berita_panganBank Dunia memperingatkan harga pangan dunia di kuartal I-2014 mengalami lonjakan tertinggi untuk pertama kalinya, terutama sejak Agustus 2012. Kenaikan harga didorong permintaan yang tinggi dari China, kekeringan di Amerika Serikat dan kerusuhan di Ukraina.

Berdasarkan data Bank Dunia, harga pangan yang diperdagangkan secara internasional meningkat empat persen. Kenaikan tertinggi dipicu gandum dan jagung yang masing-masing naik 18 persen dan 12 persen.

“Kenaikan harga pangan dipicu kekhawatiran cuaca, permintaan impor yang tinggi serta ketidakpastian situasi di Ukraina,” demikian laporan Bank Dunia seperti dikutip AFP.

Ekonom Bank Dunia mengatakan, harga pangan dunia terus meningkat, meski tanaman lain terus dikembangkan mulai tahun lalu. Padahal panen gandum terus meningkat dan diharapkan terus bertambah di tahun ini dan tahun mendatang.

Namun kondisi kekeringan yang terus melanda Amerika Serikat dan permintaan global yang terus melonjak, terutama di China menyebabkan harga pangan terus meningkat.

Peran Ukraina

Ukraina sebagai lumbung pangan terbesar di Eropa Timur turut berperan pada kenaikan harga domestik khususnya gandum dan jagung. Ukraina, sebagai negara eksportir gandum terbesar keenam di dunia melihat harga gandum dalam negeri melonjak 37 persen. Kenaikan didorong karena depresiasi mata uang setempat.

Secara keseluruhan, harga gandum internasional melonjak 18 persen secara kuartalan. “Kenaikan harga tidak terjadi sejak bulan-bulan pada musim panas 2012,” kata laporan tersebut.

Harga jagung internasional juga naik 12 persen. Ukraina sebagai negara eksportir jagung terbesar ketiga dunia mengalami kenaikan harga jagung sebesar 73 persen pada harga domestik karena penanaman tertunda dan biaya produksi tanam juga naik.

“Sejauh ini ketegangan politik Ukraina belum mengganggu ekspor pangan di negara tersebut. Tapi ini akan memiliki efek pada produksi dan perdagangan di masa depan jika ketidakpastian (politik) meningkat,” kata laporan tersebut.

Negara-negara lain terutama yang terkait tekanan politik dan ekonomi juga sudah mengalami kenaikan harga pangan. Misalnya di Argentina yang sudah mengalami kenaikan harga gandum sebesar 70 persen dibanding tahun lalu.

 

Begitu juga dengan harga gula yang naik 13 persen dan harga minyak kedelai naik 6 persen secara kuartalan. Kenaikan harga tersebut diimbangi penurunan harga beras sebesar 12 persen dan harga pupuk turun 7 persen. Namun harga minyak mentah naik 3 persen menjadi US$ 104 per barel.

Lonjakan Tertinggi

Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) bulan lalu melaporkan, harga pangan dunia mencapai level tertinggi selama 10 bulan hingga Maret 2014 karena cuaca buruk di negara-negara penghasil utama pangan dan adanya krisis di Ukraina.

Organisasi Pangan dan Pertanian PBB mengatakan, indeks harga pangan bulanan pada Maret 2014 naik sebesar 2,3 persen dari Februari ke level tertinggi sejak Mei 2013. Para ahli khawatir kenaikan harga pangan akan merugikan dunia terutama negara-negara yang paling rentan. Hal ini juga bisa memicu kerusuhan pangan dan kerusuhan sosial lainnya.

“Selama beberapa bulan ke depan, kita harus melihat harga ini dengan hati-hati. Kami akan memastikan setiap kenaikan tidak memberi tekanan tambahan pada seluruh dunia, apa pun aspeknya” kata pejabat senior Bank Dunia Ana Revenga.

Tahun 2007 dan 2008, kenaikan harga pangan telah memicu puluhan kerusuhan di seluruh dunia, termasuk Haiti, Kamerun, dan India.

Menurut Bank Dunia, 51 kerusuhan pangan terjadi pada 37 negara sejak 2007. Sebagian besar dari mereka terkait lonjakan harga pangan dan lebih disebabkan karena pengelolaan yang buruk di pemerintahan daerah.

Kenaikan harga pangan dunia itu memicu krisis di Tunisia pada 2011 dan Afrika Selatan pada 2012. “Guncangan harga pangan bisa memperburuk konflik dan ketidakstabilan politik. Sangat penting bagi seluruh pemangku kebijakan di seluruh negara di dunia untuk bekerja mengurangi efek ini,” katanya.

Sumber: AFP