Indonesia hanya makan cokelat 0.7 ons per orang per tahun. Di Eropa sudah mencapai lima kilogram per orang per tahun.

“Kami harus membentuk pasar terlebih dahulu. Orang Indonesia sudah terbiasa mengunyah cokelat campuran. Produk kami merupakan cokelat murni yang diolah menjadi berbagai varian makanan,” kata Tissa.

Ia tidak langsung memproduksi cokelat batangan namun mencoba menawarkan menu cokelat melalui restoran yang dibukanya. Namanya Pipiltin Cocoa Factory & Cafe. Di tempat yang baru berjalan hampir dua tahun itu, pengunjung dapat melihat proses pembuatan cokelat yang dikerjakan koki.

Soal nama, Tissa menjelaskan arti dari Pipiltin, yaitu sebutan bagi kalangan bangsawan dari bangsa Aztec, ketika cokelat dipersembahan sebagai makanan para dewa. “Jadi, kami juga ingin memberikan cokelat yang terbaik di sini,” katanya.

Di awal-awal pembukaan restorannya, Tissa tidak menjual cokelat batangan. Ia memilih mengemas cokelat dalam menu dessert yang menarik. Hanya sebagian kecil cokelat batangan murni dan cake cokelat yang dijualnya namun ia mengemas daya jual pada penyajian platted dessert bergaya progresif. Tissa sengaja menyajikan beraneka rasa cokelat dalam bentuk yang menarik yang diletakkan dalam satu piring.

Cara ini terbukti ampuh. Sejak dibuka pada Maret 2013, Pipiltin berhasil menyita perhatian. Tak sampai tiga bulan, Tissa sudah benar-benar memproduksi cokelat batangan yang jadi obsesinya tersebut. Ia sukses memerkenalkan cokelat batangan murni dengan mereknya sendiri.

“Tapi karena pasar Indonesia masih menggemari cokelat campuran, penjualan terbesar masih dari platter dessert dan kue cokelat. Cokelat batangan hanya 10 persen dari total penjualan,” kata Tissa.

Untuk lebih memopulerkan cokelat buatannya, Tissa menggelar kelas pembuatan cokelat setiap minggu. Dalam kelas tersebut, Tissa mengajarkan peserta cara membedakan rasa cokelat dan sering mengadakan cokelat tasting kepada pembelinya.

Mengenai promosi, Tissa lebih percaya kekuatan sosial media. Itu adalah cara marketing mulut ke mulut paling efektif. Tak heran, Pipiltin kini jadi tempat nongkrong paling trendi di kalangan anak muda.

“Selain itu dengan packing. Untuk menarik pasar, packaging-nya harus menarik. Pengalaman itu cukup mahal. Sebelumnya kita tidak mengemas cokelat batangan seperti ini, yang colourful. Ternyata setelah kita pelajari pasar di Jakarta mencari sesuatu dari mata. Kalau matanya tertarik, mereka berminat membeli dan baru memikirkan rasa,” kata Tissa.

Ingin Sejahterakan Petani

Hasrat berbisnis cokelat muncul dalam diri Tissa Aunilla ketika masih bersekolah di Belanda. Saat itu, Tissa penasaran mengapa cokelat yang ditemui di Belanda lebih nikmat ketimbang cokelat yang ada di Indonesia. Padahal Indonesia dikenal sebagai produsen cokelat terbaik di dunia.

Sekembalinya ke Indonesia, Tissa tidak langsung mewujudkan mimpinya. Ia malah asyik menekuni dunia hukum. Hingga sang adik, Irvan Helmi yang kebetulan sukses membidani Anomali Coffee menyentilnya.

“Waktu itu Irvan baru pulang dari penjelajahannya mencari biji kopi. Dia cerita kalau lebih mudah menemukan biji cokelat yang bagus ketimbang biji kopi di Indonesia. Cerita itu membangkitkan pemikiran yang sempat terpendam. Lalu, Irvan menantang saya untuk mulai berbisnis dan membesarkan cokelat Indonesia,” katanya.

Rasa penasaran itu membawanya terjun lebih dalam ke dunia cokelat. Tissa bahkan memutuskan belajar khusus cokelat di Felchlin, Swiss. Merasa ilmu yang didapatkan masih kurang, Tissa kemudian melamar bekerja di pabrik cokelat di Swiss. Ia memulai dari pekerjaan buruh kasar. Semua untuk memelajari cara mengolah dan mengemas cokelat menjadi produk yang laku dijual.

Proses pembelajarannya tidak berhenti di Swiss. Pulang ke Indonesia, Tissa dan Irvan berguru ke pusat penelitian kopi dan cokelat di Jember. Di sana Tissa belajar mengenali varian biji cokelat dari seluruh Indonesia.

“Para pakar cokelat di Jember mengarahkan kami ke petani-petani cokelat. Berdasarkan arahan mereka, kami berkeliling Indonesia selama setahun guna menemukan biji kakao yang cocok untuk diproduksi. Kami datangi langsung petani cokelat dan membedah sendiri kualitasnya,” kata Tissa.

Kata Tissa, daerah yang sekarang ini menjadi penyuplai di gerainya berasal dari Tabanan, Bali dan Pidie Jaya, Aceh. Belakangan mereka menemukan daerah penghasil cokelat baru di Glenmore, Banyuwangi. Tissa masih mencari biji-biji cokelat dari beragam penjuru Indonesia lainnya untuk menjadi bagian dari kreasi Pipiltin. Maumere, Flores, adalah salah satu target berikutnya.

“Kami punya idealisme sendiri. Selain soal bisnis, kami ingin memopulerkan coklat Indonesia. Kami juga ingin membantu kesejahteraan petani Indonesia.  Kami hanya mau membeli langsung dari petani tanpa perantara atau ijon-ijon. Kami membeli hasil panennya dengan harga premium atau minimal sama dengan harga ekspor cokelat,” ujar Tissa.

Biodata:

Tissa Aunilla

Tanggal lahir: 15 Agustus 1978. Hobi: baking, main piano, basket, diving.

Pendidikan: Universiteit Utrecht LLM, Law and Economics (2004-2005), Universitas Indonesia (UI) Bachelor of Law (1996-2000)

Alamat: Pipiltin Cocoa Factory Jln Senopati no 27 Jakarta Selatan