Galat basis data WordPress: [Table 'k7266953_dpdc.wpdp_termmeta' doesn't exist]
SELECT term_id, meta_key, meta_value FROM wpdp_termmeta WHERE term_id IN (55) ORDER BY meta_id ASC

class="post-455 post type-post status-publish format-standard has-post-thumbnail hentry category-reportase tag-makanan" itemscope itemtype="https://schema.org/Blog">
Reportase

Minat Konsumsi Singkong Berkurang

singkongMasyarakat Indonesia dinilai sudah mengurangi mengonsumsi singkong sebagai salah satu makanan pokok. Padahal singkong di tahun 1950-an pernah menjadi salah satu makanan pokok masyarakat Langor, Maluku Utara.

Pengamat pertanian Universitas Jember Ahmad Subagio mengatakan, salah satu alasan masyarakat mengurangi konsumsi singkong adalah pemerintah semakin gencar menggelontorkan beras untuk rakyat miskin (raskin) dengan harga lebih murah.

“Raskin sudah masuk ke daerah itu, di rumah-rumah warga sudah banyak tersedia beras dan disebut makanan pokok. Padahal sebelumnya mereka makan singkong,” kata Subagio di Jakarta, Rabu (14/5).

Menurut dia, saat ini hanya sedikit masyarakat Maluku yang menanam singkong dengan alasan biaya menanam jauh lebih mahal dibanding membeli raskin Rp 1.600 per kilogram. Kini harga singkong di daerah tersebut menjadi lebih mahal dibanding daerah lainnya.
“Kita sudah sulit menemukan singkong di Maluku. Anak-anak tidak mengenal singkong karena sudah ada keseragaman konsumsi,” kata dia.

Ia menilai, politik anggaran mengubah pandangan masyarakat terhadap kebutuhan pokok. Hal tersebut ditunjukkan dengan memberikan subsidi beras mencapai Rp 1.368 per kilogram. “Jika dibandingkan dengan harga singkong petani yang semula hanya Rp 600 per kilogram, masyarakat bisa membeli dua kilogram singkong,” katanya.

Ia menganggap perhatian pemerintah terhadap singkong sangat kecil. Padahal harganya terus melonjak. Akhirnya produksi petani terus menurun.

Berdasarkan catatan Badan Pusat Statistik (BPS), produksi singkong 2012 sebesar 24,1 juta ton dan turun 300 ribu ton di 2013 menjadi 23,8 juta ton. Persepsinya, kata dia, singkong hanya dijadikan makanan alternatif. “Semakin tinggi pendapatan seseorang, semakin banyak pula yang tidak mengkonsumsi singkong. Singkong kini disebut makanan rakyat miskin,” katanya.

Padahal, kata dia, kalau bisa mengolahnya, beberapa produk singkong bisa dijadikan makanan modern seperti roti, mie instan, makaroni, bakso, dan kue basah. Selain itu, singkong bisa juga dijadikan bahan pelengkap makanan seperti kulit lumpia hingga bubur instan.

Banyak produk pakaian juga menggunakan singkong sebagai bahan baku. Tas jinjing belanja yang awalnya terbuat dari plastik mulai dikembangkan dengan berbahan singkong.

Terlalu Dimanja

Anggota pakar Dewan Ketahanan Pangan Kudhori mengatakan, jika pemerintah tidak segera mengupayakan keberagaman pangan, negara ini akan semakin tertinggal dalam kedaulatan pangan. Sekitar tahun 1950, masyarakat masih mengenal keberagaman pangan di masing-masing wilayah seperti ada yang mengonsumsi jagung, singkong, ubi juga beras.

“Kalau tidak ada upaya pasti dari pemerintah, singkong akan semakin ditinggalkan. Masyarakat mulai dimanjakan dengan persepsi beras merupakan satu-satunya makanan pokok bangsa Indonesia. Padahal nyatanya tidak,” katanya.

Menurut dia, upaya paling rasional agar masyarakat mau mengkonsumsi jenis pangan lainnya adalah dengan mengubahnya menjadi makanan modern. Contohnya singkong bisa diubah menjadi tepung tapioka yang selanjutnya bisa diolah menjadi mie, bihun, macaroni, bahan pembuat kue dan lainnya.

“Tepung tapioka ini sama dengan tepung terigu, hanya saja pelaku usaha tepung tapioka adalah pelaku usaha kecil. Pemerintah perlu mengintervensi pasar agar tapioka bisa diterima masyarakat,” katanya.

Ia meminta pemerintah mau membuat kebijakan agar tidak berfokus mengonsumsi beras. Jika konsumsi singkong ditingkatkan dan semakin banyaknya industri pengolahan singkong, masyarakat semakin dipermudah mendapatkan pekerjaan. “Angka kemiskinan semakin berkurang dan kesejahteraan meningkat,” katanya.

Anda mungkin juga suka...