Diary Flury

Gagal UN Bukan Kiamat

Kementerian Pendidikan Nasional sudah mengumumkan hasil Ujian Nasional (UN) tingkat SMU mulai Senin (26/4/2010) lalu. Hasilnya, tingkat kelulusan tahun ini sebesar 89% atau menurun tipis dari tingkat kelulusan tahun lalu sebesar 92%.

Berarti jumlah peserta UN yang tidak lulus pada tahun ini akan lebih banyak dari pada tahun lalu. Hal itu juga sebagai dampak pengetatan nilai standar kelulusan dari rata-rata 5 menjadi 5,5.
Masalahnya, apakah siswa-siswi yang tidak lulus UN ini sudah siap mental dalam menerima pengumuman tersebut?

Coba simak saja hasil bidikan wartawan yang memberitahukan bahwa ada siswi di Jambi yang menenggak racun pasca ketidaklulusannya. Meski sempat dilarikan ke rumah sakit, nyawanya tidak tertolong lagi.
Keluarganya yang mengetahui si anak meregang nyawa di kamar ini hanya menemukan secarik surat yang berisi permohonan maaf atas sikapnya tersebut. Terlebih siswa ini hanyalah satu-satunya siswi yang tidak lulus satu sekolahnya.

Begitu juga ada sebuah sekolah di Nangroe Aceh Darussalam. Lebih dari setengah siswa di sekolah tersebut tidak lulus. Lalu siswa yang tidak lulus ini lantas merusak seluruh fasilitas sekolah.
Lalu siapa yang salah dalam hal ini?

Gw tidak akan menyalahkan siapapun dalam hal ini. Namun sebagai pribadi, gw ingin mengajak semuanya introspeksi. Baik dari lingkungan pemerintah, guru ataupun pelajarnya sendiri.
Di tingkat pemerintah seharusnya bisa mencari solusi untuk menekan angka ketidaklulusan UN. Apapun caranya itu (yang penting halal) dan tidak membocorkan soal maupun lembar jawaban UN.

Mungkin ujian susulan itu bisa menjadi solusi. Asal pemerintah menyosialisasikan secara jelas. Masalahnya, banyak pelajar menganggap bahwa tidak lulus UN berarti kiamat. Mereka berpikir,”Lebih baik mengakhiri hidup daripada menanggung malu.”

Sehingga pemerintah harus sedini mungkin menyosialisasikan ujian susulan itu, sambil menyiapkan segala infrastruktur baik secara mental maupun fisik bagi pelajar.

Di sisi guru, tingkat ketidaklulusan pelajar bisa menjadi bahan renungan sendiri. Apakah selama ini cara belajar yang diterapkan sudah benar. Ini bukanlah mengajari bahwa ini yang benar.
Tapi sebagai manusia yang tidak luput dari dosa, alangkah lebih baik untuk introspeksi diri (sebelum digerebek orang tua siswa akibat gurunya tidak becus mengurus anak didiknya).

Sang guru pun harus menyosialisasikan bahwa akan ada ujian susulan bagi pelajar yang tidak lulus UN. Sehingga pelajar harus menyiapkan mental (jika sampai tidak lulus). Di sini peran guru (termasuk orang tua) harus mendampingi sang anak agar tidak melakukan hal tercela, baik bunuh diri hingga merusak fasilitas sekolah.

Terakhir, siswanya sendiri. Apakah kalian sudah belajar dengan benar? Kesuksesan seseorang bukanlah ditentukan oleh orang lain (baik guru, orang tua atau hasil contekan bocoran hasil jawabab), tapi dari hasil pekerjaan sendiri.

Kita pun harus siap mental jika tidak lulus UN. Ingat, gagal dalam UN bukan kiamat boys and girls!! Masa depan masih panjang. So, kalian harus tetap bersemangat untuk mengejar cita-cita kalian.
Alhamdulillah, adik gw bisa lulus dengan hasil memuaskan. Nilai ebtanas murni (NEM)-nya tertinggi ketiga se-Kabupaten Kediri dan masuk 10 besar se-Jawa Timur! Kini tinggal menunggu hasil tes SIMAK Universitas Indonesia setelah minggu lalu gagal masuk tes Universitas Gajah Mada (UGM). Ganbatte bro!!

Anda mungkin juga suka...