IMG_20140412_150229Ide bisnis bisa datang dari mana saja. Berkat keisengan pamer celana jeans ke teman-teman, Ali Akbar Tofanus kini menjadi pengusaha muda yang sukses.

Ali, yang setiap hari masih menjadi mahasiswa Fakultas Ilmu Ekonomi Konsentrasi Perbankan Universitas Al-Azhar Indonesia tersebut awalnya menerima hadiah berupa celana jeans bermerek Denim Imperial dari temannya di Australia pada 2010. Celana tersebut akhirnya dipakai untuk ke kampus, ternyata banyak teman kampusnya yang suka dan ingin memiliki jeans itu.

Namun untuk pesan dengan jumlah yang banyak ke temannya di Australia tentu saja ribet. Cowok kelahiran 12 Maret 1990 itu akhirnya mencoba mencari di internet. “Ternyata saya justru menemukan alamat penjual bahan denim di Jakarta,” kata Ali.

Setelah mengetahui tempat penjual bahan denim itu, ia langsung mencoba produksi celana untuk teman-teman di kampusnya. Ia mengaku celana yang diproduksinya laku keras, sehingga muncul inisiatif untuk memproduksinya dalam jumlah lebih banyak.

“Kebetulan juga ada teman lama yang mengajak saya memproduksi bersama. Dari situlah secara serius mulai menekumi bisnis celana,” ujarnya.

Namun usaha bersama tersebut tidak berjalan mulus. Ada perselisihan antara Ali dan temannya. Ali lebih memilih memproduksi jeans sendiri, sementara temannya lebih memilih sebagai pengusaha distro. “Dari perbedaan pandangan bisnis itu, kami berpisah dan memulai usaha masing-masing,” katanya.

Ia pun akhirnya membuat usaha Rumah Denim and Jeans di Pamulang, Tangerang Selatan pada 2011. Namun usaha yang dilakoninya sendiri tersebut juga tidak berjalan mulus. Pada November 2012, usahanya malah semakin berantakan karena ketidakmampuan mengelola karyawan.

Saat itu, Ali memekerjakan beberapa penjahit celana jeans sendiri. Namun karena penjahit tersebut kembali ke kampung, ia pun kelimpungan menerima pesanan. Padahal pesanan celana saat itu sedang meningkat.

“Itu pengalaman paling keras yang pernah dilalui usaha ini. Saya masih belajar mengelola karyawan waktu itu. Masalah karyawan merupakan inti dari kinerja dan tantangan menjalankan usaha ini,” ujarnya.

Kembali Bangkit

Ada ungkapan kasih sayang ibu tak terhingga sepanjang masa. Berangkat dari kemunduran usaha itu, sang ibu memberikan pertolongan untuk Ali agar bangkit menjalankan bisnisnya. Ia menerima pinjaman dari sang ibu sebesar Rp 6 juta dan pinjaman lain dari Koperasi Simpan Pinjam RS Taman Puring, Jakarta Selatan sebesar Rp 10 juta. Sebagai imbal balik, ia harus mengembalikan pinjaman itu dengan bunga sebesar lima persen. Dalam kurun waktu tiga bulan, ia mampu mengembalikan seluruh pinjaman tersebut.

“Pinjam dari koperasi mudah karena ibu anggota sekaligus pendirinya. Dari situ, saya mulai bangkit menjalankan bisnis tersebut,” katanya.

Dengan total modal sebesar Rp 16 juta itu, Ali mengaku langsung membeli tiga mesin jahit dan bahan-bahan produksi. Ia optimis usahanya akan berjalan mulus, meski baru bisa memekerjakan satu orang penjahit.

Berkat ketekunannya, cowok yang baru berusia 24 tahun ini kini sudah mampu memekerjaan sembilan orang penjahit. Ia mampu memproduksi celana sekitar 600-700 potong per bulan. Omzetnya bisa mencapai Rp 120 juta pada 2013, meningkat dari tahun sebelumnya Rp 90 juta.

Ambisi Buka Toko Besar

Selagi mimpi itu gratis, bermimpilah yang besar. Pepatah itu dijadikan acuan bagi Ali untuk membesarkan bisnisnya. Ia pun terus belajar desain celana secara otodidak dari internet.
“Belajar bisa learning by doing karena tidak sulit mengolah bahan menjadi celana jeans . Desainnya juga seperti itu-itu saja, hanya motifnya yang berbeda. Lagipula internet sudah menyediakan semua informasi,” katanya.

Ia mengaku kesuksesan bisnisnya tidak luput dari strategi promosi yang maksimal. Keberadaan internet sangat berjasa dalam membantu usahanya, terutama dari situs jejaring sosial.
“Sampai sekarang permintaan dari online masih lebih tinggi dibanding melalui toko. Perbandingannya, dari online dalam sehari bisa terjual 10 celana, dari toko hanya bisa menjual empat celana,” ujarnya.

Ke depan Ali berambisi untuk membuka toko di pusat perbelanjaan di Jakarta. Ia berencana dapat merealisasikan pada 2016. Saat ini ia sedang belajar program empat jam, yaitu pelanggan bisa memesan celana dalam empat jam sudah selesai. “Jadi pengunjung mall bisa memesan celana lalu mereka bisa makan atau nonton bioskop dulu. Dalam empat jam, mereka bisa mengambil celananya,” katanya.

Soal harga, ia pun tidak mematok tinggi. Untuk celana jeans bahan lokal dijual sekitar Rp 135 ribu-Rp 165 ribu. Untuk berbahan impor dijual sekitar Rp 185 ribu-Rp 245 ribu. “Ternyata 80 persen minat pelanggan menggunakan bahan impor,” katanya.

Untuk mengasah kemampuan bisnis, ia pun rajin mengikuti komunitas wirausaha Tangan di Atas (TDA) Jakarta Selatan. Dengan berkumpul bersama pengusaha lain, ia bisa saling tukar pikiran. Wawasan untuk mengembangkan pasar celana juga semakin bisa dikedepankan.

“Sekarang saya suka kumpul-kumpul dengan TDA karena dosen saya juga kebetulan anggota organisasinya. Dari situ saya bisa bertemu dan bertukar pikiran dengan pengusaha muda lainnya,” tuturnya.

Data Diri
Nama: Ali Akbar Tofanus
TTL: Jakarta, 12 Maret 1990
Hobi: Futsal dan Billiard
Pendidikan: Mahasiswa Fakultas Ilmu Ekonomi Konsentrasi Perbankan Universitas Al-Azhar Indonesia angkatan 2008
Kontak usaha: 0882-1275-832
Alamat rumah: Perumahan Reni Jaya, Blok Q6 No 1, Jalan Maluku Raya, Pamulang, Banten, Tangerang Selatan
Alamat usaha: Pamulang Permai Blok AX 33 No 11D, (2) Jalan RC Veteran No 7m, Bintaro, Jakarta Selatan