iphone-6-sizesApple Inc kini sedang berjuang memertahankan pangsa pasar penjualan ponsel pintar (smartphone), terutama di negara berkembang. Salah satu cara yang akan dibesut Apple yaitu menjual ponsel seri lama namun masih baru dengan harga lebih murah.

Menjelang perilisan Apple iPhone 6 yang kemungkinan dijual September 2014, perusahaan yang didirikan Steve Jobs ini masih memproduksi iPhone 4 yang telah dirilis Juni 2010 atau iPhone 4S yang sudah mulai dijual sejak Oktober 2011. Dua produk ini masih akan diproduksi dan akan dijual ke negara berkembang sebagai upaya memertahankan pangsa pasarnya.

Apple dinilai menjual iPhone 5S dengan harga masih tinggi di negara berkembang sekitar US$ 874 (sekitar Rp 10,2 juta dengan kurs Rp 11.700 per dolar AS). Dengan harga itu, susah bagi Apple memerbesar penjualan di negara berkembang, terutama India dan Indonesia dengan target pasar yang besar.

Analis Strategy Analytics di North Carolina Ken Hyers mengatakan, penjualan ponsel dan tablet Apple di luar China dan Amerika Serikat naik dua kali lipat. Hal ini dinilai bisa meningkatkan pangsa pasarnya dan berusaha mengejar ketertinggalan dengan Samsung Electronics Co.

Ia menilai, strategi menjual produk lebih murah ini cocok bagi penduduk India atau Indonesia yang kebanyakan masyarakatnya masih berpenghasilan US$ 2 (sekitar Rp 23.400) per hari dan mungkin bisa berhasil diterapkan di negara berkembang lainnya.

“Apple terbukti sukses menjual dengan strategi ini di pasar India. Mungkin bisa diterapkan di pasar lain seperti Brasil, Rusia, Indonesia, dan lainnya,” kata Hyers seperti dikutip Bloomberg.

CEO Mediacells Brad Rees mengatakan, pendekatan Apple ke pasar India dinilai bisa meningkatkan pangsa pasarnya karena India menargetkan penjualan ponsel tahun ini mencapai 225 juta unit. Apple, vendor terbesar kelima di India telah menjual lebih dari dua kali lipat dibanding pencapaian di kuartal I-2014 sebesar 325 ribu unit iPhone.

Persaingan dari Xiaomi

Persaingan ponsel dunia kini semakin menarik. Vendor Xiaomi Corp yang baru berdiri empat tahun lalu menawarkan ponsel murah dengan fitur tinggi. Ponsel Mi3 sebanyak 35 ribu unit terjual hanya dalam beberapa menit di India. Berdasarkan lembaga riset pasar Strategy Analytics, Xiaomi kini sudah menjadi vendor terbesar kelima dunia setelah Samsung, Apple, Huawei, dan Lenovo. Xiaomi berhasil menyalip LG yang sebelumnya bercokol di nomor lima.

Namun secara merek, vendor Apple dinilai lebih memikat konsumen dibanding vendor lain. Jadi bukan semata-mata harga yang menjadi perhitungan konsumen membeli ponsel.

“Apple mengerti pasar India sensitif terhadap harga. Masyarakat India masih ingin menunjukkan status mereka sehingga menginginkan ponsel Apple. Tidak peduli apakah ponsel itu sudah dijual dua tahun lalu atau lebih,” kata analis Forrester Research Inc Katyayan Gupta.

Untuk menjualnya, Apple di India juga tidak akan menerapkan cara serupa di Amerika Serikat, China atau Eropa. Di Negeri Paman Sam, Apple sudah biasa menjual ponsel hanya sepertiga dari harga jual normal, namun kontrak dengan operator selama dua tahun.

China Mobile, operator terbesar di China, yang juga menjalin paket penjualan iPhone pada April lalu membukukan penurunan laba kuartalan tiga kali berturut-turut setelah operator tersebut memberlakukan subsidi penjualan iPhone. NTT DoCoMo Inc, operator nirkabel terbesar di Jepang, kehilangan laba setahun penuh yang berakhir Maret 2014 setelah menawarkan iPhone pertama kalinya sejak September 2013.

Juru bicara Apple berbasis di London Bethan Lloyd menolak berkomentar terkait strategi penjualan perusahaan di India. Operator di India biasanya tidak menyubsidi biaya pembelian ponsel karena mayoritas pelanggan tidak mau menandatangani kontrak selama beberapa tahun. “Sulit menerapkan cara itu di India,” kata Direktur Jenderal Asosiasi Operator Selular India Rajan Matthews.

Sebagian besar konsumen di India membeli ponsel dari toko-toko ritel, bukan operator. Masyarakat India juga menggunakan kartu prabayar dengan waktu bicara tertentu. Operator di India juga tidak melakukan subsidi pembelian ponsel, seperti di AS, China, atau Eropa. “Sulit mendapatkan pengembalian dana dalam dua tahun,” kata Matthews.

Bharti Airtel Ltd, operator terbesar di India di antara tiga operator lainnya menjadi satu-satunya operator yang menjual iPhone. Juru bicara Bharti Airtel Ashutosh Sharma menolak mengomentari penjualan iPhone.

Analis Canalys berbasis di Singapura Jessica Kwee mengatakan, iPhone 4 telah dikirim baru-baru ini ke India. Pendiri UniverCell, peritel elektronik terbesar di India Selatan, Sathish Babu mengatakan telah menerima pengiriman iPhone 4 Januari mendatang. “Ini baru, bukan stok lama,” katanya.

Suresh Subbian (42 tahun), membeli iPhone 4 Juni lalu untuk istrinya dan hanya membayar 19.500 rupee (sekitar Rp 3,7 juta). “Kami tidak ingin mengambil risiko besar membeli iPhone model terbaru. Saya pikir membelikannya dengan model sederhana,” katanya.

Apple juga akan memberikan beberapa fitur berbeda untuk pasar India demi mendorong kinerjanya. “Namun alasan utama Apple menyasar India hanya memfokuskan penjualan dengan harga lebih murah meski iPhone model lama,” kata Jessica Kwee.

Rata-rata harga iPhone model lama di India sekitar US$ 450 (sekitar Rp 5,26 juta). Harga ini masih lebih murah dibanding harga iPhone serupa di AS sekitar US$ 600-700. Pendekatan ke pasar India mendorong Apple menjual aplikasi, musik, dan film lebih besar di negara dengan populasi terbesar di dunia. Bagaimana dengan pasar Indonesia?

Sumber: Bloomberg