Reportase

Rupiah Menunggu Hasil Pemilu

uang-rupiahRupiah pada perdagangan Jumat (4/7) mengalami kenaikan menjadi Rp 11.887 per dolar AS dibanding perdagangan sebelumnya Rp 11.963 per dolar AS. Level tersebut merupakan terkuat sejak empat bulan terakhir, khususnya menjelang pelaksanaan pemilu pekan ini.

Dari berbagai survei, elektabilitas Prabowo Subianto-Hatta Rajasa kian tipis dibanding pasangan Joko Widodo-Jusuf Kalla. Lembaga survei Roy Morgan menyebut kedua pasangan hanya terpaut empat persen pada Juni 2014 dibanding selisih 18 persen pada Mei 2014. Survei ini memiliki tingkat kesalahan (margin of error) 1,8 persen.

Analis Bloomberg menyebut peningkatan rupiah terdorong data positif neraca perdagangan Mei 2014 yang surplus US$ 70 juta, dibanding defisit US$ 1,96 miliar pada April 2014. Padahal 21 analis Bloomberg memerkirakan masih ada defisit US$ 100 juta.

Sebulan, volatilitas rupiah meningkat 0,39 persen. Namun seminggu terakhir rupiah menguat 11,65 persen. Level tersebut melemah dibanding pekan sebelumnya yang mencapai 12,02 persen, tertinggi sejak 12 Februari 2014.

Nilai tukar rupiah juga menguat satu persen sejak 27 Juni, terkuat di Asia. Kemajuan ini terus berlangsung sejak 16 Mei lalu. Di pasar luar negeri, pengiriman rupiah di pasar non delivery forward (NDF) naik 1,3 persen pekan ini dan 0,7 persen pada Jumat (4/7). “Peningkatan volatilitas rupiah ini dipicu ketidakpastian menjelang pemilu,” kata Kepala Riset Valas di Malayan Banking Bhd di Singapura Saktiandi Supaat.

Menurut dia, rupiah masih ada kemungkinan naik terutama setelah pemilu yang dilaksanakan Rabu (9/7). Data perdagangan akan mendukung penguatan rupiah.

Jual Obligasi

Bank Indonesia (BI) mencatat rupiah menguat di level Rp 11.887 per dolar AS, dibanding Rp 12.103 per dolar AS pada 27 Juni 2014. Kementerian Keuangan yang baru menerbitkan obligasi euro sebesar satu miliar euro turut menguatkan rupiah.

“Penawaran obligasi euro akan menguatkan kepastian dan keamanan pemilu di Indonesia. Industri keuangan akan terdorong,” kata Managing Director Spiro Sovereign Strategy di London Nicholas Spiro.

Menurut dia, penerbitan obligasi euro akan menampilkan penguatan tingkat kredit Indonesia di tengah ketidakpastian pemilu Rabu ini. Hasil imbal hasil obligasi negara (SUN) yang jatuh tempo pada Maret 2024 melemah 14 basis poin pekan ini menjadi 8,14 persen, terendah sejak lima hari terakhir.

Ditopang China

Penguatan rupiah juga terdorong perbaikan kinerja ekonomi China. Negeri Tirai Bambu ini masih menjadi pasar terbesar ekspor maupun impor Indonesia. Data lapangan pekerjaan Amerika Serikat pada Juni juga membaik. Begitu juga ekspor Korea Selatan naik 2,5 persen pada Juni, setelah turun 0,9 persen pada Mei 2014.

“Kekhawatiran pelemahan ekonomi China tidak akan terjadi. Ini menjadi data positif bagi negara sekawasan. Perekonomian China juga telah menguat. Amerika Serikat juga sudah pulih,” kata Kepala Riset Asia di ING Groep NV di Singapura Tim Condon.

Berdasarkan data Bloomberg-JP Morgan Asia Dolar Indeks yang melacak 10 mata uang teraktif di Asia, rupiah memimpin kenaikan pekan ini sebesar satu persen. Kemudian disusul ringgit Malaysia 0,9 persen menjadi 3,1860, rupee India 0,6 persen menjadi 59,72 per dolar AS, dan yen naik 0,3 persen dalam lima hari terakhir.

Ringgit naik cukup tinggi tujuh bulan terakhir dipicu rencana Bank Sentral Malaysia menaikkan suku bunga acuan pertama kali dalam tiga tahun. Ekspor juga naik 16,3 persen pada Mei dibanding periode sama tahun lalu. Nilai tersebut melebihi estimasi analis yang diperkirakan hanya tumbuh 15,2 persen.

“Ringgit jelas naik karena ada rencana kenaikan suku bunga acuan. Data ekspor yang positif juga menaikkan ringgit,” kata Ahli strategi mata uang di AmBank Group di Kuala Lumpur Wong Chee Seng.

Won Korea Selatan juga menguat 0,5 persen pekan lalu dan tertinggi sejak enam tahun terakhir. Padahal pemerintah dan bank sentral setempat masih mengantisipasi ketidakpastian politik maupun finansial di negara tersebut.

Yuan China naik 0,22 persen pekan lalu ke 6,2043 per dolar AS sebelum pejabat China dan AS bertemu 9-10 Juli mendatang. Menteri Keuangan AS Jacob J Lew mengatakan pekan ini ia agak frustasi dengan perubahan kebijakan di China. Bank Rakyat China menurunkan mata uang sebesar 0,16 persen, tertinggi sejak Maret 2014.

Peso Filipina menguat 0,7 persen dan baht Thailadn naik 0,2 persen. Namun dong Vietnam masih turun 0,1 persen menjadi 21.305 per dolar AS. Pekan ini, kepastian presiden terpilih akan menentukan penguatan atau pelemahan rupiah. Akan menjadi yang terbaik atau kembali terpuruk se-Asia? Kita tunggu saja.

 

Anda mungkin juga suka...